Tadinya gue menahan
diri sebisa mungkin buat gak ngebahas kejadian hari ini di The Precious. Namun, menilik malam yang semakin tua dan keadaan gue tak kunjung membaik, bahkan setelah obrolan bersama sahabat itu sama sekali tidak membantu gue buat bisa tetep waras, maka gue harus mencari pelampiasan. Cerdas mengatasi emosi.
Setiap tulisan akan membantu gue melihat visi dari berbagai sudut pandang. Sibuk berdebat dengan diri sendiri biasanya hanya akan berakhir dengan perbandingan emosi yang notabene sama. Dengan menulis kemudian membacanya lagi sedikit banyak akan membantu gue menelaah. Bersama karakter yang diam dalam satu tubuh, emosi yang sama pula, tapi dengan jeda waktu yang cukup untuk mencerna persoalan menjadi lumat atau paling tidak sedikit lebih halus.
Nah, seperti ini. Masuk di paragraf ini kayaknya tempo detak amarah itu bergerak semakin pelan, kecewa terasa semakin meringan, celah cahaya pun sepertinya mulai mengintip.
Gue dan karakter gue menemui jalan buntu atas apa yang gue alami hari ini. Visualisasi tidak menyenangkan itu terus memaksa gue untuk tetap berada di sana, bahkan setelah gue menolak melihat, mendengar, dan merasakan.
Seolah-olah proses pemulihan beberapa waktu yang lalu tidak cukup. Saat gue memutuskan untuk berhenti memohon kebaikan dan berdamai dengan hati, keadaan ini justru menyeret gue kembali ke proses yang seharusnya telah gue lewati.
Tak ingin menafikkan bijaksana, gue harus ikhlas berkaca melihat kesalahan diri sendiri. Karena pemahaman yang baik harus berawal dari pantulan itu.
Bisa jadi ini terjadi karena gue jumawa dalam cerita hidup yang penuh pesona gelak tawa, tanpa menyadari ada seorang penonton yang sesungguhnya mau diajak serta tapi gagap mengambil peran. Gagap yang terjadi akibat kecanggungan jarak. Jika memang demikian keadaannya, gue harus dengan berbesar hati kembali merangkul dan kembali mempercayakannya tempat ternyaman untuk bersandar.
Berkaca. Maka memang gambaran yang sama tampil di pantulan itu.
Semenjak telah kembali menjejaki kota ini, secara bersamaan gue belajar memaksakan diri berhenti merutuki kesalahan yang tak kunjung disadari. Memaafkan setiap kecewa. Berbagi. Memberi. Berharap semuanya akan mengurangi bobot canggung.
Gue telah berusaha mengenyahkan yang katanya drama. Gue telah kembali ikut dalam alur kenyamanan.
Gue pun berjalan menciptakan cerita sendiri, tanpa bergantung pada dia yang tegas menyatakan diri tidak lagi mau menjadi sandaran. Gue menikmati hidup tanpa lupa menggandengnya serta, karena langkah ini pun diambil dengan permohonan bantuan yang lugas gue minta.
Lalu, apakah ada yang terlupa?
Sejauh yang gue inget, waktu itu gue sudah meminta agar setiap detail keceriaannya tanpa gue tidak dihadapkan di depan mata gue. Gue tidak akan membatasi apapun yang menghadiahi dia tawa. Tidak akan menghalanginya membuat cerita yang sekiranya jauh lebih baik dari hal-hal yang telah gue usahakan buat dia. Silahkan, tapi lagi-lagi dalam permohonan itu lugas gue sampaikan jangan bawa gue dalam visualisasinya.
Gue jelas bukan penonton yang baik. Setiap ketiadaan peran gue hanya akan membuat sorotannya terasa semakin meredup buat gue.
Baik atau buruk emosi itu sudah menjadi bagian dari diri gue sejak lama. Mungkin tidak akan hilang, hanya butuh pengendalian. Untuk itulah permohonan bantuan itu gue sampaikan dengan segala kerendahan hati.
Kalau sekiranya hal yang sama pun terjadi di sana, sampaikan. Gue pun akan belajar menahan diri.
Waw keren ka maya suka nulis ya. Aku suka tulisan kaka. Baru liat blog ka maya sebenernya sih hehe.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete