Saturday, December 07, 2013

Baru aja balik dari nemenin seorang temen ke acara nikahan. Dateng ke nikahan sebagai 'pasangan' itu ternyata bisa ngasih cerita sendiri, walaupun pada kenyataannya gue ikut ada di sana bukan diminta atas nama date, tapi emang cuma kebetulan paginya ketemu trus diminta nemenin siangnya.

Surprisingly, si temen gue ini mendadak jadi gentle selama acara. Seneng sih ya, soalnya gue emang agak lumayan bawel tentang hal itu selama ini. Entah cuma sekedar tata krama menyeberang jalan, mengambil makanan, atau tetek bengek kecil lainnya yang sebenernya sangat normatif tapi cenderung diabaikan.

Menyenangkan berada di sana disertai pembicaraan serius yang santai. Kita dalam duduk bersebelahan membahas cerita masa depan penuh cita-cita dan rencana-rencana yang memotivasi. Bisa jadi karena terbawa suasana, pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan jadi topik seru buat dibahas. Sebenernya lebih bisa disebut wawancara sih, lantaran tek-tok pertanyaan itu lebih banyak ditujukan buat gue.
Semisal kriteria pasangan yang gue dan orang tua harapkan, adat pernikahan, rencana jumlah anak, jenis kelamin anak, seperti apa akan mendidik mereka nanti, karier gue, perkiraan perubahan pra dan pasca nikah. Seru.
Gue suka membahas hal-hal indah itu. Masa depan.
Untuk itulah seorang manusia hidup; berusaha, bekerja keras, menata prinsip, berdoa dalam keikhlasan bahwa setiap ketetapan Tuhan nantinya adalah yang terbaik.

Mendapati lawan bicara gue pun tak kalah bersemangatnya bercerita; mengangguk-angguk antusias atas setiap pernyataan gue yang dia setujui, bahkan tak jarang memberikan pertanyaan retoris minta penegasan. Gue seakan-akan bisa melihat dengan jelas gambaran cita-cita orang ini. Dia punya mimpi, langkah, persiapan, bahkan sepertinya sedikit lagi segera berada di sana. Berbinar-binar.

Kami tumbuh dengan latar belakang yang cenderung mirip. Bukan masa lalu yang mudah, tapi tidak berarti menghalangi tawa selalu menyembur. Ketidakmudahan itu hanya hadir demi membantu sebagai akses kami berakselerasi dalam memahami hidup.

Cerita itu masih belum bisa dibendung dengan tanda titik pada akhir kalimat.
Gue masih penuh spontanitas memberikan senyum menanggapi celoteh dari mulutnya yang selalu dimonyong-monyongkan lucu ketika antusias bercerita. Terus bertanya seakan-akan bersama gue-lah nanti dia akan mewujudkan semua rencana itu. Membuat gue merasa seolah-olah akan ditempatkan di masa depannya.
Menyenangkan ketika terasa seperti telah diputuskan bahwa gue adalah orang yang akan menjadi subjek di semua rencana-rencana itu.
Ini bukan tentang percaya diri yang berlebihan. Percayalah, gue gak sege-er itu.
Hanya saja antusiasmenya terasa seperti memenuhi udara di sekitar kami.
Jika saja itu benar, mungkin beginilah rasanya menjadi terpilih.
Membahagiakan :)

2 comments: