Here I am! On February, 27th again..
Terhitung hari ini udah 2 taun ya. Dua tahun sejak gue memulai satu fase yang saat ini terasa seperti..yah, sesuatu yang belum masih bisa gue pahami pengajaran seperti apa yang gue dapat dari sana (a gank. red) . Hari ini entah gue 'berusaha' mengingat-ingat atau memang sudah seharusnya gue inget, setiap alurnya seolah-olah mengajak gue untuk kembali ke sana.
Bukan. Bukan dalam artian secara harfiah, tapi kembali menjenguk ingatan itu.
Beberapa hari yang lalu sewaktu Babon ujug-ujug maksa gue bolos kerja buat nemenin dia makan siang, kita sempet ngebahas ini. Mau gak mau dia termasuk salah satu tokoh yang mempengaruhi keberadaan gue di sana. Pembahasan tanpa 'hambatan' itu menegaskan kesimpulan yang gue ringkas selama ini. Kita punya pemikiran sama. Kesimpulan berikutnya, bahwa ternyata gue gak sepenuhnya melibatkan perasaan pribadi dalam keputusan untuk angkat kaki itu. Ternyata emang gue gak pernah cocok di sana.
Setelah 2 tahun mengenal, mencari tau, berusaha memahami gue masih belum menemukan apa-apa selain rasa sakit.
Apa gue akhirnya menjadi seorang pendendam?
Gue pernah bertahan pun demi menanti sebuah hikmah.
Berulang kali gue coba meyakinkan diri bahwa pada akhirnya semua kesakitan itu akan berbuah manis. Tapi, bahkan saat ini gue masih berada di tempat yang sama.
Kendati tanpa diserta emosi buruk, hikmahnya masih belum terlihat.
Gue hanya bisa menyimpulkan bahwa di sana gue pernah mendapatkan penempaan diri.
Bahwa tidak semua orang yang mengaku paham akan memahami.
Bahwa dunia terkadang kejam itu nyata.
Pernah gue berandai-andai gue tidak pernah ada di sana. Akankah lebih baik?
Akankah keinginan itu terwujud?
Gak lama sih, karena gue gak pernah suka berada dalam penyangkalan. Pada akhirnya gue lebih memilih memaksa diri untuk pergi, baik dari penyangkalan maupun dari harapan yang tidak sesuai impian.
Gue toh sudah menemukan cara tersendiri agar lukanya tidak memborok nanah.
Gue sudah belajar untuk tak lagi peduli, meski itu berarti kita tidak lagi akan bertegur sapa.
Tak apalah. Demi sesuatu yang lebih baik.
Semoga...
Terhitung hari ini udah 2 taun ya. Dua tahun sejak gue memulai satu fase yang saat ini terasa seperti..yah, sesuatu yang belum masih bisa gue pahami pengajaran seperti apa yang gue dapat dari sana (a gank. red) . Hari ini entah gue 'berusaha' mengingat-ingat atau memang sudah seharusnya gue inget, setiap alurnya seolah-olah mengajak gue untuk kembali ke sana.
Bukan. Bukan dalam artian secara harfiah, tapi kembali menjenguk ingatan itu.
Beberapa hari yang lalu sewaktu Babon ujug-ujug maksa gue bolos kerja buat nemenin dia makan siang, kita sempet ngebahas ini. Mau gak mau dia termasuk salah satu tokoh yang mempengaruhi keberadaan gue di sana. Pembahasan tanpa 'hambatan' itu menegaskan kesimpulan yang gue ringkas selama ini. Kita punya pemikiran sama. Kesimpulan berikutnya, bahwa ternyata gue gak sepenuhnya melibatkan perasaan pribadi dalam keputusan untuk angkat kaki itu. Ternyata emang gue gak pernah cocok di sana.
Setelah 2 tahun mengenal, mencari tau, berusaha memahami gue masih belum menemukan apa-apa selain rasa sakit.
Apa gue akhirnya menjadi seorang pendendam?
Gue pernah bertahan pun demi menanti sebuah hikmah.
Berulang kali gue coba meyakinkan diri bahwa pada akhirnya semua kesakitan itu akan berbuah manis. Tapi, bahkan saat ini gue masih berada di tempat yang sama.
Kendati tanpa diserta emosi buruk, hikmahnya masih belum terlihat.
Gue hanya bisa menyimpulkan bahwa di sana gue pernah mendapatkan penempaan diri.
Bahwa tidak semua orang yang mengaku paham akan memahami.
Bahwa dunia terkadang kejam itu nyata.
Pernah gue berandai-andai gue tidak pernah ada di sana. Akankah lebih baik?
Akankah keinginan itu terwujud?
Gak lama sih, karena gue gak pernah suka berada dalam penyangkalan. Pada akhirnya gue lebih memilih memaksa diri untuk pergi, baik dari penyangkalan maupun dari harapan yang tidak sesuai impian.
Gue toh sudah menemukan cara tersendiri agar lukanya tidak memborok nanah.
Gue sudah belajar untuk tak lagi peduli, meski itu berarti kita tidak lagi akan bertegur sapa.
Tak apalah. Demi sesuatu yang lebih baik.
Semoga...
No comments:
Post a Comment