Menarik menemukan fakta bahwa menemukan teman baik terkadang begitu mudah. Ia atau mereka bisa saja tiba-tiba hadir saat dibutuhkan tanpa kita sadar bahwa kita belum sempat berharap akan datangnya. Lebih menarik lagi bahwa ternyata teman baik itu datang tanpa diminta dan menawarkan solusi atas setiap permasalahan yang selama ini berkembang dengan luar biasa cepat dalam pikiran kita yang sempit. Menarik ketika mereka mengetahui hal-hal yang ada di depan mata kita sendiri, namun tertutup dari pandangan sepasang mata yang kita lihat setiap hari di cermin.
Teman baik. Adalah sesuatu yang gue temukan hari ini. Ia bergegas datang setelah gue mengakui sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat. Faktanya, ternyata dia telah melihat sesuatu yang gue anggap rahasia terdalam itu secara terang benderang sejak lama.
Menarik, ternyata gue tidak terlalu mengenali diri sendiri.
Si teman baik ini datang begitu saja, ringan langkah tak banyak bertanya. Menghormati batasan-batasan yang gue tegaskan. Riang saja membahas rasa yang selama ini menurut gue berat. Dia tidak mencoba menjadi guru, tapi mendidik; tidak pula repot berlagak empati meski sesungguhnya mengerti. Gue seneng bisa kembali lagi menertawakan kepedihan. Gue seneng kembali lagi merasakan semangat untuk belajar, untuk menerima bahwa tak semua harapan baik itu berujung cantik, tapi tentu ia akan berujung baik. Gue selalu keras kepala menolak kalah dari setiap ujian. Walaupun bahkan beberapa saat sebelumnya mengaku lemah dan menyerah.
Usia ini menuntun gue belajar jujur, lebih kepada diri sendiri. Maka pengakuan atas sesuatu seringkali mengalir begitu saja dengan kesatria menantang resiko yang siap datang dari setiap pengakuan itu. Yes, i'm in love and i admit it.
I'm in love to a good person. Lalu ini yang membuatnya berat. Setiap kali gelitikan dari kupu-kupu di perut itu membawa ceria, di saat yang nyaris bersamaan rasa takut pun dipaksa keluar. Tapi justru sang penakut inilah yang kemudian membawa gue menuju Tuhan. Selalu mengajakNya berbicara, tentang hati yang benar-benar Ia kuasai.
Tidak bermaksud sok religius membawa-bawa Tuhan di tulisan ini. Tapi bukankah Tuhan memang harus selalu ada di setiap tindakan kita? Maka membawa Tuhan bukanlah bentuk kesombongan, sok suci. Memikirkan Tuhan pada setiap rasa yang kita miliki sejatinya adalah sifat natural manusia.
Hari ini gue telah jujur pada diri sendiri, padaNya, pada dia, pada teman baik yang telah ikhlas bergegas hadir.
Berulangkali memencet tombol backspace di handphone, lantas memilih judul untuk tulisan ini seperti kutipan tulisan yang gue jadikan wallpaper di handphone ini.

No comments:
Post a Comment