Sunday, October 16, 2016

Phone's rang.
Caller ID: *one of my BFF.

"Hei!"
"Ya"
"Lagi di mana? Di luar kah?"
"Enggak kok. Ada apa?"
"Gapapa, cuma pengen nanya kabar lo doang. Kayaknya udah lama juga lo gak cerita apa2. Biasanya gue suka dikabarin........"


Kalimat yang terakhir kayak langsung nyentil bikin nangis. Pernyataan yang bilang bahwa ada seorang teman yang merasa kehilangan; bahwa dia peduli. Gue menolak jujur, menahan sekat di tenggorokan, walaupun dulu gue terbiasa membiarkan orang ini menjadi a shoulder to cry on.

Seperti bertepatan dengan settingan waktu gue banyak mengeluh, bercerita pada diri sendiri tentang sepi, sibuk berimajinasi tentang lawan bicara; kemudian Allah menghadirkan dia.
Seperti ditampar harusnya gue gak perlu sedih-sedihan cengeng merasa kayak gak punya temen. Seakan-akan yang lama dekat terus menjauh dan yang baru tak berani menyapa. Mereka di sana. Gue yang diam di tempat.

Orang ini terus bercerita, mencoba bertanya, menunjukkan kepeduliannya, memancing ceria agar percakapan kami lebih ramah dan hangat.
Gue telah menjadi introvert.

Kami bahkan kehilangan bahan pembicaraan, which never happened before.
Gue tidak lagi menjadi teman yang menyenangkan.

Mungkin itu kata kuncinya, menjelaskan kenapa makin ke sini gue makin sendiri.
Tidak lagi menjadi pendengar yang baik. Terlalu pasif. Tidak lagi membantah setiap keluhan dengan patahan sarkas. Tidak lagi membantu menertawakan kepedihan.

I failed my self.

No comments:

Post a Comment