Menemukan tulisan ini waktu lagi iseng selancaran di google. It is so deep.
Jarak frekuensi waktunya agak deket ya dari tulisan terakhir yang juga membahas cinta. Kadang beberapa orang menganggap mengangkat cinta sebagai tema terlalu picisan, lebay dan menggelikan; gue termasuk salah satunya. Lantas, kenapa tiba-tiba berubah? Mari kawan, kita mendengarkan sedikit cerita.
Cinta itu fitrah setiap manusia. Ketika masih kecil kita mengenal cinta itu hanya pada dua orang, ayah dan ibu, lalu berkembang karena dua orang yang kita cintai tersebut mengajarkan untuk juga mencintai saudara, kerabat, teman, orang-orang sekitar, kaum dhuafa, dan sebagainya. Kita tumbuh berkembang, lalu menyadari ada cinta baru yang tumbuh begitu saja dengan rasa yang sedikit berbeda. Cinta kepada lawan jenis, pun ia berkembang. Awalnya kita mengenal cinta monyet yang setiap kehilangannya hanya akan membuat kita mencari 'monyet-monyet' lainnya. Usia terus bertambah, 'monyet' pun mungkin lelah. Cinta itu menjadi dewasa, lebih dalam, lebih memakan waktu-pikiran-tenaga; maka setiap kehilangannya pun terasa lebih dalam, lebih sulit untuk dihilangkan dan buruknya jika tidak disertai pengendalian sisanya bisa berubah menjadi dendam, kehilangannya pun juga ikut menghilangkan nyawa.
Manusia dewasa sejatinya telah melewati lebih banyak kesakitan dibanding makhluk yang baru hanya kenal cinta ayah-ibu-saudara yang jarang sekali mengecewakan (kecuali untuk kasus-kasus tertentu). Oleh karena itu, sejatinya manusia dewasa punya lebih banyak jurus pengendalian. Tidak seperti si kecil yang hanya tau caranya mengeluarkan air mata, berteriak-teriak, terisak merengek ketika keinginannya tidak dipenuhi. Si kecil hanya tau pengkhianatan cinta dan patah hati jika orang-orang yang mengakui mencintainya menolak membelikan mainan.
Manusia dewasa harusnya telah memahami iman, yang tidak lagi hanya sekedar hafalan yang biasa diteriakkan di depan microphone saat bertugas tampil pada acara didikan shubuh. Manusia dewasa sejatinya telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya penuntun dan lebih dari sekedar percaya bahwa setiap segala sesuatu membawa hikmah.
Manusia dewasa, jauh sangat berhati-hati dalam jatuh cinta.
Maka, jangan heran ketika melihat manusia dewasa justru menangis lama ketika seseorang datang kepadanya membawa cinta. 'Mengobrol' lebih lama dengan Tuhannya bertanya tentang cinta yang datang. Sebaliknya, tersenyum ketika cinta yang pernah diberikan kemudian ditarik kembali secara paksa; meski di antaranya senyum itu diselingi tegukan atas air mata yang tertahan di kerongkongan.
Gue adalah manusia dewasa secara usia. Seluruh cerita tadi bisa jadi sebagian besarnya adalah bagian dari naskah takdir gue. Pernah merasakan kebimbangan yang hanya bisa diungkapkan dengan 'mengobrol' lebih lama dengan Sang Pencipta ketika seorang baik datang menawarkan cinta bersamaan dengan cinta lainnya yang sudah terlanjur ada yang kesepian tidak menemukan teman. Sederhananya, bertepuk sebelah tangan.
Pernah bersikeras menggenggam cinta yang diberikan walau terus menerus menusuk. Seperti anak kecil penurut yang dititipi segenggam serangga untuk dipegangi, serangga itu kemudian menggigit namun si anak kecil tetap menggenggamnya erat. Satu-satunya alasan hanyalah takut kehilangan. Takut kehilangan yang bisa jadi karena rasa sayangnya, namun tidak menutup kemungkinan hanya karena ia tak ingin membuat orang yang menitipkan kecewa.
Seperti kutipan tulisan hasil iseng tadi, manusia dewasa punya kewajiban tahu, paham dan bersikap semestinya.

No comments:
Post a Comment