Baru aja balik dari
nemenin seorang temen ke acara nikahan. Dateng ke nikahan sebagai 'pasangan'
itu ternyata bisa ngasih cerita sendiri, walaupun pada kenyataannya gue ikut
ada di sana bukan diminta atas nama date,
tapi emang cuma kebetulan paginya ketemu trus diminta nemenin siangnya.
Surprisingly, si temen gue ini mendadak jadi gentle selama acara. Seneng sih ya, soalnya
gue emang agak lumayan bawel tentang hal itu selama ini. Entah cuma sekedar
tata krama menyeberang jalan, mengambil makanan, atau tetek bengek kecil
lainnya yang sebenernya sangat normatif tapi cenderung diabaikan.
Menyenangkan berada
di sana disertai pembicaraan serius yang santai. Kita dalam duduk bersebelahan
membahas cerita masa depan penuh cita-cita dan rencana-rencana yang memotivasi.
Bisa jadi karena terbawa suasana, pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan jadi
topik seru buat dibahas. Sebenernya lebih bisa disebut wawancara sih, lantaran tek-tok pertanyaan itu lebih banyak ditujukan
buat gue.
Semisal kriteria
pasangan yang gue dan orang tua harapkan, adat pernikahan, rencana jumlah anak,
jenis kelamin anak, seperti apa akan mendidik mereka nanti, karier gue,
perkiraan perubahan pra dan pasca nikah. Seru.
Gue suka membahas
hal-hal indah itu. Masa depan.
Untuk itulah seorang
manusia hidup; berusaha, bekerja keras, menata prinsip, berdoa dalam keikhlasan
bahwa setiap ketetapan Tuhan nantinya adalah yang terbaik.
Mendapati lawan
bicara gue pun tak kalah bersemangatnya bercerita; mengangguk-angguk antusias
atas setiap pernyataan gue yang dia setujui, bahkan tak jarang memberikan
pertanyaan retoris minta penegasan. Gue seakan-akan bisa melihat dengan jelas
gambaran cita-cita orang ini. Dia punya mimpi, langkah, persiapan, bahkan
sepertinya sedikit lagi segera berada di sana. Berbinar-binar.
Kami tumbuh dengan
latar belakang yang cenderung mirip. Bukan masa lalu yang mudah, tapi tidak
berarti menghalangi tawa selalu menyembur. Ketidakmudahan itu hanya hadir demi
membantu sebagai akses kami berakselerasi dalam memahami hidup.
Cerita itu masih
belum bisa dibendung dengan tanda titik pada akhir kalimat.
Gue masih penuh
spontanitas memberikan senyum menanggapi celoteh dari mulutnya yang selalu
dimonyong-monyongkan lucu ketika antusias bercerita. Terus bertanya seakan-akan
bersama gue-lah nanti dia akan mewujudkan semua rencana itu. Membuat gue merasa
seolah-olah akan ditempatkan di masa depannya.
Menyenangkan ketika
terasa seperti telah diputuskan bahwa gue adalah orang yang akan menjadi subjek
di semua rencana-rencana itu.
Ini bukan tentang
percaya diri yang berlebihan. Percayalah, gue gak sege-er itu.
Hanya saja
antusiasmenya terasa seperti memenuhi udara di sekitar kami.
Jika saja itu benar,
mungkin beginilah rasanya menjadi terpilih.
Membahagiakan :)
amin,, semoga uni mendapatkan laki-laki yang diinginkan! :)
ReplyDeleteaamiin :D
ReplyDelete