Monotonnya zona
nyaman itu sempat gue tinggalkan beberapa saat. Beranjak untuk mengamati,
belajar, mandiri, dan tangguh. Sebagian orang menyebutnya perjalanan menggapai
cita-cita, sebagian lainnya menamakan jalan untuk memperbaiki hidup. Gue
sendiri bahkan tidak tau harus menamainya apa, yang pasti perjalanan ini akan
menempati sebagian kecil mozaik hidup gue. Untuk jadi pelajaran, cerita, bahkan
mungkin penyesalan di hari nanti.
Mmm, mungkin kita
sebaiknya mencoret kalimat terakhir. Tak ada yang layak disesali di hidup ini,
karena bahkan di dalam kegelapan sekalipun ada nyaman yang harus
dinikmati..untuk beristirahat sejenak.
Beberapa hari berada
di negeri asing, jauh dari semua hal yang akrab dengan panca indera memancing
hati untuk jauh lebih merasa. Berpikir lebih dalam. Lebih banyak renungan.
Bertemu kembali
dengan sahabat-sahabat terdekat, bercerita tentang masa-masa yang terlewat
dengan kehilangan satu sama lain, merasakan bahwa masing-masing kami tumbuh.
Mungkin berbeda, tapi toh tak ada salahnya.
Beberapa membentuk
hubungan baru, beberapa melepaskan, sisanya tetap pada keadaan.
Gue mendapat peran
sebagai pendengar, pemerhati, dan sesekali memberi pendapat.
Memperoleh bagian
dalam skenario hidup mereka, kecil sekalipun menjadi kalimat penentu dalam
setiap paragraf cerita gue sendiri. Tentang hubungan yang didasari rasa,
komitmen, dan tak jarang cemburu yang melukai amarah.
Seperti cerita
seorang sahabat yang menolak menyakiti namun tak pernah bisa terlepas dari
perbuatan yang menyakitkan orang yang ia sayangi. Sang sahabat bingung,
terbentur. Memutuskan untuk menyerah dari perjuangan yang sedari awal telah
tampak sia-sia. Pada bagian ini gue mengambil peran sebagai 'pencegah'.
Menemani dia berpikir dalam diam, hingga kemudian dia pun menutur lancar tanpa
hambatan tentang hal-hal yang mengganggu pikirannya.
Kita tertawa. Kita
diam. Kita berdiskusi. Kita mencari jalan. Kita sepakat. Kita kembali diam.
Lalu sahabat lainnya
jenuh mengeluh akan ketidakpedulian yang menurutnya ia dapat. Berapi-api
menutur tentang kekecewaan, sesekali menyelipkan kata-kata kotor pelampiasan
amarah, lantas luruh dalam tangisan emosional.
Gue cukup mengambil
peran sebagai pendengar. Tidak menanggapi apa-apa.
Beberapa hubungan
barangkali terlalu dangkal. Didasari dengan sifat kekanak-kanakkan yang tak
kunjung tumbuh, sehingga hal-hal kecil bisa saja menjadi begitu besar
menyebabkan keretakan.
Sebagian hubungan
bahkan terlalu dalam, terlalu dewasa, hingga menerbitkan kekhawatiran. Paranoid
akan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang belum tentu akan terjadi. Hasilnya
tetaplah berpisah jalan.
Gue pada bagian ini
tidak memperoleh peran untuk menilai, kendati ingin berpendapat semua akan
membaik dengan komunikasi yang baik.
No comments:
Post a Comment