Reuni. Berisik. Ceng-cengan. Saling ngomelin. Sok-sok bijak nyeramahin. Belagu. Sombong-sombongan omong kosong. Ngakak roaming.
Ketemuan sama temen-temen kuliah ya seseru itu. Anak-anak hasil didikan ospek ini telah menguji tempa di berbagai kota. Survive di berbagai situasi, lalu berbagi dan akan selalu saling memiliki.
Kota ini ternyata dipenuhi 'kita'. Gue gak ngerti takdir apa yang membawa kita hingga jauh menyeberang tapi tetap berada dalam naungan langit yang sama. Ini indah. Kami dengan proses menggapai masing-masing cita-cita, seperti cerita gubahan penulis sastra.
Hari ini, gue, Ade a.k.a Man-gub, Danny a.k.a Anjang, Faisal a.k.a Puak, Feri a.k.a Pidin a.k.a Langau plus satu additional player Defri ngotot-ngototan cerita. Entah apapun topiknya akan selalu ada yang jadi objek penderita. Pekerjaan. Karier. Rumah tangga.
Sebenernya banyak aspek yang gue gak terlalu paham. Kadang-kadang cerita mereka kelewat engineering, jadi otak gue suka susah nangkep. Namun, di bagian-bagian tertentu gue tetap bisa mengambil peran sebagai pem-bully. Aha!
Part favorit gue sih sebenernya ketika para lelaki ini bercerita tentang cita-cita mereka akan rumah tangga. Adanya variasi latar belakang menambah sudut pandang gue tentang hal yang sama. Yeah, you know "men are from mars and women are from venus". Setidaknya ada hal-hal yang awalnya sulit gue pahami jadi terasa sedikit lebih ringan ketika pembahasan itu keluar dari mulut mereka. Meskipun gue harus rela untuk bagian ini gue lebih sering jadi objek penderita.
Komitmen dan keyakinan. Hal mendasar yang harus dimiliki ketika ingin memulai sebuah pernikahan. Memang sudah waktunya topik ini serius kami bahas.
Mendengar dan melihat seseorang meyakini telah memilih yang terbaik untuk berbagi hidup. Gue sangat menyukai visual ini. Saking sukanya hingga nyaris iri. Mengetahui seseorang telah 'dipilih'.
Iri karena sampai saat ini gue jauh dari yakin bahwa akan ada orang yang seperti itu buat gue.
Bimbang berpikir tentang kesanggupannya membahagiakan gue, yakin akan komitmen seumur hidupnya bahwa gue akan menjadi tempatnya berbagi semua hal, menerima gue dalam seburuk-buruknya keadaan, mampu membuat gue merasa dibutuhkan hingga 'kehilangan' menjadi kata yang paling ditakutinya.
Bimbang berpikir tentang kesanggupannya membahagiakan gue, yakin akan komitmen seumur hidupnya bahwa gue akan menjadi tempatnya berbagi semua hal, menerima gue dalam seburuk-buruknya keadaan, mampu membuat gue merasa dibutuhkan hingga 'kehilangan' menjadi kata yang paling ditakutinya.
Gue selalu ingin membaur dengan cerita ini, karena gue haus bukti yang akan menguatkan gue pada sebuah keyakinan. Akan ada yang menginginkan gue sama kuatnya dengan keinginan gue akan orang itu.
Iri yang teramat sangat sebenernya ketika melihat 'perempuan-perempuan' terpilih itu. Terlebih jika yang dijatuhi sebagai pilihan itu adalah sahabat-sahabat terdekat gue.
Gue masih sangat jauh dari yakin akan merasakan hal yang sama.
Picik ya. Menyedihkan.
Telah sejak lama gue berusaha memupuk kepercayaan bahwa akan datang saatnya buat gue, tapi pengalaman-pengalaman yang ada tak kunjung menguatkan.
Padahal sahabat-sahabat itu selalu memberi dukungan lugas, bahkan mendoakan. Gue masih gagal percaya.
Kadang mungkin mereka kesel kali ya. Gue seolah-olah selalu kehilangan positif.
Lemah. Pun gue gak suka jadi seperti ini.
Gue tidak punya standard yang berlebihan akan kriteria pemimpin keluarga gue nanti. Terlalu memilih apalagi. Boro-boro.
Gue bukan mencari orang yang menjanjikan gue bahwa bersamanya hidup akan selalu penuh senyum. Gue hanya butuh orang yang akan berupaya senyum tidak akan pergi terlalu lama jika sesaat harus hilang.
Gue bukan mencari orang yang menerima gue apa adanya hingga membenarkan setiap kesalahan. Gue butuh dia yang bisa membimbing gue, mengingatkan dengan cara yang santun.
Gue bukan mencari dia yang terus mengalah, memenuhi setiap tuntutan, dan membiarkan keegoisan gue menang, tapi orang yang mau menjadikan keinginan gue sebagai pertimbangan untuk didiskusikan bersama. Begitupun sebaliknya.
Alih-alih sebagai tempat bergantung, gue mau dia yang membuat gue merasa dibutuhkan.
Gue butuh dia yang bisa diajak berdebat, hingga kecerdasan dan kedewasaan tidak akan pernah tumpul.
Bukan dia yang anti jenuh, tapi yang dalam setiap bosan akan berusaha mencari cara menghilangkannya alih-alih meninggalkan.
Bukan yang menjadikan gue dominan, tapi keseimbangan dalam pemikiran.
Bukan gue yang memperjuangkan dia ataupun sebaliknya, tapi kita yang mempertahankan satu sama lain.
Tak hanya dipimpin, gue ingin dibimbing mungkin sesekali dituntun.
Pada hakikatnya gue akan menjadi makmum dan dialah sang imam.
Keyakinan akan ada orang seperti itulah yang sedang gue kumpulkan.
Para lelaki ini hadir dengan menyertakan hal ini bersama mereka. Menyenangkan melihat binar-binar itu tersirat jelas. Konyol bertutur tentang kegalauan masing-masing, memberikan tepukan dukungan di punggung, atau sekalian terang-terangan menertawakan.
Kasih sayang yang mungkin jarang terungkapkan, namun terang tertangkap kasat mata. Mendengar mereka bercerita tentang perempuan-perempuannya sembari mengaminkan ada seseorang di sana bercerita hal yang sama tentang gue.
Gue harus selalu berada di lingkaran ini. Gue harus segera percaya. Mungkin saat ini prosesnya berjalan lambat, tapi percayalah gue pun sedang membuka hati. Membujuk nurani akan yakinnya suatu saat nanti, bahkan mungkin saat ini dia telah dipilih buat gue dan gue pun terpilih untuknya. Aamiin.
Yaudah, nikah yuk!
ReplyDeletewuih, tasasak!
ReplyDelete