Ketika ide untuk
menuliskan ini tercetus gue merasa punya banyak banget kata untuk disampaikan.
Namun, begitu jari-jari menyetuh tombol-tombol pada keyboard detik berikutnya
lengang. Gagal memutuskan untuk memilih bagian yang akan menjadi awal.
Menentukan hal-hal yang patut disampaikan dengan sekaligus memikirkan
kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya kesalahpahaman sehingga memperbesar
celah yang sudah terlanjur ada.
Awalnya gue berharap
semua pembicaraan ini akan berlangsung dengan tatap mata, sehingga tidak akan
terlalu menjadi 'drama'. Kita akan kembali bertukar pikiran, bercakap-cakap
layaknya manusia dewasa biasa lakukan. Selanjutnya menghadap malam dengan
pemahaman pelajaran baru.
Lalu gambaran
rencana yang sejak lama ada di kepala gue ini harus mengalami revisi. Mungkin
ada baiknya harus disampaikan satu arah. Menghindarkan kita dari perdebatan
tanpa solusi seperti biasa. Saling menyakiti. Jika ini kemudian terasa semakin menjadi 'drama', biarlah untuk sesaat dinikmati. Gue cuma butuh media untuk berbicara. Berharap gue bisa lebih ekspresif melalui tulisan,
walaupun Fandi pernah bilang gue selalu berpotensi besar menimbulkan salah
paham lewat tulisan. Karena emosi dalam tulisan gue sulit ditebak. Bisa jadi
gue bercanda tapi terbaca marah, bisa jadi gue seneng tapi terbaca bosan, dan
interpretasi lainnya yang bertolak belakang. Itu yang dulu pernah Fandi
khawatirkan.
Kekhawatiran Fandi yang seperti itu pernah bikin gue seneng, merasa
dipedulikan.
Kali ini Fandi patut tenang. Gue berada dalam emosi yang luar biasa datar, bahkan gue sempat takut kedataran ini akan lagi-lagi mencegah gue 'mengungkapkan'. Sama seperti yang selama ini terjadi.
Kali ini Fandi patut tenang. Gue berada dalam emosi yang luar biasa datar, bahkan gue sempat takut kedataran ini akan lagi-lagi mencegah gue 'mengungkapkan'. Sama seperti yang selama ini terjadi.
Gue terlalu sibuk
menimbang, haruskah gue bicara? Akankah jadi lebih baik? Bukankah nanti
salah-salah gue malah menyinggung? Bukankah ketika kita kembali pada keadaan
'normal' semuanya sudah selesai?
Jangan sampai malah
memperpanjang masalah. Bisa jadi kita berdua belum siap. Nanti ada waktunya.
Mungkin belum
sekarang. Mungkin ini hanya emosi sesaat yang hilang begitu gue tenang. Mungkin
memang tak perlu ada pembahasan.
Maka yang terjadi
ternyata, gue hanya mengulur-ngulur waktu.
Cukup lama gue cuma
bengong membaca rangkaian kalimat ini berulang-ulang yang lewat begitu saja
tanpa menyisakan cernaan di otak gue hingga kata-kata itu sendiri yang menuntun
untuk menceritakan dengan sepenuhnya jujur. Tanpa mempedulikan interpretasi yang
akan timbul. Dengan mengesampingkan santun, maka gue kembali mengingat pagi
itu..
Jumat pagi.
Sebuah sapaan dari
seorang kawan baru yang selanjutnya gue yakin akan menjadi teman baik di
kemudian hari. Gue baru aja balik dari dapur celepotan masak buru-buru sebelum
berangkat ke kantor. Sapaan yang menarik senyum. Pujian pertama. Kejutan
pertama. Orang itu kemudian tiba-tiba sudah ada di depan pintu bahkan sebelum
gue siap berangkat.
Ketika ditanya,
alesan dia dateng sederhana. Mau nyicipin masakan gue. Senyum gue mengembang sepanjang hari :)
Selanjutnya yang gue tau sejak kenal Fandi hari-hari gue jadi lebih menarik. Seperti menemukan kawan lama yang menyenangkan. Setiap dialog hanya kekonyolan yang pantas ditertawakan bersama. Dari sini gue merasa 'bertanggung jawab' untuk memberikan
kegembiraan yang sama.
Selalu berusaha
menyanggupi apapun permintaan Fandi.
Bentuk 'tanggung
jawab' gue bermula dari tekad ini. Penyanggupannya tak pernah terasa berat. Gue
lakukan dengan senang hati tanpa alasan. Gue cuma pengen Fandi ngerasa sama senangnya kayak gue kalo lagi sama Fandi.
"Jangan biarkan yang satu ini menyerah"
Gue sedari awal sudah mempercayakan hal-hal pribadi yang tidak gue bicarakan dengan orang lain,
kecuali Fandi. Gue ingin Fandi bersiap atas rumitnya pribadi gue. Gue siap
mempercayakan beban yang selama ini gue pikul sendiri.
Maka yang terjadi,
justru ternyata Fandi belum siap.
Keluhan pertama,
gue gak dewasa.
Dulu gue sempat
marah dengan anggapan ini. Gimana bisa orang yang baru kenal gue langsung
memberikan penilaian buruk kayak gini. Bahkan menjadi parameter jawabannya akan
pertanyaan tentang perempuan dan pasangan hidup.
Pertanyaan besarnya,
kenapa harus gue yang menjadi parameter?
Toh gue tidak pernah
terobsesi akan ada di masa depan Fandi. Kenapa gue ngerasa seolah-olah Fandi
ngasih pernyataan tersirat gue gak pantes buat dia.
Sementara gue memang
gak pernah mencoba untuk menjadi kandidat.
Gue marah waktu itu. Kecewa.
Lalu Fandi
menjanjikan gue akan mendapat sesuatu yang lebih dari yang gue harapkan.
Sesuatu yang akan bikin gue luar biasa seneng. Sampai saat ini gue gak ngerti
apa maksud janji itu.
Yang jelas gue
pernah merasa direndahkan dengan siratan 'ketidakpantasan' itu.
Tapi, gue diam.
Mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanyalah hal yang belum gue pahami.
Gue bertahan untuk
belajar.
Menurut Fandi gue
ngambekan. Pada bagian ini gue gagal menunjukkan bahwa gue yang seperti itu
menandakan gue tengah nyaman. Berani menunjukkan emosi negatif, berarti gue
percaya. Bahwa gue telah mulai terikat secara emosi dengan Fandi. Bahwa tak ada
yang gue tutupi. Bahkan gue pernah mencoba membuka hati terlepas dari Fandi suka atau tidak. Gue ngasih kesempatan buat diri gue sendiri.
Means
that, I was asking you to fix me
Setelah itu rentetan keluhan lainnya tentang gue disampaikan bertubi-tubi, hingga dari situ siapa pun
bisa menyimpulkan gue bukanlah orang baik. Tidak menyenangkan dan hanya akan
selalu menjadi beban. Seiring waktu yang membantu gue semakin menerima, seperti itu juga perkembangan ketidaksukaan Fandi terhadap gue.
Fandi pernah
menyerah, gue bertahan.
Fandi menyerah lagi,
gue menariknya tinggal.
Walau gue tak bisa
menjanjikan apapun di masa depan, gue belum siap untuk kehilangan.
Maka, kembali gue
belajar.
Dan ternyata gue tak
pernah berhasil, konflik selalu ada. Gue yang selalu menjadi penyebabnya.
Tak peduli sesering
apapun gue mengaku diam dan belajar, hukumannya selalu gue dapat. Yang berarti
gue salah. Gue gagal.
Sampai akhirnya gue
berkata cukup.
Gue gak boleh jadi
lebih buruk dari ini.
Di tempat itu, di
rumah yang memeluk gue pulang, gue memutuskan untuk berhenti.
Kali ini diam akan
berarti selesai.
Akibatnya? Keadaan
berbalik. Fandi menarik gue untuk kembali mencoba.
Memang waktu itu di
satu sisi gue masih belum siap untuk kehilangan. Namun yang membuat gue menyambut permintaan
itu adalah karena Fandi membuat gue merasa bahwa gue berarti buat dia. Bahwa
bukan cuma gue yang gak mau kehilangan.
Sehingga pertemuan
setelah itu menjadi moment yang paling gue inget di antara yang lainnya.
Seseorang menantikan
gue ada dan ditunjukkan secara lugas.
Tak ada yang lebih
membahagiakan dari itu.
Kelegaan gue gak
bertahan lama.
Fandi menyatakan
keberatan lainnya. Sebuah pengakuan bahwa dia selama ini merasa terbebani. Pada tahap ini gue kembali menegakkan 'benteng'. Menutup hati sebagaimana mestinya.
Pertanyaan besar
lagi buat gue.
Jika memang begitu
adanya, kenapa gue diminta untuk kembali mencoba?
Gue tetap tinggal
dengan membawa pertanyaan itu, sembari mencoba melihat lebih jelas hal-hal yang
sekiranya terlewatkan. Gue terus ada di sana, karena gue akan selalu berusaha
menyanggupi apapun permintaan Fandi. Gue terlanjur terikat, terlanjur dibuat nyaman
dengan usaha-usaha Fandi untuk membuat gue senang.
Ya, yang gue tau Fandi memang
sebaik itu. Yang menjadi fokusnya adalah memenuhi semua harapan-harapan gue,
menjadi orang yang selalu memikirkan cara untuk membahagiakan gue, bahkan
pernah berupaya keras mengiringi gue tanpa diminta meskipun pada akhirnya
lelah.
Gue tau, kita
sama-sama belajar hanya caranya jauh berbeda.
Seberapapun beberapa
hal seringkali memaksa gue menangis marah, kecewa, sedih, perih namun Fandi
adalah orang yang selalu menjanjikan pelukan setiap gue butuhkan. Walaupun
jarang sekali permintaan maaf yang gue dapat setelah setiap luka, gue gak bisa
menepikan begitu saja kebaikan-kebaikan Fandi dalam setiap langkah gue.
Terutama menjadi teman di saat gue merasa sendiri. Ketika menjadi topangan di
saat gue lelah. Memberikan genggaman tangan di saat gamang. Menawarkan bahu
ternyaman untuk direbahi.
Telah lama terbiasa
hingga merasa sepenuhnya terikat.
Karenanya, gue
merasa 'bertanggung jawab' untuk memberikan kegembiraan yang sama.
Fandi punya
kehidupan sendiri yang dipenuhi beban tanggung jawab. Dia pernah bercerita
banyak tentang ini. Gue gak bisa membantu apa-apa selain memberikan dukungan.
Memberi hiburan
semampu gue di saat gusar. Setidaknya tidak ikut menambahi beban.
Pada saat-saat
seperti ini gue harus siap memberikan senyum walaupun merasa kecewa akan beberapa
hal, menjadi sasaran amarah yang tenang tanpa membalas. Karena jika tidak, gue akan menjadi sangat egois. Fokus gue, lakukan seperti teman baik.
Hingga suatu hari
kenyataan kembali menyatakan gue gagal.
Bahkan kali ini
tanpa menyisakan alasan gue untuk tetap tingggal.
Mestinya gue gak
harus menunggu diusir dulu baru pergi. Terlambat.
Beberapa pertanyaan
sepertinya tidak akan pernah menemukan jawaban.
Seberapa berartinya
gue buat Fandi, pernahkah gue menjadi penting, benarkah Fandi takut kehilangan
gue, janji seperti apa yang dulu sering Fandi sampaikan, kenapa selama ini gue terus diminta
tinggal, kesalahan seperti apa yang pernah gue lakukan sehingga Fandi gak bisa memaafkan, bahkan menutup mata atas usaha-usaha perbaikan dari gue, kenapa menyangkutkan harapan-harapan
besar di gue yang jelas-jelas gak bisa gue penuhi, kenapa gue harus memenuhi
standar yang selalu kita bicarakan, kenapa Fandi gak pernah bisa nerima gue apa
adanya, kenapa gue terus menerus berbuat salah, kenapa bahkan setelah semua ini
gue masih gak bisa marah, sampai kapan kita harus saling diam, kenapa harus dipersulit padahal kita bisa membuatnya mudah, kenapa saat ini harus merasa gagal jika sebelumnya kita telah berkali-kali mencoba dan berhasil,
kenapa harus selalu menyalahkan cemburu jika sejatinya berarti menyayangi, pernahkah gue bikin Fandi seneng dan...yasudahlah..
Maka setelah ini
akan ada banyak hal yang gue rindukan.
Banyak hal yang akan
gue inget sambil tersenyum di antara sesegukan
Gue gak akan lagi
bisa ngeliat ekspresi ngegemesin fandi monyong-monyongin bibir sambil keningnya
berkerut kalo lagi seru cerita, karena menurut dia gue bukan seorang pendengar
yang baik. Selalu pamer menimpali cerita.
Gak akan ada lagi
yang ngejemput gue buat menikmati jalanan seru-seruan, karena buat Fandi gue
cuma bisa rewel, nyebelin, suka bikin dia jadi emosi. Sama sekali tidak menyenangkan.
Gak akan lagi
nguber-nguber bioskop buat nonton karena kepenuhan. Gak akan ada lagi rencana-rencana.
Gak akan ada
pembahasan berikutnya walaupun gak semuanya bisa gue sampaikan di sini, karena
Fandi gak mau ketemu gue lagi.
Entah apa yang akan
terjadi setelah ini.
Walaupun gue merasa
beberapa hari belakangan Fandi mencoba kembali bersahabat, gue menghindari
terjadinya dialog. Gue takut akan kembali merasa berada di zona nyaman itu.
Sementara gue jelas-jelas sudah 'diusir'. Gue harus tau diri.
Gue tidak menyalahkan siapa-siapa, gak mengambil
keputusan apa-apa, gue hanya mengikuti aturan main yang sudah dibuat, karena memang gue gak berhak memaksa. Walaupun gue masih ngerasa sangat butuh, Fandi berhak pergi ketika tak lagi merasa nyaman.
Terima kasih telah
mencoba, berarti banyak buat gue :)
when somebody left you, dont cry as a result of that would be what it is all about that your going in order to firmly get abundant better one
ReplyDelete"Be There"
Sure. I didn't cry anyway.
ReplyDeleteHe also didn't limme. It's just about a transformation of a relationship that hurt me.
But i do know that I'll be alrite :)
Thanks anyway. Means a lot for me
*hug*
kadang cinta itu gak bisa dipaksakan dan gak harus saling memiliki!
ReplyDeletedan semuanya pasti digantikan dengan yang lebih lagi uni :)
too late to comment do. Haahaha.
ReplyDeleteYang gini-gini mah so last year :P