Kotak kaca bening, jernih, tanpa sisi sembunyi.
Hari-hari dalam satuan mingguan gue kehilangan dorongan untuk berbicara, lebih banyak diam, ansos, pantas dibilang sarkas.
Terlalu banyak hal di sini (menunjuk kepala) membuat gue kehilangan selera untuk berdebat atau hanya sekedar menjelaskan demi membela diri.
Kembali terjadi. Hanya bedanya kali ini gue sendiri. Menyisakan pilihan sulit dan sempit; pertanyaan-pertanyaan yang ada, terpaksa memantul tanpa lawan bicara.
Gue cuma bisa berdebat dengan diri sendiri yang walaupun secara sadar gue rasa, terlalu banyak energi negatif di sekitarnya. Pikiran penuh kabut tentu tak akan melewatkan cahaya. Hanya sepertinya pilihannya sangat terbatas. Berbagi tidak akan memperbaiki apapun. Kerumitan itu harus gue batasi.
Diam itu karena kehilangan. Sang dewasa yang selama ini ada mendadak enggan menampakkan diri.
Sedih. Sepi yang teramat sangat atas kosong yang ditinggalkannya. Namun, gue tidak akan menyalahkan apapun atau siapapun demi sebuah kelegaan. Percaya saja segala sesuatunya tentu terjadi atas sebuah alasan.
Seorang teman baru datang, sepertinya bermaksud baik. Hanya saja terlihat 'terlalu' berusaha untuk menjadi pahlawan. Mengobrak-abrik pertahanan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang gue berusaha tidak pikirkan. Titik nadir tergali, pertahanan buyar, gue menyerah menjadi cengeng di depannya.
Beberapa hal baru terungkap; kenyataan yang selama ini bisa jadi dijaga dari pendengaran gue oleh sang sahabat.
Fitnah.
Besarnya kecewa ini gak bisa gue gambarkan, lantaran terjadinya dalam lingkaran nyaman itu. Cerita bohong yang sibuk dipublikasikan dan disebarluaskan sebagai topik seru pembicaraan oleh orang-orang yang selama ini gue sebut teman. Banyak sekali hal buruk. Beberapa malah dengan berani menghakimi gue atas kemalangan yang baru saja gue alami. Dan yang paling memancing amarah adalah ketika gue tau orang terbaik yang selalu ada bersama gue pun ikut diseret-seret.
Kehidupan gue mendadak menjadi seperti akuarium.
Terang benderang ditunjuk lampu sorot.
Semua orang seolah-olah beraksi menjadi yang paling tau, kemudian bersorak atas obralan cerita yang nilai kebenarannya hanya bernilai kisaran nol koma sekian persen.
Mereka sibuk ke sana kemari membandingkan karangan mana yang lebih menarik.
Segelintir mungkin mencoba mencari kebenaran sesungguhnya. Sayangnya ketika fakta itu disodorkan mereka menolak, memilih cerita karangan yang lebih berbau harum.
Entah apa yang membuat akuarium ini terlihat begitu menarik. Gue bahkan tak pernah repot mengaduk-aduk kejernihan di sungai yang jelas-jelas lebih luas.
Ini terasa tidak adil.
Kembali terjadi. Hanya bedanya kali ini gue sendiri. Menyisakan pilihan sulit dan sempit; pertanyaan-pertanyaan yang ada, terpaksa memantul tanpa lawan bicara.
Gue cuma bisa berdebat dengan diri sendiri yang walaupun secara sadar gue rasa, terlalu banyak energi negatif di sekitarnya. Pikiran penuh kabut tentu tak akan melewatkan cahaya. Hanya sepertinya pilihannya sangat terbatas. Berbagi tidak akan memperbaiki apapun. Kerumitan itu harus gue batasi.
Diam itu karena kehilangan. Sang dewasa yang selama ini ada mendadak enggan menampakkan diri.
Sedih. Sepi yang teramat sangat atas kosong yang ditinggalkannya. Namun, gue tidak akan menyalahkan apapun atau siapapun demi sebuah kelegaan. Percaya saja segala sesuatunya tentu terjadi atas sebuah alasan.
Seorang teman baru datang, sepertinya bermaksud baik. Hanya saja terlihat 'terlalu' berusaha untuk menjadi pahlawan. Mengobrak-abrik pertahanan itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang gue berusaha tidak pikirkan. Titik nadir tergali, pertahanan buyar, gue menyerah menjadi cengeng di depannya.
Beberapa hal baru terungkap; kenyataan yang selama ini bisa jadi dijaga dari pendengaran gue oleh sang sahabat.
Fitnah.
Besarnya kecewa ini gak bisa gue gambarkan, lantaran terjadinya dalam lingkaran nyaman itu. Cerita bohong yang sibuk dipublikasikan dan disebarluaskan sebagai topik seru pembicaraan oleh orang-orang yang selama ini gue sebut teman. Banyak sekali hal buruk. Beberapa malah dengan berani menghakimi gue atas kemalangan yang baru saja gue alami. Dan yang paling memancing amarah adalah ketika gue tau orang terbaik yang selalu ada bersama gue pun ikut diseret-seret.
Kehidupan gue mendadak menjadi seperti akuarium.
Terang benderang ditunjuk lampu sorot.
Semua orang seolah-olah beraksi menjadi yang paling tau, kemudian bersorak atas obralan cerita yang nilai kebenarannya hanya bernilai kisaran nol koma sekian persen.
Mereka sibuk ke sana kemari membandingkan karangan mana yang lebih menarik.
Segelintir mungkin mencoba mencari kebenaran sesungguhnya. Sayangnya ketika fakta itu disodorkan mereka menolak, memilih cerita karangan yang lebih berbau harum.
Entah apa yang membuat akuarium ini terlihat begitu menarik. Gue bahkan tak pernah repot mengaduk-aduk kejernihan di sungai yang jelas-jelas lebih luas.
Ini terasa tidak adil.
Astaghfirullah..
Gak ada yang bisa gue perbuat selain memeluk diri lebih erat, ngilu di hati itu harus segera diserap.
Gak ada yang bisa gue perbuat selain memeluk diri lebih erat, ngilu di hati itu harus segera diserap.
Gue berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan siapapun dalam kerumitan selama ini, tapi..
No comments:
Post a Comment