Bismillahirrahmanirrahiim..
Kali ini dengan nama Allah gue memulai menulis. Cukup lama kolom ini tak tersentuh. Selama beberapa waktu gue merasa pengumbaran perasaan itu tak perlu lagi dilakukan. Namun saat ini, tulisan ini kembali harus berbicara. Demi sebuah ekspresi yang selama ini terus tertahan, karena tidak ingin proses gue "memahami" itu dinilai sebagai keluhan ataupun bentuk pembangkangan.
Terus terang, gue gak pernah menolak ditempa..bahkan mungkin ini sudah menjadi semacam jalan hidup gue sejak lama, maka seberat apa pun akan gue terima. Mereka yang mengenal baik pun sepertinya paham, karena mereka pun melihat senyum diantara rintihan peluh gue menuju akhirnya.
Entah sejak kapan ini dimulai. Mungkin setelah beberapa persoalan yang mendewasakan itu. Beberapa kehilangan yang membuat remuk. Kemudian dari situ belajar untuk benar-benar "menertawakan kepedihan"
Sejauh yang gue bisa inget, setelah berada di tahap pendewasaan ini..entah berhasil lulus atau tidak; sedih itu tak pernah lagi gue umbar. Sebusuk apapun keadaan gue pantang pesimis. Begitu yakin bahwa Sang Pembuat Takdir tidak pernah pilih kasih.
Faked smile.
Sepertinya juga bukan.
Setiap ujian itu datang, gue tidak pernah menyalahkan siapa pun. Tidak pernah memandangnya hanya dari sisi buruk, karena semakin umur ini bertambah semakin banyak yang harus gue pelajari dan memang sudah seharusnya begitu.
Tak pernah ingin membenci, hanya saja simpati itu hilang seketika.
Untuk beliau yang telah membantu, berjuang bersama, bersusah payah mencarikan jalan keluar, mungkin terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuknya. Gue benar-benar merasa bersalah telah menjadi beban. Meminta maaf karena telah mengecewakan.
Bahkan untuk beliau yang menempa dengan caranya sendiri itupun tak pernah mengguratkan dendam di hati ini. Hanya saja sulit rasanya menerima. Peristiwa ini sedikit banyaknya terasa seperti sebuah ketidakadilan. Dengan menyerahkan diri seada-adanya gue pasrah 'dibentuk' demi tujuan menjadi lebih baik. Satu saja permohonan gue, jangan halangi gue untuk maju. Jangan tutup jalan gue melihat masa depan.
Terutama dari semua ini yang terberat adalah menenangkan hati sang bunda justru di saat hati ini pun gamang. Berpikir bagaimanan memaparkannya dengan ringan, bahwa ini bukanlah suatu hal besar. Bahkan saat ini gue takut untuk pulang.
Gue cuma pengen ngasih sedikit senyuman. Sudah terlalu lama ia menanti.
Saat ini yang ada hanya introspeksi diri.
Mungkin saja gue pernah melakukan hal-hal fatal yang menyakiti orang lain. Bisa saja ada hubungan baik yang menjadi rusak karena gue penyebabnya.
maka menghitung-hitung kesalahan adalah suatu hal yang dikutuk oleh seorang sahabat, karena menurutnya ini bukan tentang semua itu. Dengan caranya sendiri dia menghibur.
Lalu apa?
mungkin saja ini sebagai bentuk pengajaran buat gue. Tentu saja bukan seperti pengajaran yang mereka pahami. Bukan untuk mengingatkan pada generasi berikutnya bahwa hal seperti ini tak seharusnya terjadi. Buat gue, peringatan ini agar gue tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari. Untuk mengingatkan seandainya di masa depan nanti gue lupa, bahwa kadangkala seseorang mungkin saja menggantungkan nasibnya pada gue dan seharusnya kehadiran gue menghadirkan senyum buat mereka, bukan sebaliknya. Sang Pencipta bisa saja tengah benar-benar mempercayai gue hari ini. Menjadi saksi bahwa di masa depan nanti gue akan mengingat rasa ini, kemudian mencegah hal yang sama terjadi.
Ini sistem. Baik. dan harus diakui.
tapi kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa kita manusia. Makhluk sosial. Setiap kata dan perbuatan yang bersinggungan dengan orang lain akan membawa dampak di kemudian hari.
Bukankah yang seringkali membuat jatuh itu adalah kerikil kecil di jalanan?
karena sesuatu yang besar, jika terlihat buruk dengan mudah bisa dihindari.
Menyesal? Tentu saja tidak, karena dari apa yang telah dilalui sepertinya tidak ada kekhilafan fatal. Memang mungkin tidak sempurna, mungkin karakter gue sulit diterima, mungkin saja adaptasi itu belum berhasil.
Tapi, tidak munafik perasaan merasa terzhalimi itu ada. Seperti ketidakadilan yang sedang menerawang di udara yang gue hirup. Sesak.
"Kau tak slalu bisa punya yang kau inginkan"
Gue tau persis makna dari sebait lirik ini.
Tapi bukankah lirik ini harusnya diresapi, dimaknai, dihadapkan pada diri sendiri sebelum dilagukan kepada orang lain?
Bukan otoritas pemaksaan terhadap sosok yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan kediktatoran terhadap dia yang tidak punya kuasa.
Mereka bilang mahasiswa adalah seorang manusia bebas.
Bebas dengan segala argumen, kesempatan, bahkan kesalahan.
Mereka bilang setiap yang nama agung itu lakukan adalah sebuah proses pembelajaran, sehingga tak sepantasnya mendapatkan penghakiman sepihak.
kini, dengan nama agung itu gue kalah.
Dengan nama agung itu gue dipaksa menyerah.
Dengan nama agung itu gue melemah.
Maaf.
Ni May CheersUp ceLaLu
ReplyDelete:D
tengkyu wilda cup cup muach
ReplyDelete:D
Semoga ini yang terakhir, jangan sampai ada yang berikutnya. Amin