Tuesday, March 05, 2013

Facebook

Lebih kurang 4 tahun berkenalan dengan jaringan ajaib ini, ada baiknya kita mulai mengkaji hal-hal yang telah terjadi selama tahun-tahun itu.

Belakangan facebook emang rada-rada malesin sih ya, lantaran fenomena aL4Y (alay.red) mewabah luas di sana. Entah kenapa tiba-tiba facebook lebih sering menampilkan update-an dari orang-orang yang ga dikenal deket ketimbang people in circle itu sendiri. Anehnya para unknown people itu seringkali ga disadari bagaimana caranya mereka tiba-tiba 'menyusup' di akun-akun yang sedikit lebih berkelas dan dewasa. Ujug-ujug ngeksis trus ngedepak orang-orang yang gak tahan sama kelakuan mereka keluar dari facebook.
Seringkali kita mendengar "yang waras ngalah".
Akibatnya berupa-rupa macam orang mengeluhkan fenomena aneh facebook ini.

Namun, jika ditelaah lagi mungkin sebagian 'pengeluh' ini lupa bahwa facebook pernah berjasa banget buat mereka.
Lewat facebook mereka bisa ketemu lagi sama temen-temen lama, narsis pamer-pamer foto, numpang iklan gratis, bisa tiba-tiba ikut keundang ke kawinan-kawinan lantaran yang ngundang juga ga mau repot mensortir undangannya trus maen ngeklik 'invite all' aja. Nah buat anak kos ini biasanya aji mumpung banget bisa makan enak gratisan. Dari facebook juga mereka bisa punya temen-temen baru, gebetan, bahkan pacar.

Trus kemana orang-orang ini? Rata-rata sih bakalan mentok di twitter.
Di sana bisa berkicau sebebas-bebasnya. Kebablasan. Trus rame-rame di-unfollow. Tragis.
Gue mungkin termasuk di golongan ini. Hahaha..

Beberapa hari yang lalu gue nyoba ngotak-ngatik facebook lagi. Baca-baca, stalkingin profile page orang-orang, ngikutin update-an status-statusnya, bahkan ngekepoin komen-komennya.
Lalu apa yang gue temui?
Facebook kembali terasa menarik.
Mungkin karena kebetulan akun-akun yang gue stalkingin itu memang akun-akun yang bermutu.
Akibatnya, gue ngerasa kayak ngedadak dapet motivasi baru, karena beberapa akun memaparkan gimana menariknya hidup mereka.

Sebut saja Nilna R. Isna temen SMA gue, kuliah di kedokteran jurusan Kesehatan Masyarakat. Di bio nya dia nulis tulisan yang panjaaaang banget, tapi coba dibaca deh, tulisan itu menarik; memotivasi; dan membantu kita kembali menemukan jati diri. I mean gue secara pribadi malah jadi kebawa buat nyelamin diri gue lebih dalam lagi melalui dia.

Terus ada Hukama Hamid. Junior gue di kampus, angkatan 2009 Teknik Lingkungan. Komting.
Itu statusnya asli kocak sekocak-kocaknya.
Melintirin perut sampai keluar airmata buat ketawa.
Sekilas kalo orang-orang ga bener-bener meratiin bakal terkesan autis. Update status panjang lebar, dalam frekuensi yang cukup sering, pakai bahasa norak pula. Tapi gue ga bakalan bilang dia alay, lantaran emang bukan. Dia lebih pantas disebut kreatif, nyentrik, dan bebas.
Huka bisa dikatakan sebagai seorang observer, pengamat yang baik, lalu memaparkan setiap kejadian itu dengan 'cerdas'.

Selama ini kita kayak terkungkung sama istilah 'alay' untuk berekspresi.
Menurut gue sih, alay bukan dinilai dari seberapa 'eksis' mereka di jejaring sosial, seberapa ekspresif mereka dari tulisan tulisan mereka.
Semua tergantung seberapa intelek ekpresi itu dipaparkan. Jika dikemas dalam humor cerdas status-status ngeyel itu bakal jadi komedi absurd banget. Ngehibur. Juara.
Tapi kembali lagi kepada selera humor yang ngebaca sih.
Kalo masih kekeuh jaga gengsi, soksok-an cool, skeptis dalam arti kata sempit, secerdas apapun humornya ga bakal ngegelitik juga
Juga kalo terus-terusan kekungkung sama ke-cool-an untuk tidak berekspresi, lama-lama bisa aja kita berkembang menjadi orang yang kaku.

Kalopun emang ngerasa keganggu, simpel sih tinggal diremove. Dengan begitu gangguan itu akan selamanya ilang, ga perlu lagi berisik sana-sini ngatain si pengganggu itu. Dosa.

Tapi yang paling penting menurut gue, akan lebih baik kita tidak mengkotak-kotakkan karakter seseorang. Gak perlu ngerasa lebih baik dari siapapun. Allah juga pernah bilang koq, setiap orang yang hidup di dunia ini pasti bermanfaat buat manusia lainnya. Tergantung point of view nya aja sih
Memilih berpandangan luas dan positif atau kekeuh menjadi sempit dengan dugaan telah menjadi keren. Tentu saja dugaan ini sepenuhnya salah.

No comments:

Post a Comment