Sunday, March 02, 2014

Surat cinta buat Fandi

Ketika ide untuk menuliskan ini tercetus gue merasa punya banyak banget kata untuk disampaikan. Namun, begitu jari-jari menyetuh tombol-tombol pada keyboard detik berikutnya lengang. Gagal memutuskan untuk memilih bagian yang akan menjadi awal. Menentukan hal-hal yang patut disampaikan dengan sekaligus memikirkan kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya kesalahpahaman sehingga memperbesar celah yang sudah terlanjur ada.

Awalnya gue berharap semua pembicaraan ini akan berlangsung dengan tatap mata, sehingga tidak akan terlalu menjadi 'drama'. Kita akan kembali bertukar pikiran, bercakap-cakap layaknya manusia dewasa biasa lakukan. Selanjutnya menghadap malam dengan pemahaman pelajaran baru.

Lalu gambaran rencana yang sejak lama ada di kepala gue ini harus mengalami revisi. Mungkin ada baiknya harus disampaikan satu arah. Menghindarkan kita dari perdebatan tanpa solusi seperti biasa. Saling menyakiti. Jika ini kemudian terasa semakin menjadi 'drama', biarlah untuk sesaat dinikmati. Gue cuma butuh media untuk berbicara. Berharap gue bisa lebih ekspresif melalui tulisan, walaupun Fandi pernah bilang gue selalu berpotensi besar menimbulkan salah paham lewat tulisan. Karena emosi dalam tulisan gue sulit ditebak. Bisa jadi gue bercanda tapi terbaca marah, bisa jadi gue seneng tapi terbaca bosan, dan interpretasi lainnya yang bertolak belakang. Itu yang dulu pernah Fandi khawatirkan.
Kekhawatiran Fandi yang seperti itu pernah bikin gue seneng, merasa dipedulikan.
Kali ini Fandi patut tenang. Gue berada dalam emosi yang luar biasa datar, bahkan gue sempat takut kedataran ini akan lagi-lagi mencegah gue 'mengungkapkan'. Sama seperti yang selama ini terjadi.

Gue terlalu sibuk menimbang, haruskah gue bicara? Akankah jadi lebih baik? Bukankah nanti salah-salah gue malah menyinggung? Bukankah ketika kita kembali pada keadaan 'normal' semuanya sudah selesai?
Jangan sampai malah memperpanjang masalah. Bisa jadi kita berdua belum siap. Nanti ada waktunya.
Mungkin belum sekarang. Mungkin ini hanya emosi sesaat yang hilang begitu gue tenang. Mungkin memang tak perlu ada pembahasan.
Maka yang terjadi ternyata, gue hanya mengulur-ngulur waktu.

Cukup lama gue cuma bengong membaca rangkaian kalimat ini berulang-ulang yang lewat begitu saja tanpa menyisakan cernaan di otak gue hingga kata-kata itu sendiri yang menuntun untuk menceritakan dengan sepenuhnya jujur. Tanpa mempedulikan interpretasi yang akan timbul. Dengan mengesampingkan santun, maka gue kembali mengingat pagi itu..

Jumat pagi.
Sebuah sapaan dari seorang kawan baru yang selanjutnya gue yakin akan menjadi teman baik di kemudian hari. Gue baru aja balik dari dapur celepotan masak buru-buru sebelum berangkat ke kantor. Sapaan yang menarik senyum. Pujian pertama. Kejutan pertama. Orang itu kemudian tiba-tiba sudah ada di depan pintu bahkan sebelum gue siap berangkat.
Ketika ditanya, alesan dia dateng sederhana. Mau nyicipin masakan gue. Senyum gue mengembang sepanjang hari :)

Selanjutnya yang gue tau sejak kenal Fandi hari-hari gue jadi lebih menarik. Seperti menemukan kawan lama yang menyenangkan. Setiap dialog hanya kekonyolan yang pantas ditertawakan bersama. Dari sini gue merasa 'bertanggung jawab' untuk memberikan kegembiraan yang sama.

Selalu berusaha menyanggupi apapun permintaan Fandi.
Bentuk 'tanggung jawab' gue bermula dari tekad ini. Penyanggupannya tak pernah terasa berat. Gue lakukan dengan senang hati tanpa alasan. Gue cuma pengen Fandi ngerasa sama senangnya kayak gue kalo lagi sama Fandi.
"Jangan biarkan yang satu ini menyerah"

Gue sedari awal sudah mempercayakan hal-hal pribadi yang tidak gue bicarakan dengan orang lain, kecuali Fandi. Gue ingin Fandi bersiap atas rumitnya pribadi gue. Gue siap mempercayakan beban yang selama ini gue pikul sendiri.
Maka yang terjadi, justru ternyata Fandi belum siap.

Keluhan pertama, gue gak dewasa.
Dulu gue sempat marah dengan anggapan ini. Gimana bisa orang yang baru kenal gue langsung memberikan penilaian buruk kayak gini. Bahkan menjadi parameter jawabannya akan pertanyaan tentang perempuan dan pasangan hidup.
Pertanyaan besarnya, kenapa harus gue yang menjadi parameter?
Toh gue tidak pernah terobsesi akan ada di masa depan Fandi. Kenapa gue ngerasa seolah-olah Fandi ngasih pernyataan tersirat gue gak pantes buat dia.
Sementara gue memang gak pernah mencoba untuk menjadi kandidat.
Gue marah waktu itu. Kecewa.
Lalu Fandi menjanjikan gue akan mendapat sesuatu yang lebih dari yang gue harapkan. Sesuatu yang akan bikin gue luar biasa seneng. Sampai saat ini gue gak ngerti apa maksud janji itu.
Yang jelas gue pernah merasa direndahkan dengan siratan 'ketidakpantasan' itu.
Tapi, gue diam. Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanyalah hal yang belum gue pahami.
Gue bertahan untuk belajar.

Menurut Fandi gue ngambekan. Pada bagian ini gue gagal menunjukkan bahwa gue yang seperti itu menandakan gue tengah nyaman. Berani menunjukkan emosi negatif, berarti gue percaya. Bahwa gue telah mulai terikat secara emosi dengan Fandi. Bahwa tak ada yang gue tutupi. Bahkan gue pernah mencoba membuka hati terlepas dari Fandi suka atau tidak. Gue ngasih kesempatan buat diri gue sendiri.
Means that, I was asking you to fix me

Setelah itu rentetan keluhan lainnya tentang gue disampaikan bertubi-tubi, hingga dari situ siapa pun bisa menyimpulkan gue bukanlah orang baik. Tidak menyenangkan dan hanya akan selalu menjadi beban. Seiring waktu yang membantu gue semakin menerima, seperti itu juga perkembangan ketidaksukaan Fandi terhadap gue.

Fandi pernah menyerah, gue bertahan.
Fandi menyerah lagi, gue menariknya tinggal.
Walau gue tak bisa menjanjikan apapun di masa depan, gue belum siap untuk kehilangan.
Maka, kembali gue belajar.

Dan ternyata gue tak pernah berhasil, konflik selalu ada. Gue yang selalu menjadi penyebabnya.
Tak peduli sesering apapun gue mengaku diam dan belajar, hukumannya selalu gue dapat. Yang berarti gue salah. Gue gagal.

Sampai akhirnya gue berkata cukup.

Gue gak boleh jadi lebih buruk dari ini.
Di tempat itu, di rumah yang memeluk gue pulang, gue memutuskan untuk berhenti.
Kali ini diam akan berarti selesai.

Akibatnya? Keadaan berbalik. Fandi menarik gue untuk kembali mencoba.
Memang waktu itu di satu sisi gue masih belum siap untuk kehilangan. Namun yang membuat gue menyambut permintaan itu adalah karena Fandi membuat gue merasa bahwa gue berarti buat dia. Bahwa bukan cuma gue yang gak mau kehilangan.
Sehingga pertemuan setelah itu menjadi moment yang paling gue inget di antara yang lainnya.
Seseorang menantikan gue ada dan ditunjukkan secara lugas.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari itu.

Kelegaan gue gak bertahan lama.
Fandi menyatakan keberatan lainnya. Sebuah pengakuan bahwa dia selama ini merasa terbebani. Pada tahap ini gue kembali menegakkan 'benteng'. Menutup hati sebagaimana mestinya.

Pertanyaan besar lagi buat gue.
Jika memang begitu adanya, kenapa gue diminta untuk kembali mencoba?

Gue tetap tinggal dengan membawa pertanyaan itu, sembari mencoba melihat lebih jelas hal-hal yang sekiranya terlewatkan. Gue terus ada di sana, karena gue akan selalu berusaha menyanggupi apapun permintaan Fandi. Gue terlanjur terikat, terlanjur dibuat nyaman dengan usaha-usaha Fandi untuk membuat gue senang.
Ya, yang gue tau Fandi memang sebaik itu. Yang menjadi fokusnya adalah memenuhi semua harapan-harapan gue, menjadi orang yang selalu memikirkan cara untuk membahagiakan gue, bahkan pernah berupaya keras mengiringi gue tanpa diminta meskipun pada akhirnya lelah.

Gue tau, kita sama-sama belajar hanya caranya jauh berbeda.

Seberapapun beberapa hal seringkali memaksa gue menangis marah, kecewa, sedih, perih namun Fandi adalah orang yang selalu menjanjikan pelukan setiap gue butuhkan. Walaupun jarang sekali permintaan maaf yang gue dapat setelah setiap luka, gue gak bisa menepikan begitu saja kebaikan-kebaikan Fandi dalam setiap langkah gue. Terutama menjadi teman di saat gue merasa sendiri. Ketika menjadi topangan di saat gue lelah. Memberikan genggaman tangan di saat gamang. Menawarkan bahu ternyaman untuk direbahi.
Telah lama terbiasa hingga merasa sepenuhnya terikat.
Karenanya, gue merasa 'bertanggung jawab' untuk memberikan kegembiraan yang sama.

Fandi punya kehidupan sendiri yang dipenuhi beban tanggung jawab. Dia pernah bercerita banyak tentang ini. Gue gak bisa membantu apa-apa selain memberikan dukungan.
Memberi hiburan semampu gue di saat gusar. Setidaknya tidak ikut menambahi beban.
Pada saat-saat seperti ini gue harus siap memberikan senyum walaupun merasa kecewa akan beberapa hal, menjadi sasaran amarah yang tenang tanpa membalas. Karena jika tidak, gue akan menjadi sangat egois. Fokus gue, lakukan seperti teman baik.


Hingga suatu hari kenyataan kembali menyatakan gue gagal.
Bahkan kali ini tanpa menyisakan alasan gue untuk tetap tingggal.
Mestinya gue gak harus menunggu diusir dulu baru pergi. Terlambat.


Beberapa pertanyaan sepertinya tidak akan pernah menemukan jawaban.
Seberapa berartinya gue buat Fandi, pernahkah gue menjadi penting, benarkah Fandi takut kehilangan gue, janji seperti apa yang dulu sering Fandi sampaikan, kenapa selama ini gue terus diminta tinggal, kesalahan seperti apa yang pernah gue lakukan sehingga Fandi gak bisa memaafkan, bahkan menutup mata atas usaha-usaha perbaikan dari gue, kenapa menyangkutkan harapan-harapan besar di gue yang jelas-jelas gak bisa gue penuhi, kenapa gue harus memenuhi standar yang selalu kita bicarakan, kenapa Fandi gak pernah bisa nerima gue apa adanya, kenapa gue terus menerus berbuat salah, kenapa bahkan setelah semua ini gue masih gak bisa marah, sampai kapan kita harus saling diam, kenapa harus dipersulit padahal kita bisa membuatnya mudah, kenapa saat ini harus merasa gagal jika sebelumnya kita telah berkali-kali mencoba dan berhasil, kenapa harus selalu menyalahkan cemburu jika sejatinya berarti menyayangi, pernahkah gue bikin Fandi seneng dan...yasudahlah..

Maka setelah ini akan ada banyak hal yang gue rindukan.
Banyak hal yang akan gue inget sambil tersenyum di antara sesegukan

Gue gak akan lagi bisa ngeliat ekspresi ngegemesin fandi monyong-monyongin bibir sambil keningnya berkerut kalo lagi seru cerita, karena menurut dia gue bukan seorang pendengar yang baik. Selalu pamer menimpali cerita.

Gak akan ada lagi yang ngejemput gue buat menikmati jalanan seru-seruan, karena buat Fandi gue cuma bisa rewel, nyebelin, suka bikin dia jadi emosi. Sama sekali  tidak menyenangkan.

Gak akan lagi nguber-nguber bioskop buat nonton karena kepenuhan. Gak akan ada lagi rencana-rencana.

Gak akan ada pembahasan berikutnya walaupun gak semuanya bisa gue sampaikan di sini, karena Fandi gak mau ketemu gue lagi.

Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Walaupun gue merasa beberapa hari belakangan Fandi mencoba kembali bersahabat, gue menghindari terjadinya dialog. Gue takut akan kembali merasa berada di zona nyaman itu. Sementara gue jelas-jelas sudah 'diusir'. Gue harus tau diri.

Gue tidak menyalahkan siapa-siapa, gak mengambil keputusan apa-apa, gue hanya mengikuti aturan main yang sudah dibuat, karena memang gue gak berhak memaksa. Walaupun gue masih ngerasa sangat butuh, Fandi berhak pergi ketika tak lagi merasa nyaman.


Terima kasih telah mencoba, berarti banyak buat gue :)

4 comments:

  1. when somebody left you, dont cry as a result of that would be what it is all about that your going in order to firmly get abundant better one
    "Be There"

    ReplyDelete
  2. Sure. I didn't cry anyway.
    He also didn't limme. It's just about a transformation of a relationship that hurt me.
    But i do know that I'll be alrite :)

    Thanks anyway. Means a lot for me
    *hug*

    ReplyDelete
  3. kadang cinta itu gak bisa dipaksakan dan gak harus saling memiliki!
    dan semuanya pasti digantikan dengan yang lebih lagi uni :)

    ReplyDelete
  4. too late to comment do. Haahaha.
    Yang gini-gini mah so last year :P

    ReplyDelete