Monday, March 18, 2013

cita-cita


Beberapa hari yang lalu Mama nanya apa cita-cita gue.
Kaget juga sih, tiba-tiba ditanya gitu. Apalagi kejadiannya ini setelah gue berumur 23 (kurang dari 2 bulan lagi menjadi 24) tahun yang artinya waktu buat make it real itu uda mepet banget.
Seandainya terjadi bertahun-tahun yang lalu gue masih bisa ngejawab dengan cita-cita yang bener-bener kayak mimpi muluk. Biar kedengeran keren, hebat, luar biasa.
Walaupun muluk bukan berarti mustahil sih, tapi saat ini bersikap 'muluk' bukanlah suatu tindakan cerdas, karena proses transformasi dari 'muluk' menjadi 'bisa' itu butuh waktu yang panjang dan tindakan yang bener-bener nyata buat ngewujudinnya.

Sebenernya dari kecil gue memang gak punya cita-cita pasti. Kalo ditanya pun jawabnya ngasal, tergantung profesi idaman apa yang paling sering gue denger waktu itu. Ditambah lagi selaku anak yang anti-mainstream sejak lahir bikin gue gak pernah kepengen jadi dokter, polisi, pilot, guru, pemadam kebakaran ataupun profesi-profesi lain yang udah kayak jadi trending topic buat semua anak-anak di dunia.

Pertama kali ngejawab cita-cita waktu kecil, gue pengen jadi astronot. Ini lantaran waktu itu Mama abis cerita kalo astronot itu orang pinter, bisa ke luar angkasa, pokoknya kerenlah. Selain itu juga di antara temen-temen, belum ada yang kenal si "astronot" ini. Jadi selain bisa keliatan keren karena cita-cita selangit, gue juga bisa tetep jadi anti-mainstream(er).
Abis itu Mama pernah cerita lagi tentang arsitek. Berhubung ngerasa lumayan bisa gambar, cita-cita gue berubah menjadi arsitek. Lagi-lagi juga lantaran gak banyak temen-temen yang berani ngambil cita-cita yang satu ini.

Waktu SD usia pertengahan, sekitar kelas 4-5 gue lagi suka-sukanya nonton film fiksi ilmiah. Nah, gara-gara ini cita-cita gue berubah lagi pengen jadi ilmuan. Mama sih ngedukung-dukung aja, katanya pas lah nilai IPA gue juga lumayan.
Lalu, di waktu SD itu juga gue nemu bakat baru. Gue suka dan gampang banget beradaptasi sama pelajaran bahasa Inggris. Jadilah gue pengen ngerubah cita-cita lagi.
Berhubung gue gak tau cita-cita apa yang ada kaitannya sama bakat ini, gue akhirnya stick sama si ilmuan.

SMP. Gue nemu hobi baru. Menulis.
Waktu itu juga gue rajin banget nulis, bisa dibilang masa-masa paling produktif gue nyoret-nyoretlah. Apalagi waktu itu juga semacam mendapat wadah, majalah sekolah lahir. Rutin nulis di sana trus dapet duit, gue jadi makin suka sama hobi ini. Profesi yang menggoda untuk ditekuni di masa depan.
Cita-cita gue bertambah...menjadi seorang penulis.
Bertambah bukan berganti. Kenapa? Seiring bertambahnya umur gue menjadi sedikit lebih realistis. Gak semua penulis bisa berhasil. Dan gue tau diri, gue tipical orang yang gampang bosen. Begitu mentok, jadi males nulis. Sementara buat nekunin nulis jadi profesi seseorang mesti konsisten. Selain itu juga gaya menulis gue masih jauh banget dari bagus. Amatiran.

Hobi menulis terus berlanjut sampai SMA.
Di masa ini gue nemuin ketertarikan yang baru lagi. Menjadi pembicara.
Namun, yang satu ini mentok. Gue gak bisa mengeksplorasi kemampuan. Gak ada wadah. Seharusnya ada organisasi kesiswaan yang bisa jadi sarana, tapi gue gak pernah lulus di organisasi manapun. Mungkin karena kalah populer atau bisa jadi karena bakat itu memang sama sekali gak keliatan. Mungkin yang terlihat waktu itu gue cuma anak badung pecicilan yang sukanya hahaha... hihihi... sana-sini aja.
Walau begitu gue gak bisa mengelak bahwa SMA adalah saat yang bener-bener tepat buat nentuin cita-cita, karena setelahnya tangga yang harus dinaiki adalah perguruan tinggi. Di bangku kuliah karier itu sebenarnya dimulai. Keputusan besar sebagai langkah awal diambil di sini.
Demi eksplorasi kemampuan bicara, bahasa, dan menulis, serta jurusan yang terdengar menarik akhirnya gue memutuskan akan menjadi seorang diplomat.

Kenyataan tetaplah kenyataan.
Ketika harus berhadapan dengan ujian SPMB, gue melenceng dari jalan menuju cita-cita itu.
Entah atas bisikan malaikat atau hasutan setan gue memilih jurusan yang sama sekali berbeda.

Lulus sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan gue kembali mematut diri. Mengingat kembali semua yang jadi cita-cita selama ini.
Mungkinkah gue memang ditakdirkan untuk menjadi ilmuan seperti cita-cita waktu kecil dulu?
Toh dengan segala kegiatan akademis ini gue semakin dekat dengan 'penelitian' yang biasa dilakukan oleh para ilmuan.
Atau gue ditakdirkan menjadi arsitek dalam bentuk lain, seorang desainer bangunan yang lebih menguasai teknik konstruksi dan keefektifan ketimbang estetika dari arsitektur?
Atau menjadi aktivis lingkungan yang mampu berbicara dan berbuat lebih banyak demi kelangsungan hidup bumi ini?
Masa menjadi mahasiswa telah berakhir.

Gue punya cita-cita baru.
Cita-cita yang benar-benar seperti mimpi, tinggi dan besar sekali.
Tapi bukankah memang seperti itulah cita-cita seharusnya?
Lalu bagaimana dengan 'langkah-langkah nyata' yang menjadi kekhawatiran gue sebelumnya?
InsyaAllah gue telah menapaki semua langkah itu.
Suatu saat semua cita-cita dari masa kecil itu akan terangkum menjadi satu.
Apakah cita-cita itu?
Tunggu 5-10 tahun lagi.
Lihat, menjadi siapa gue di saat itu.

4 comments: