Coba liat deh,
tanggal hari ini lucu yah..
11.12.13
Tanggal cantik.
Biasanya sih
orang-orang suka manfaatin buat bikin moment special di tanggal-tanggal semacam
ini.
Gue? Gue ga
termasuk. Karena menurut gue bukan tanggalnya yang bikin satu moment jadi
special, tapi moment nya yang ngejadiin tanggal itu berarti.
Hari ini takdir
menjebak gue buat punya moment spesial di tanggal yang spesial bersama orang
yang spesial juga tentunya.
Entah akan berakhir
baik atau buruk, gue juga ga tau.
Dari rencana awalnya
sih mestinya hari ini akan menjadi baik, sayang dalam perjalanannya rencana itu
harus sedikit berbelok. Berubah arah menjadi sangat berbeda.
Buruk, karena yang
gue harapkan kejadiannya ga kayak gini.
Niat awal buat
seneng-seneng, seru-seruan ngehabisin waktu sama-sama, ngewujudin rencana
bersama yang sempet ketunda beberapa kali akhirnya gagal total.
Kenapa? Anggaplah karena 'negara api menyerang'.
Jealous. Sifat kekanak-kanakan yang dari dulu sampe sekarang susah banget buat diajak berdamai.
Seketika ngerusak suasana hati, ngilangin kelogisan dalam berpikir saat itu juga.
Ini jadi salah satu faktor utama rencana tadi dipaksa berbelok.
Cuma karena ngeliat hal-hal yang ga seharusnya gue liat, ngebaca tulisan-tulisan yang memang bukan buat gue.
Hasilnya, gue tanpa sadar 'menghukum' subjek dari tujuan tulisan itu dengan sikap diam gue yang memang nyebelin.
Membiarkan orang tersebut bingung, sibuk mengira-ngira apa yang gue pikirkan hingga seringkali terjebak dalam kesalahpahaman.
Padahal jika ditanya sekalipun gue diam bukan untuk 'menghukum', tapi gue diam karena dalam pikiran gue udah terlalu banyak argumen-argumen yang saling beradu ngotot-ngototan.
Ditambah lagi juga harus menekan emosi negatif yang bisa memicu *hujan (Adam so7) tolol itu.
Ketika harus ditambah lagi dengan faktor eksternal kekecewaan, maka meledaklah!
Kata-kata keluar dalam nada tinggi tanpa bisa dikontrol, otot-otot wajah tak mampu lagi mengendor bahkan sesaat untuk tersenyum, sementara sang adrenalin memacu untuk segera menjauh.
Berjalan cepat menghindar. Berlari.
Yang terjadi pada subjek tulisan tadi?
Bingung. Gagal memahami setiap reaksi tanpa kata itu. Akhirnya proton pun terlepas. Sama emosionalnya.
Dalam energi negatif itu dia memilih menyerah.
Ini bagian yang paling gue takutkan.
Dalam kepanikan itu gue harus merebut kembali proton gue sendiri, berusaha melunakkan walaupun sendirinya masih menahan 'hujan'.
Gue memilih mengalah.
Entah akan berakhir baik atau buruk.
Kami harus terlibat dalam pembicaraan yang menurut masing-masing pribadi terlalu cepat dan terlalu serius. Terlalu larut. Terlalu lelah untuk mencerna.
Tapi, ya sudahlah.
Gue hanya mampu memaparkan hal-hal yang gue harap bisa dilihat dari sudut pandang kebijaksanaan.
Mungkin masih penuh tebakan. Samar. Mengambang.
Sifat kekanak-kanakan yang sebelumnya gue paparkan menurut gue belum bisa gue ceritakan secara gamblang. Waktunya tidak tepat. Masih sangat terlalu cepat.
Entah ini akan berakhir baik atau buruk.
Setidaknya usaha itu membantu gue untuk sementara menjauh dari lemari.
Mungkin hanya akan sedikit mengganggu waktu tidur. Tak apalah.
Paling tidak dari sikap yang tadi sempat terbaca, bisa membantu meyakinkan bahwa hati ini cukup bernilai untuknya.
Masing-masing kita masih perlu banyak belajar.
No comments:
Post a Comment