Alkisah dua orang anak muda, karyawan swasta, pernah
mengikrarkan janji akan menapaki sebuah perjalanan penuh arti. Berkeliling
menikmati kota, menghilangkan kejenuhan dengan penuh penghargaan pada setiap
keindahan yang mulai terabaikan karena terbiasa. Mereka bertekad suatu saat
mereka akan berada di sana, di dalem bis keliling gratis itu....
The City Tour *efek dramatis*
Well, here we were...
Hahaha
Hahaha
Berlandaskan alesan pengen manfaatin hari terakhir menjelang Ramadhan gue dan Defri memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk merasakan si double decker ini.
Ya kurang lebih mewujudkan cita-cita konyol kita keliling kota yang padahal saban hari juga dilewatin. Norak aja pengen ngerasain lagi yang namanya bis bertingkat gitu kan.
Yah sebagai generai 90an bis ini pernah merajai masa kecil kita berdua. Sekarang saatnya kembali tahta itu direbut :D
Pagi-pagi vespa itu udah nongol di depan pintu, dikendarai oleh abang-abang berkacamata, gaya-gayaan pake syal. Biar keren katanya.
Gue gamau kalah eksis, nyobain lipstick baru yang bikin gue sendiri aja syok apalagi si abang-abang itu.
| Ini nih yang gue maksud |
Sebenernya kejadiannya murni kecelakaan -____-"
Gue ga nyangka hasilnya bakal segitu menornya, tapi apa daya mau ngapusin lagi si abang-abang keburu dateng. Yaudah sekalian aja nyemplung sok aksi pake lipstick merah merona di terangnya cuaca.
Berangkat dari halte Bunderan HI khusus city tour bus, Defri (abang-abang.red) keranjingan kayak bocah dibawain mainan. Ngakunya seneng banget bisa nungguin bis di halte. Girang banget. Apabae? -___-"
Sepanjang perjalanan riweh motoin ini itu, kayak turis beneran. Padahal yang mau difotoin cuma barang-barang antik semacam metro mini, kopaja, bahkan bajaj.
What a slow journey!
Namanya juga bis pariwisata yang memang ditujukan buat nunjukin sembari ngedenger penjelasan tentang tempat-tempat bersejarah yang kita lewatin. Jalannya pelaaaan banget.
Bosen sih sebenernya, karena tempat-tempat tersebut udah terlanjur biasa kita liat. Tapi serunya jalan sama sohib sambil ngecengin ini itu bosennya jadi ga berasa.
Selesai dari situ kita lanjut ke Museum Nasional.
Iya bener, gue ga salah tulis kok. Kita memang jalan ke museum. Kita kurang 'nuris' apalagi coba?
Lagi-lagi ke sana tuh cuma buat ngecengin ini itu, walaupun pada dasarnya kita tetep mengakui kreativitas nenek moyang itu pada keren-keren. Semua provinsi dijajal. Unik. Cantik. Menarik. Beberapa diantaranya mistis malahan. Tapi ya dasar otek bener, ada aja yang dijadiin bahan buat lucu-lucuan. Kita durhaka sama nenek moyang. Ampuuun..
Beranjak ke sebelah, ternyata sedang digelar pameran lukisan. Belagak jadi seniman kita lagi-lagi jail ikut di sini. Lumayan bisa nyenengin Defri yang katanya seneng gambar, walaupun gue belum pernah dikasih liat hasilnya.
Mungkin sama halnya kayak gue dengan dunia menulis, lebih banyak motivasi 'iseng'nya ketimbang mencoba menjadi profesional.
Pamerannya menarik, walaupun ga banyak yang gue mengerti. Namun ada beberapa lukisan yang meaning banget menurut gue. Entah interpretasi gue salah atau pun benar, maknanya tetaplah menarik.
Ada lagi buraq, makhluk yang dipercaya merupakan kendaraan Nabi Muhammad SAW dalam peritiwa Isra' Mikraj. Akan tetapi, buraq yang ada di sini sepertinya lebih digambarkan kepada yang biasa dibuat oleh masyarakat Pariaman, Sumatera Barat dalam acara tabuik. (Indonesia travel). Demi apa buraq yang gue lihat di sana completely spooky. Gue bukan orang yang percaya mistis dan memang yang gue maksud jauh dari kesan itu, tapi mungkin karena penempatan yang tepat atau memang bentuknya, gue takut deket-deket buraq itu. Hiiiii...
Sesekali ke tempat seperti ini tuh ternyata bermanfaat. Banyak moral story nya. Tentang pengunjung.
Sebuah keluarga, orang tua yang membebaskan rasa keingintahuan dari anaknya, menjelaskan secara sederhana, mendidik dengan cara yang mulai terlupakan untuk diterapkan.
Wisatawan luar yang membawa serta kamera canggih, sibuk memotret ini itu, tak peduli bahwa pada faktanya dia terlihat 'asing' dengan kamera tersebut. Canggung.
Ada lagi cewek trendy, wass wiss wuss fasih berbahasa Inggris sembari ngejelasin hal-hal kepada bule yang entah dia benar-benar tertarik dengan penjelasan tersebut atau tidak. 'Cewek itu' adalah salah satu gambaran dari cita-cita konyol gue yang lama ga gue jenguk lagi.
Gue ga ngerti, kemanapun gue pergi sama si abang-abang ini perjalanannya pasti jadi seru. Ga peduli kita jalan ga tentu arah, ga jelas tujuannya apa, hasilnya tetep cekikikan di sana-sini. Seru!
Apa gue harus selalu berterimakasih kepada beliau karena telah menjadi teman yang sangat menyenangkan? Sampai kapan? Sampai gue mati mungkin. Semoga :)
What a slow journey!
Namanya juga bis pariwisata yang memang ditujukan buat nunjukin sembari ngedenger penjelasan tentang tempat-tempat bersejarah yang kita lewatin. Jalannya pelaaaan banget.
Bosen sih sebenernya, karena tempat-tempat tersebut udah terlanjur biasa kita liat. Tapi serunya jalan sama sohib sambil ngecengin ini itu bosennya jadi ga berasa.
Selesai dari situ kita lanjut ke Museum Nasional.
Iya bener, gue ga salah tulis kok. Kita memang jalan ke museum. Kita kurang 'nuris' apalagi coba?
Lagi-lagi ke sana tuh cuma buat ngecengin ini itu, walaupun pada dasarnya kita tetep mengakui kreativitas nenek moyang itu pada keren-keren. Semua provinsi dijajal. Unik. Cantik. Menarik. Beberapa diantaranya mistis malahan. Tapi ya dasar otek bener, ada aja yang dijadiin bahan buat lucu-lucuan. Kita durhaka sama nenek moyang. Ampuuun..
Beranjak ke sebelah, ternyata sedang digelar pameran lukisan. Belagak jadi seniman kita lagi-lagi jail ikut di sini. Lumayan bisa nyenengin Defri yang katanya seneng gambar, walaupun gue belum pernah dikasih liat hasilnya.
Mungkin sama halnya kayak gue dengan dunia menulis, lebih banyak motivasi 'iseng'nya ketimbang mencoba menjadi profesional.
Pamerannya menarik, walaupun ga banyak yang gue mengerti. Namun ada beberapa lukisan yang meaning banget menurut gue. Entah interpretasi gue salah atau pun benar, maknanya tetaplah menarik.
Ada lagi buraq, makhluk yang dipercaya merupakan kendaraan Nabi Muhammad SAW dalam peritiwa Isra' Mikraj. Akan tetapi, buraq yang ada di sini sepertinya lebih digambarkan kepada yang biasa dibuat oleh masyarakat Pariaman, Sumatera Barat dalam acara tabuik. (Indonesia travel). Demi apa buraq yang gue lihat di sana completely spooky. Gue bukan orang yang percaya mistis dan memang yang gue maksud jauh dari kesan itu, tapi mungkin karena penempatan yang tepat atau memang bentuknya, gue takut deket-deket buraq itu. Hiiiii...
Sesekali ke tempat seperti ini tuh ternyata bermanfaat. Banyak moral story nya. Tentang pengunjung.
Sebuah keluarga, orang tua yang membebaskan rasa keingintahuan dari anaknya, menjelaskan secara sederhana, mendidik dengan cara yang mulai terlupakan untuk diterapkan.
Wisatawan luar yang membawa serta kamera canggih, sibuk memotret ini itu, tak peduli bahwa pada faktanya dia terlihat 'asing' dengan kamera tersebut. Canggung.
Ada lagi cewek trendy, wass wiss wuss fasih berbahasa Inggris sembari ngejelasin hal-hal kepada bule yang entah dia benar-benar tertarik dengan penjelasan tersebut atau tidak. 'Cewek itu' adalah salah satu gambaran dari cita-cita konyol gue yang lama ga gue jenguk lagi.Gue ga ngerti, kemanapun gue pergi sama si abang-abang ini perjalanannya pasti jadi seru. Ga peduli kita jalan ga tentu arah, ga jelas tujuannya apa, hasilnya tetep cekikikan di sana-sini. Seru!
Apa gue harus selalu berterimakasih kepada beliau karena telah menjadi teman yang sangat menyenangkan? Sampai kapan? Sampai gue mati mungkin. Semoga :)


No comments:
Post a Comment