Apa yang gue rindukan?
Banyak hal.
Sekedar mengobrol dengan seorang sahabat misalnya. Beratapkan langit sembari duduk di taman luar sebuah bioskop, melihat bintang, membahas film yang baru saja ditonton; tertawa. Duduk tenang menengadah ke langit; masih dengan pembicaraan yang perlahan menjadi berat, sementara sang sahabat sedikit menjauh untuk menghirup asap penuh nikotin yang gue benci itu.
Bersama bebas menjadi diri masing-masing tanpa berusaha keras untuk disukai.
Hal lainnya yang gue rindukan?
Merebahkan kepala pada bahu ternyaman itu. Berbicara pelan, dalam, tak jarang tajam.
Seringnya berakhir dengan perdebatan atau aksi diam dari salah satu bahkan keduanya.
Kembali saling memaafkan yang diikuti pengulangan dari setiap baris paragraf ini.
Berikutnya yang gue rindukan mungkin kombinasi keduanya. Berjalan seiring, saling melengkapi, saling bersaing untuk menjadi yang paling menarik. Mengambil peran masing-masing dalam cerita yang berbeda, set tersendiri untuk menjadi skenario bagi satu sama lain.
Mm, nanti dulu..
Kayaknya tulisan ini terlalu ter-vicky-nisasi.
Gue kayak bingung mau ngambil majas yang mana, gaya bahasanya gak jelas, apalagi tanda baca yang terlalu bebas. Intonasinya bisa jadi salah dong.
Tapi coba lagi dibaca..
Ini tentang rindu kan?
Kalo memang begitu maka gak ada yang salah. Kalo rindu ya gitu, suka gak jelas. Maksudnya apa ngomongnya malah apa. Paling tidak sedikit mengurangi beban dari "dinding kamar" malam ini. Pun gak ada "lemari" untuk dia berbagi beban kan.
Apa yang gue rindukan?
Lo, kamu, dia, dan mereka
No comments:
Post a Comment