14 Mei 2011,
di sebuah pulau yang entah apa namanya..
dengan diawali perjalanan ekstrim, mendaki bukit, jalan sempit berlubang dengan jurang tanpa pembatas
maka pada akhirnya yang kami temukan adalah keindahan alam tiada tara
Kurang lebih 2 tahun yang lalu di hari Sabtu, delapan orang manusia ababil (sebut saja Maya, Umank, Telly, Sisil, Rido, Pidin, Ade, dan Dimas) mencoba petualangan baru ke sebuah pulau tak terjamah yang notabene ternyata masih berada dalam kawasan Kota Padang.
Dibekali modal dari investor manusia-manusia berulangtahun di antaranya, mereka memulai langkah di pagi itu. Semua lengkap dengan stelan ala-ala pantai siap nyebur begitu ngeliat air. Terkecuali seorang pemuda kurus keriting yang kita sepakati memanggilnya Dimas, datang dengan kemeja rapih, celana jeans panjang, sepatu keds, dan tas persis mahasiswa mau kuliah. Mereka menertawakan tanpa pernah tau fakta mengejutkan bahwa ternyata Dimas telah mempersiapkan celana renang hitam ketat seksi yang tak pernah dilepas selama berada di pulau itu.
Motor distarter
Mereka melaju ke batas kota dengan tuntunan dari 3 orang pemandu yang telah mereka sewa
sebelumnya. Perjalanan tersebut ternyata jauuuuuh tanpa ujung. Melahirkan
ketakutan bahwa mungkin saja mereka tengah terjebak dalam
drama penculikan. Dramatis.
Hingga sampailah pada suatu hamparan jalan raya yang sepi, para pemandu
tersebut membelokkan arah ke jalan tanah sempit berbatu tajam. Kecepatan tidak dikurangi. Terus melaju
masuk ke sebuah perkampungan kecil, berpapasan dengan beberapa orang penduduk
setempat yang semakin lama semakin jarang terlihat, bertemu hutan, bahkan jurang dalam berbahaya. Suasana makin mencekam
ketika diketahui bahwa salah seorang dari anggota rombongan belum memiliki jam
terbang pengendara sepeda motor yang mumpuni untuk diajak berpesta bersama
kondisi jalan yang carut marut.
Mereka sempat nyaris akan menyerah. Namun, dengan senyum sinis pernyataan
tantangan dari para pemandu itu, motor kembali dihidupkan. Perjuangan ini harus
dituntaskan! Dramatis.
Hingga setelah rasanya berjam-jam menempuh perjalanan pahit mereka sampai
pada sebuah dataran perkampungan sepi di negeri antah berantah. Perjalanan
tersebut telah menampakkan ujungnya. Kembali merasakan hangatnya matahari pagi,
menghirup udara lepas, mereka sampai di sebuah pantai perkampungan Sungai
Pisang.
Menitipkan kendaraan di rumah penduduk setempat, mereka melanjutkan
perjalanan menggunakan perahu untuk
menyeberang ke pulau kecil itu. Inilah yang mereka temukan...
Subhanallah..
![]() |
Berhamburan melupakan waktu dan usia. Tak ada lagi batasan.
Tanpa tertahan lagi, alam pun mereka cumbui.
Entah melewatkan berapa kali ompolan. Sehari penuh tanpa mempedulikan kulit yang semakin menghitam. Sunblock pun sepertinya tak lagi mempan. Yang mereka tau hanyalah menikmati alam.
Cuma beberapa orang diantaranya yang bisa berenang. Toh, tak menyurutkan ambisi untu menyapa terumbu karang itu. Membiarkan ikan-ikan kecil menggigiti tangan-tangan mereka.
Bahkan nekat pasrah dihanyutkan oleh samudera hingga berada jauh di tengahnya. Tanpa bisa berenang.
Seorang pemuda, sebut saja Ade bahkan terombang-ambing tak tentu arah dalam usahanya belajar berenang. Menggenjot pantat dengan susah payah, jumawa merasa diri telah jauh berenang di saat pertama kali mencoba, kemudian mendapati diri ternyata masih tetap di tempat. Sungguh sebuah ironi.
Dua orang lainnya (nama kita samarkan menjadi "Umank" dan "Pidin") malah asyik pacaran. Seolah-olah cuma mereka berdua yang ada di sana. Biarlah. Biarkanlah saja seperti itu. Mereka tetap masih ada di dalam lingkaran. Tidak masalah.
Dimas, pemuda berkemeja yang sebelumnya telah diperkenalkan sibuk dengan aksi akrobatik autisnya melompat ke sana-kemari.
Ia tampak seperti bocah-bocah pulau di kampung halaman.
Tak apalah, dialah sang investor dengan modal terbesar. Ia layak menikmati dunianya.
Lalu apa yang terjadi dengan nama-nama lainnya?
Tak adakah cerita tentang merea di episode ini?
Ah, tidak usahlah berpanjang lebar membahas mereka. Kita sudah bisa menebak apa yang mereka lakukan. Bermain air tentunya.
Akhirnya sore pun datang. Matahari seolah tenggelam terlalu cepat.
Di antara semua rasa letih itu ada keinginan untuk tetap tinggal.
Lebih lama lagi bermesraan dengan pulau yang entah kapan akan mereka kunjungi kembali itu.
Membawa perasaan bahagia memulai kembali manapaki jalan fenomenal yang kali ini akan lebih diperparah dengan kegelapan malam. Tapi semuanya telah terbayar. Lelah pun tak jadi soal.
Menyeberang kembali ke perkampungan ditemani temaram surya tenggelam.
hingga beberapa hari kemudian
Ia tampak seperti bocah-bocah pulau di kampung halaman.
Tak apalah, dialah sang investor dengan modal terbesar. Ia layak menikmati dunianya.
Lalu apa yang terjadi dengan nama-nama lainnya?Tak adakah cerita tentang merea di episode ini?
Ah, tidak usahlah berpanjang lebar membahas mereka. Kita sudah bisa menebak apa yang mereka lakukan. Bermain air tentunya.
Akhirnya sore pun datang. Matahari seolah tenggelam terlalu cepat.
Di antara semua rasa letih itu ada keinginan untuk tetap tinggal.
Lebih lama lagi bermesraan dengan pulau yang entah kapan akan mereka kunjungi kembali itu.
Membawa perasaan bahagia memulai kembali manapaki jalan fenomenal yang kali ini akan lebih diperparah dengan kegelapan malam. Tapi semuanya telah terbayar. Lelah pun tak jadi soal.Menyeberang kembali ke perkampungan ditemani temaram surya tenggelam.
hingga beberapa hari kemudian
Hari-hari berjalan seperti biasa. Delapan orang itu menjalani kehidupan masing-masing masih dengan euphoria kebahagiaan. Hingga tanpa dinyana-nyana peristiwa besar di suatu sore mengubah semuanya. Pengkhianatan besar terhadap makna 'persahabatan' yang mereka pahami.
Ini tentang tiga gadis pertama yang telah disebutkan di awal cerita, ditambah dengan seorang tokoh innocent yang bahakan semestinya tidak ada dalam cerita ini. Sementara lima orang lainnya hanya akan menjadi pendengar cerita, terlibat tanpa pernah melibatkan diri.
Empat orang gadis disalahpahami, dipojokkan, dikucilkan untuk sama-sama dihakimi. Terjadi di tempat lain dimana selama ini mereka tumbuh.
Gadis-gadis itu marah melihat betapa buruknya mereka diperlakukan. Kecewa. Tak pernah menyangka bahwa orang-orang yang mereka anggap sahabat, bahkan secara berlebihan sering disebut sebagai keluarga yang telah melalui tempaan bertahun-tahun, yang semestinya juga telah saling mengetahui baik-buruknya masing-masing karakter harus kompak memperlakukan mereka seperti pendosa-pendosa tak terampuni. Sedih mengingat betapa sia-sianya kebersamaan selama ini jika harus diakhiri dengan cara yang keji. Melihat betapa ternyata kebaikan mereka tak pernah diingat.Dan semua itu dipicu oleh euphoria itu.
Kemudian semua kesalahan dicari-cari, ditumpuk sebagai senjata untuk menyerang.
Gadis-gadis itu terluka. Menangis pasrah dibalik ketidakmampuan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ketika air mata itu berhenti seketika itu juga hati mereka mengeras. Mereka telah bertekad tidak akan memberikan penjelasan apapun. Percuma. Jika harus bertahan hidup, maka mereka tidak akan lagi ada di sana. Dan jika harus mati, biarlah mati.
Gadis-gadis itu pasrah. Tidak melawan. Menyingkir sebagaimana mereka disingkirkan. Menjadi kelompok minoritas tanpa pembelaan.Pembunuhan karakter secara besar-besaran tersebut bisa dianggap berhasil.Mereka telah mati, sehingga tidak perlu ada cerita lagi.Semua hanya karena mereka pernah bahagia di tempat ini...





great place... tempatnya dimana ini?
ReplyDeletedi Padang kota, daerah sungai pisang, nama pulaunya Pasumpahan
ReplyDeletekeren deh, masih alami banget :)