Wednesday, June 10, 2015

Lampunya nyala.
Ada semacam fatamorgana ketika gue berjalan mendekati. Sepersekian detik gue seakan ingin melongok ke dalam, berkhayal melihat satu senyum, natural pengen jahil. Ketika sadar pada detik berikutnya, rasa kehilangan itu kembali nyata. Ada serangan hebat di tenggorokan yang harus gue kendalikan. Gue sudah berjanji malam itu akan menjadi yang terakhir untuk sebuah penyerahan pada emosi.

Terbiasa mendengar gemerincing kunci itu setiap pagi, diikuti setelahnya suara langkah kaki menuju dispenser; kuping gue nyaris tertipu mata sendiri. Melihat lampu yang menyala kuping gue masih mengharapkan suara yang sama kembali terdengar. Serangan di tenggorokan itu semakin hebat, nyaris merambat ke mata.

No comments:

Post a Comment