Mungkin sudah lama tidak ditempa, gue merasa agak kurang wise beberapa waktu belakangan ini. Mestinya dengan pengalaman bertahun-tahun itu gue bisa lebih dewasa menyikapi. Lebih matang.
Diskusi kayak gini sudah tertinggal dalam hitungan tahun, ilmunya pun ikut mengendap. Memalukan. Hehehe.
Gue harusnya udah lulus dari hal semacam ini, gak lagi keras kayak dulu. Tapi ya gitu, ada keengganan yang gak bisa hilang untuk membiarkan ketidaksesuaian begitu saja terjadi. Gue berbakat jadi feminist; aktivis barangkali. Hahaha.
Beberapa orang menyebutnya perfectionist, tapi kalau dalam artian sempit sih bisa dibilang keras kepala. Kalo udah ngerasa bener, kekeuh aja gitu.
Diskusi kayak gini sudah tertinggal dalam hitungan tahun, ilmunya pun ikut mengendap. Memalukan. Hehehe.
Gue harusnya udah lulus dari hal semacam ini, gak lagi keras kayak dulu. Tapi ya gitu, ada keengganan yang gak bisa hilang untuk membiarkan ketidaksesuaian begitu saja terjadi. Gue berbakat jadi feminist; aktivis barangkali. Hahaha.
Beberapa orang menyebutnya perfectionist, tapi kalau dalam artian sempit sih bisa dibilang keras kepala. Kalo udah ngerasa bener, kekeuh aja gitu.
"No need to explain about everything
You don't need to save the world"
Agak gemes sih akan beberapa hal yang berada di luar kendali, karena ngerasa at least gue bisa bantu ngejelasin. Gak tau sok pinter atau emang beneran cerdas. Hahaha
Beruntung gue punya mentor luar biasa hebat, bersedia menangani setiap keluhan seperti menjawab pertanyaan balita tentang benda-benda. Gue sadar penuh telah merepotkan, tapi beliau satu-satunya orang yang paham arah jalan pikiran gue. Terlebih punya antusias yang sama untuk membenahi ketidaksesuaian.
"Tough days are good, May. Makes you a much better person"
Gue sebenernya menamai ini tough days bukan lantaran merasa berat. Terus terang gue suka dinamika seperti ini. I love to challenge my self.
Beberapa kali gue menyebutnya tough days hanya untuk memudahkan otak gue mendefinisikan yang sedang terjadi. Kalau jarak itu tidak ada, gue mungkin akan menceritakannya sambil tertawa geli. Semua orang akan bisa melihat kejujuran dari cara gue tertawa. Gue bukan pengeluh, hanya suka bercerita.
Beberapa hal bisa saja terjadi tidak semulus skenario yang ada, tapi bukankah improvisasi yang tepat akan membuatnya sempurna?
Tidak perlu merasa bersalah pada proses. Semua orang besar itu pernah melewati tahap ini. Muda. Membangkang. Jatuh atas ke-keraskepala-annya sendiri.
Jika sesuatu terasa salah, perbaiki. Terutama diri sendiri.
Harusnya diawali dengan "Dear (former) boss.." :P
ReplyDelete