Tuesday, March 07, 2017

Mereka Lelah Menunggu

Hampir empat tahun sudah saya bergabung dengan tim proyek Palyja. Menjadi bagian dari tim ini berarti mendapati salah satu mimpi Alhamdulillaah telah terwujud. Sejak kecil saya bermimpi memiliki pekerjaan yang aktif, penuh dinamika, dan tantangan. Mendekati usia dewasa mimpi itu semakin spesifik, berandai-andai tergabung dalam satu tim impian dengan misi menuntaskan suatu proyek yang setiap personilnya memiliki kompetensi berbeda, namun cekatan bekerja sama menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

1 Juli 2013 hari pertama saya mengenal tim ini, tim konstruksi. Berisikan orang-orang yang hampir seluruhnya pria, senior, telah berpuluh-puluh tahun merasakan panas dingin dunia perproyekan. Hanya ada dua orang wanita di tim yang berjumlah total 30 orang itu, salah satunya saya. Aura ketangguhan yang benar-benar terasa.

Menjadi bagian dari tim proyek berarti merasakan semua pengalaman yang tadinya hanya berupa mimpi. Bekerja di lapangan, petantang-petenteng dengan sepatu safety, rompi bersinar, helm proyek, kemana-mana membawa gambar teknik, menghirup udara berdebu, asap knalpot di jalanan, berjemur di bawah matahari, hitam; bagi anak baru lulusan teknik ini tak hanya pekerjaan, tapi kebanggaan. Pongah sekali. Bekerja di lapangan tak semata tentang hal itu. Berada di luar kantor artinya bersinggungan langsung dengan masyarakat, melihat dengan mata kepala sendiri kondisi aktual, ikut mendengarkan keluhan-keluhan dari para pelanggan yang notabene menduduki posisi puncak dari alur pelayanan ini. PT. PAM Lyonnaise Jaya (Palya) adalah perusahaan penyedia pelayanan air bersih, maka fokus utamanya adalah kepuasan pelanggan sebagaimana perusahaan-perusahaan lainnya yang bergerak di bidang jasa.

Menjalani hari-hari di tim ini kemudian membuat saya menyadari bahwa pekerjaan proyek di kota metropolitan seperti Jakarta tentunya berbeda dengan proyek di kota-kota atau daerah lainnya. Jakarta adalah kota yang heterogen, menantang dari sisi teknis dan non teknis, diisi penuh sesak oleh manusia-manusia dengan berjuta karakter, berbagai latar belakang, keragaman lingkungan, kesemrawutan utilitas dan lalu lintas yang menuntut kematangan ekstra dari setiap pihak yang terlibat agar pekerjaan bisa berjalan lancar. Harus pintar menangani setiap keluhan, teguran lisan langsung, tulisan di berbagai media, bahkan kebal terhadap caci maki; tak boleh menjadikannya sebagai penghambat, karena memang semua hal itu adalah bagian dari pelayanan. Pelanggan tidak akan mau dan memang tak perlu tahu tentang kendala-kendala yang kita hadapi, yang mereka mau adalah air selalu tersedia setiap kali mereka menyalakan keran.

“Ini kerjaan kelarnya kapan ya, Neng?”, seorang ibu sambil menyuapi anaknya di gendongan datang bertanya.
“Kita rencanakan kurang lebih tiga bulan bu”
“Lama juge ye. Tapi entar itu jalanan dibenerin lagi gak, Neng? Kemaren juga ada tuh yang udah digali, tau-tau ditinggal. Mana musim ujan pan ye, jadi becek kemana-mana, Neng”, masih sambil menepok-nepok anaknya.
Keluhan-keluhan seperti itu biasa kami dengar, ketika di lapangan, pada saat sosialisasi yang dilakukan sebelum proyek dimulai, bahkan saat sedang istirahat makan di warung. Sering pula saya mendengar cerita-cerita horror dari para senior, tentang mereka yang ditawan warga karena air mati pada saat proyek berlangsung, diancam senjata tajam, dipalak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan lembaga-lembaga tertentu, dan cerita lainnya yang kadang tentu membuat gentar. Kendati seram, namun itulah faktanya: banyak keluhan terjadi yang berarti ada pelayanan yang belum maksimal.

Sosialisasi Pelanggan sebelum Proyek Rehabilitasi Jaringan dan Pipa Dinas Jl. Kampung Gusti – Komplek TPI Kelurahan Penjagalan Utara
Sumber: Dokumentasi Network Construction Department

Lalu, dari pertanyaan-pertanyaan serupa itu saya bisa tahu bahwa pelanggan tak ingin menunggu. Taiichi Ohno, seorang Chief Engineer yang dikenal sebagai bapak dari Sistem produksi Toyota juga menyebutkan bahwa menunggu adalah bagian dari pemborosan, tidak efisien. Pelanggan jengah dengan tanah-tanah bekas galian yang ada di sekitar rumah mereka, mereka tidak sabar dengan air yang keluar terlalu kecil, mereka ingin segera semuanya diperbaiki. Kualitas, kuantitas, dan kontunuitas; begitu dulu dosen saya menyebutnya. Tiga kata yang menjadi tujuan utama dari pelayanan penyediaan air bersih, air bersih yang keluar lancar, banyak, dan terus menerus. Pengerjaan proyek yang baik adalah langkah awal untuk mewujudkan tujuan itu.

Proyek pemasangan pipa air bersih di Palya dilakukan dengan sistem kerjasama antara PT. Palyja dan pihak ke-3, yakni kontraktor yang terikat dengan frame contract. Kontraktor tersebut nanti akan bekerja memasang material-material perpipaan yang telah disediakan Palyja. Alurnya adalah adanya permintaan pelaksanaan proyek dari unit kerja tertentu kepada tim proyek yang didasari oleh kajian dan studi yang telah dilakukan sebelumnya terkait kebutuhan air dan kondisi actual pelayanan air suatu daerah pelayanan. Permintaan ini kemudian diproses untuk dibuat desain proyek beserta perhitungannya. Setelah desain disetujui maka ditunjuklah kontraktor pelaksana, dilanjutkan dengan pengurusan izin kepada pihak-pihak terkait, yakni Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP), Bina Marga atau Kementrian Pekerjaan Umum tergantung kepada rencana lokasi pelaksanaan proyek tersebut. Paralel dengan hal itu pengadaan material telah diproses di unit kerja bagian pengurusan logistik Palyja yang disesuaikan dengan desain yang telah dibuat. Setelah perizinan dan material diperoleh, dilanjutkan dengan persiapan proyek oleh kontraktor yang disupervisi oleh tim proyek Palyja, begitu seterusnya hingga proyek selesai dan air bisa dinikmati pelanggan.

Pelaksanaan Proyek Pemasangan Pipa Jl. Jati Baru –Tanah Abang
Sumber: Dokumentasi Network Construction Department

Akan tetapi, seringkali di tengah pengerjaan terdapat kendala-kendala yang menyebabkan proyek tertunda, salah satunya adalah ketidaktersediaan material. Hal ini terjadi karena material yang telah disediakan berdasarkan desain tidak sesuai dengan yang harusnya terpasang di lapangan, sehingga tak jarang suatu proyek terpaksa harus berhenti dalam kurun waktu yang cukup lama, menunggu material yang sesuai bisa diperoleh. Pengadaan material ini bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Lantas akan timbul pertanyaan, “Apakah desain Palyja tidak akurat? Apakah pada desainernya kurang terampil? Apakah pihak penyedia material lamban?” Sayang sekali kawan, kita tidak bisa sebegitu mudahnya mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Perlu diketahui pengerjaan proyek pemasangan kontruksi pipa tidak bisa disamakan dengan konstruksi lainnya, karena pemasangan pipa air bersih bukanlah pekerjaan di atas permukaan tanah yang jelas terlihat dan bisa diprediksi kebutuhannya. Pipa-pipa air bersih di Jakarta adalah pipa-pipa yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, jaringannya sudah malang melintang bahkan sejak zaman penjajahan, maka perubahan terhadapnya sudah banyak terjadi, seiring dengan perkembangan kota yang begitu pesat. Lalu, yang bisa menjadi fokus adalah memangkas waktu tunggu pengadaan material yang cukup lama tersebut.

Penanggung jawab suatu proyek adalah Project Manager atau yang biasa disebut PM. Tugasnya adalah mengendalikan jalannya proyek agar bisa selesai tepat waktu dengan target kualitas dan kuantitas yang telah ditetapkan. Idealnya, PM bisa bergerak bebas mengatasi setiap permasalahan dengan cara apapun selama kualitas dan kuantitas tidak dikorbankan. Sebelumnya saya telah menyebutkan kendala yang sering dihadapi oleh tim proyek, yaitu hanya bisa menunggu untuk pengadaan material ketika material yang ada tidak sesuai dengan yang harus dipasang di lapangan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama, PM pun hanya bisa menunggu. Menurut Deava Teknik dalam tulisannya yang berjudul Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Project Manager pada http://bukuklik.blogspot.co.id yang diunggah tahun 2014 lalu menyebutkan, bahwa Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Project Manager, yaitu:
  • Membuat rencana kerja dan anggaran konstruksi
  • Mengendalikan seluruh kegiatan konstruksi
  • Melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait
  • Membangun komunikasi internal dan eksternal
  • Menetapkan kebutuhan sumber daya
  • Menentukan alternatif mencapai target
  • Menyetujui rencana dan metode kerja
  • Menunjuk pemasok dan subkontraktor
  • Tercapainya sasaran biaya, mutu,waktu, k3 dan lingkungan
  • Efisiensi dan efektifitas penggunaan sumber daya
  • Terkoordinasinya semua pihak terkait
  • Kepuasan pelanggan
Akan lebih baik seandainya PM Palyja bisa memiliki wewenang seperti yang tersebut di atas, sehingga jika material yang menjadi kendala sulit diperoleh PM bisa memerintahkan untuk mencari alternatif penyedia selama kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan standard yang ada.

Alasan Palyja menetapkan setiap material perpipaan yang dipakai harus bersumber dari pengadaan pihak Palyja adalah demi menjamin kualitas material tersebut sesuai dengan standard kualitas yang sudah ditetapkan Palyja. Keputusan ini tentunya kembali lagi demi kepuasan pelanggan. Material yang baik akan menghantarkan air yang baik, tidak terganggu kualitasnya dengan daya hantar yang baik pula. Akan tetapi, jika dalam pelaksanaannya mimpi memberikan kualitas air yang baik ini mengorbankan mimpi membuat pelanggan tidak menunggu tentunya menjadi cacat dalam sebuah kesempurnaan harapan. Lantas, akan ada pertanyaan, “Apakah dengan pengadaan material yang menjadi kendala ini dilakukan secara mandiri akan mempengaruhi biaya? Bukankah bertentangan dengan prinsip efisiensi?” Kawan, jangan paksa saya menjabarkan ini dengan matematika. Tak perlulah rasanya kita menuliskan angka-angka rupiah dalam tulisan ini, nanti tulisan ini akan terasa seperti kuliah matematika yang menerangkan ilmu aljabar, penuh rumus berderet-deret. Logikanya adalah, jika permasalahan material ini teratasi, maka durasi proyek bisa dipangkas, air pun segera mengalir, rupiah segera bisa terserap, kita terhindar dari caci maki, keuntungan perusahaan berlipat-lipat, semua senang.

Akan tetapi, kita bukan bicara soal keuntungan di sini. Efisien tak harus selalu soal uang. Kita bernyanyi dengan lirik pelayanan, ketika kepuasan pelanggan yang menjadi tujuan itu terwujud keuntungan secara rupiah adalah bonus. Ketika wajah senyum sapa ada, ketika ibu-ibu tak perlu lagi meneriaki anak-anak mereka untuk segera mandi karena khawatir air akan segera raib, ketika hajat alami pun waktu pembuangannya tak harus mengikuti jadwal ketersediaan air, ketika orang-orang bisa berwudhu dengan tenang, ketika tak lagi para ayah harus direpotkan dengan membawa sepeda motor mereka untuk dicuci di kali, ketika saya dan tim proyek lainnya bisa makan di warung tanpa diserobot rentetan pertanyaan, ketika kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air tak lagi hanya menjadi ceramah para dosen; ketika saya, Anda, dan kita semua bersinergi bersama demi air itulah efisiensi. Jangan buat mereka lelah menunggu. Let’s make it happen together!

No comments:

Post a Comment