Sunday, December 15, 2013

Pemilik bahu nyaman itu...

15 Desember 2013, jadi sampai hari ini udah berapa lama kita saling kenal?
Satu bulan? Dua? Atau lebih..
Gue gak tau persis. Toh, udah ada orang yang selalu repot-repot ngitungin waktunya.
Ga tau dijadiin senjata buat 'nyerang' gue di saat-saat tertentu atau memang tanggal itu penting buat dia.

Sejak kenal yang namanya Fandi Achmad ke-2 (lengkapnya baca 'Please meet...') bikin gue jadi makin ribet terutama kalo dandan. Gue yang notabene perfeksionis jadi kudu lebih detail lagi ngaca tiap kali sebelum berangkat ketemu Fandi.
Gimana gak, kalo setiap dia nemuin kesalahan kecil sama penampilan gue; yang mungkin hampir sebagian besar cowok gak meratiin; ini orang pasti selalu komentar.
Eyeshadow gue lah yang gak terlalu keliatan, bulu mata gue yang kurang lentik, eyeliner gue lah yang gak rata. Ribet pokoknya.
Satu-satunya cowok yang gak pernah bisa berhenti ngatain gue gendut ini terus terang gak jarang bikin gue kehilangan percaya diri. Bikin gue seringkali gak yakin sama diri sendiri tiap kali jalan sama dia.
Selalu tentang fisik. Dicela.
Bahkan belakangan kritikan itu mulai mengarah kepada sifat-sifat jelek gue. Seakan-seakan selalu berusaha menegaskan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri gue.

Keberatan?
Ya, mungkin sedikit.
Fisik adalah sesuatu yang diberikan Sang Pencipta tanpa bisa dirubah. Selama ini pun gue gak pernah protes ke-Dia tentang hal-hal yang menurut orang lain bisa jadi kekurangan.
Gue sadar persis akan semua point-point itu. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam gue bersyukur telah dilahirkan dalam keadaan sempurna. Alhamdulillah hingga saat ini. Dalam wujud ini.
Jadi menurut gue gak seharusnya kita komentar ini-itu tentang hasil ciptaanNya, seolah-olah ngatur Sang Pencipta. Nauzubillah.

Mengenai sifat..
Well, mungkin ini yang agak berat. Sifat buruk tidak pernah menjadi dasar seorang manusia. Ini bisa dirubah. Gue percaya itu. Meskipun kembali lagi kepada besarnya kemauan orang tersebut, serta dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Karenanya jika yang ditekankan adalah sifat, menjadi beban buat gue.
Bukan berarti tak ingin menjadi lebih baik. Hanya saja gue manusia biasa, butuh waktu untuk terus memperbaiki diri. Tidak bisa dipaksakan seketika jadi.
Dan ketika orang lain menjadi tidak sabar akan perubahannya, gue tertekan. Merasa tidak diberi kesempatan.

Dalam kondisi ini gue selalu mencoba berpikir positif. Mencari kutub protonnya, bahwa seseorang mengkritik karena pengen gue jadi lebih baik. Ini yang terus-terusan gue jejalin ke otak dan hati gue tiap kali komentar-komentarnya berasa kelewat nusuk.

Lagipula, terlepas dari semua itu gue tau dia pun berusaha keras untuk mengiringi gue. Menghadapi seorang keras kepala dengan hati sesensitif alergi. Gak gampang.
Gue menyadari usaha-usaha dia buat ngewujudin apa yang gue mau, menyisakan sebagian waktunya buat mikirin omongan gue, sebisa mungkin untuk selalu ada.
Mungkin gue gak pernah terang-terangan ngebahas ini dan berterima kasih.
Dia gak cuma jadi penyebab kekesalan gue, tapi juga sekaligus menjadi salah satu alesan gue tersenyum setiap harinya.
Terutama dia adalah si pemilik bahu ternyaman itu. Tempat gue sejenak merebahkan kepala, bersandar dari rasa lelah. Dia akan selalu ada di situ menjadi penopang. Bahkan dengan konyolnya menjadi orang pertama yang pernah gue sertakan dalam bio twitter gue.
Terima kasih.

No comments:

Post a Comment