Sunday, January 05, 2014

Kenapa harus takut dengan air mata?

Semua orang tentu pernah menangis. Apapun alasannya airmata merupakan salah satu sarana pengungkapan emosi. Sebagian orang menangis ketika mereka bersedih, sebagian lagi memilih diam dan merenung, sisanya memutuskan untuk tidak berlama-lama di sana dan melupakan.

Namun tangisan tidak selalu memaknai emosi negatif. Individu-individu tertentu menangis justru sebagai bentuk amarah. Melampiaskan kemarahan sesaat dengan menangis tentu lebih baik dibandingkan dengan mengeluarkan kata-kata kasar, mengumpat, berteriak-teriak, menyakiti orang lain yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan masalah baru.

Menangis juga kadangkala merupakan bentuk kepedulian. Seseorang dengan empati yang besar tentu akan mudah tersentuh hatinya dan emosional melalui air mata. Bahkan pada kondisi lainnya seseorang akan menangis ketika ia terlalu bahagia. Ketika tawa tak lagi cukup, seseorang tersebut punya airmata sebagai pilihan berikutnya untuk menegaskan kebahagiaannya.

Beberapa orang malu menangis, tidak mau terlihat emosional, merasa tangisan hanyalah untuk mereka yang cengeng alih-alih memiliki keputihan hati.
Terutama untuk alasan 'kesedihan', orang-orang seperti ini lebih memilih mengeraskan hati, menjadi batu hingga kesedihan itu terlupa dan berlalu. Kendati kemungkinan buruk menjadi seseorang yang tidak berperasaan selalu menghantui.
Tapi, bukankah menangis itu manusiawi?

Kembali menyimak berbagai alasan seorang manusia menangis di atas, air mata tak selalu berarti buruk.
Bukankah dari airmata lahirnya kebijaksanaan akan penerimaan terhadap rasa sakit?
Bukankah dari airmata pengetahuan mengenai kasih sayang yang tulus itu diperoleh?
Bukankah dari airmata terciptanya komunikasi?
Uluran tangan simpati, pelukan hangat, bahkan perasaan terdalam yang kata-kata terhebat pun bahkan tak mampu menanganinya.

Menangis tidak selalu membentuk karakter cengeng, karena airmata itu menyertai kekuatan, kebijaksanaan, ketulusan, dan jujur.
Mereka yang kuat adalah mereka yang pernah menangis tergugu kemudian bangkit ketika airmata itu berhenti.
Mereka yang bijaksana adalah mereka yang pernah luruh tersedu kemudian tersenyum atas rasa sakit setelah semua itu terlewati.
Mereka yang tulus akan mudah terluka akan dosa, jujur mengakui setiap kelemahan, mampu menanggung beratnya beban cinta yang luar biasa mengungkapkannya secara benderang.

Maka menangislah ketika harus. Setiap porsinya akan menuntun pada kebaikan. Tidak ada penghakiman di sana.
Tentu bukan tangisan yang berlebihan. Jika mata itu sudah terlalu sembab, berhentilah di saat yang paling tepat. Maknai dengan hati.

2 comments:

  1. Smile could be a simple way for you to enjoying life, so don't cry

    ReplyDelete
  2. Ahahaha, i don't even write anything about this.
    Trust me, it's all about happiness :)

    ReplyDelete