"Apa kabar, May?"Seperti template, pernyataan yang terlontar spontan itu seolah-olah sudah menjadi trademark gue. Jawaban default yang gue bahkan sudah lupa kapan pertama kali gue pakai sehingga terbiasa.
"Alhamdulillah, selalu cantik dan bahagia"
Sebagian orang akan menganggap ini seperti jawaban seorang yang sombong, jumawa tak terhingga. Sebagian lainnya memilih tidak terlalu ambil pusing jika mengingat karakter gue akan selalu menciptakan hal-hal aneh tak terduga seperti itu.
Berbicara mengenai sombong, kayaknya gue sama sekali gak berada di sana. Sombong adalah ketika suatu hal terasa sebagai suatu kelebihan, kemudian disiarkan dengan bangga bermaksud pamer. Gue pada dasarnya tak pernah merasa terlalu cantik, apalagi untuk dibandingkan. Gue penganut keras sebuah proverb "Everything has its own beauty, but not everyone has sees it". Maka, merasa cantik tak lebih dari sekedar bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan dalam sebaik-baik bentuk.
Lalu bahagia?
Sama seperti cantik, menurut gue perasaan ajaib ini merupakan pilihan. Seburuk-buruknya keadaan seseorang, ketika ia memilih untuk bahagia maka keadaan buruk tersebut tak ubahnya seperti luka goresan di kaki. Mungkin perih, mengganggu, tapi tidak menghalangi seseorang untuk terus melangkah. Setelah terbiasa, maka luka gores itu akan terlupakan hingga sembuh. Seolah-seolah sebelumnya tak pernah berada di sana.
Lantas, sudahkah hidup gue seindah filosofi-filosofi itu? Seringan perumpamaan yang selalu gue pakai?
It's easier said than done, huh?
Ada baiknya gue menceritakan terlebih dahulu asal muasal jawaban yang terlahir ketika gue pernah berada di titik jatuh itu.
Gue menyebutnya titik jatuh karena pada masa itu sebuah kejadian memang pernah mengikis habis percaya diri gue. Sebuah takdir yang sangat lambat dicerna, sehingga detail perihnya terasa berlebihan.
Setiap kebahagiaan terasa semu, waspada akan perih di baliknya. Pujian hanya terasa seperti alkhohol yang ditebarkan ke udara. Hilang seketika.
Gue rasanya jauh dari rasa syukur. Durhaka pada Sang Pencipta.
Maka, sekali lagi..bahagia adalah pilihan.
Jenuh dengan kemuraman yang membuat gue bergerak di tempat memacu gue untuk memilih. Memilih bahagia.
Sejatinya yang membawakan pilihan itu adalah ketakutan gue akan menjadi manusia yang kufur nikmat.
Pelan-pelan gue mensyukuri semua yang terlupa. Benang perak itu mulai merambati setiap pembuluh darah gue, memecut endorfin, menyunggingkan bibir yang lelah tertelungkup. Senyum.
Kebahagiaan tak akan pernah datang dengan tangan kosong. Bersamanya sinar-sinar cantik akan memantul di setiap wajah penikmatnya.
Alhamdulillah, selalu cantik dan bahagia adalah sugesti awal gue memulai pilihan itu. Gue kehilangan percaya diri, maka gue harus merasa cantik terlebih dahulu. Gue gak akan menyebut ini menipu diri, karena merasa cantik wajib buat seluruh perempuan di muka bumi. Bukan untuk membandingkan diri satu sama lain dan menyombong.
Tidak akan ada celah untuk kesombongan, karena tidak akan ada persaingan dari cantik yang berbeda. Cantik yang dimiliki oleh setiap individu.
Sugesti itu sepertinya berhasil, melihat keadaan gue di hari ini. Tak ada lagi mendung yang menggantung. Gue gak pernah menimbun titik jatuh itu agar gue gak pernah lupa bahwa di sana terdapat lubang. Gue membiarkannya tetap di sana sebagai memoar pembuktian gue sudah berhasil.
Pertanyaannya, selalukah hidup gue seindah filosofi-filosofi itu? Seringan perumpamaan yang selalu gue pakai?
Gue menjawab 'tidak'
sembari tersenyum.
Untuk itu lah template Alhamdulillah, selalu cantik dan
bahagia menjadi default. Gue masih
selalu membutuhkan sugesti baik tersebut. Untuk tak pernah lupa berucap syukur.
Untuk memberi penghargaan setinggi-tingginya terhadap diri sendiri, bahwa
setiap perempuan itu cantik dan selalu layak bahagia.
No comments:
Post a Comment