Sunday, April 20, 2014

Lebih baik

Lebih kurang dua minggu gue terlibat konsultasi serius tentang cerita hidup seorang teman. Hampir setiap hari dalam kurun waktu tersebut gue diberi pertanyaan yang seakan-akan tak kunjung menemukan jawaban yang memuaskan. Tentang kehidupan yang bahkan gue pun jarang mengerti.

Malam terasa begitu panjang selama dua minggu ini. Cerita-cerita itu membuat kami enggan beranjak, sambung menyambung dari satu posisi ke suasana lainnya. Malam seolah tak mengantarkan anginnya yang biasanya menyeramkan. Menahan kantuk menjadi etika sopan santun di antara kami.
Gue duduk di situ, mendengarkan, sesekali menanggapi, bercerita lalu kemudian berakhir dengan bertanya pada diri sendiri.

Cerita ini berat, tapi tak pernah menjadi beban. Terutama buat gue, ini bahkan menjadi sebagian kebanggaan. Sebuah kesempatan untuk belajar tanpa harus ikut mengalami sakitnya, tumbuh bersama seorang dewasa yang tengah berproses menuju jalannya yang lebih baik. InsyaAllah.

Teman ini gue kenal belum dalam hitungan tahun, tapi menyelami ceritanya semacam akselerasi pengenalan pribadi. Seakan mengenalnya cukup lama. Dari ceritanya gue menaksir dia adalah orang baik yang keberuntungannya sedang diuji. Semesta tengah berkonspirasi menempa kedewasaannya.
Gue suka melihat caranya bercerita. Sendu itu nyata di antara kelabu asap rokoknya yang gue benci. Gue melihat bukti kongkrit bahwa manusia dalam gender Adam bisa memiliki rasa selembut Hawa. Dalam hal ini, dia mungkin merasa gue telah mengulurkan tangan membantu. Sebaliknya, gue lah yang merasa sedang dirangkul menghadapi tempaan gue sendiri.

Malam yang tak jarang dihabiskan hingga melebihi batas waktu itu pelan-pelan terasa sangat singkat tanpa terkendali. Mendengar ceritanya seakan menjadi candu kebutuhan jiwa gue.
Dia butuh teman untuk mendengarkan, gue senang mendapatkan teman tanpa alesan apapun.

Gue pernah berada di situ, perasaan butuh yang teramat sangat akan orang yang selalu siap ada. Gue berusaha menjadi orang itu.
Bisa jadi ini pun menjadi ujian gue terhadap pelajaran yang telah diberikan beberapa waktu yang lalu. Tahunan pembelajaran.

Setiap pertanyaannya yang gue jawab dianggukkan dengan emosi keyakinan. Gue merasa dibutuhkan.
Menyenangkan.

Setiap pagi gue akan menemukan sapaannya. Sapaan sepi namun renyah meminta tawa.
Sore, akan ada ajakan yang tak menyertakan penolakan bersamanya. Lalu malam akan kembali berlanjut seperti paragraf ke dua.
Hidup seperti masa muda; kurang tidur, tertawa, bergaul dengan malam, tos wajib di depan pagar, berakhir dengan saling mendoakan sebelum tidur.
Tak ada yang lebih baik dari itu. Terima kasih.

Gue telah menemukan sahabat itu.

No comments:

Post a Comment