Tuesday, February 21, 2017

Dream Guy

Oh, i have a lot of things to write!

Dipenuhi semangat 'to get over', beberapa hari ini gue banyak berdiskusi dengan para teman baik tentang diri gue. Menakjubkan mengetahui mereka ternyata memiliki pandangan dengan rupa-rupa warna, about my dream guy.

Tanpa bisa melepas senyum geli dari wajah, gue di pojok ruangan mengetik dengan bayangan kalimat-kalimat konyol mereka di pikiran. Menarik, ternyata penilaian itu telah dikotak-kotakkan yang padahal gue sendiri tidak pernah membahas ini secara serius sebelumnya. I am extrovert, tapi jika tentang perasaan gue selama ini lebih memilih diam walaupun si overthinking pastinya tidak pernah bisa melarang otaknya membuat dialog-dialog dengan skenario berbumbu kekhawatiran.

"Ah, susah! Yang lo mau itu high level"

Penilaian pertama dan WOW! Hahaha. Gue kehabisan ekspresi menanggapi ini. Haruskah tersanjung? Kesal? Atau justru khawatir? Selama masih sibuk berpikir tentang tanggapan yang tepat, perasaan spontan yang terasa adalah geli. Then i start to realize about something. Pantas saja selama ini si teman-teman baik ini tidak pernah ada yang bertanya jauh. Segan. Di mata mereka gue sedikit ekslusif.
Lalu, apa yang dimaksud dengan high level itu? Bukan, ini bukan tentang kekayaan, latar belakang keluarga, jabatan, pekerjaan, gaji tinggi, mobil ataupun hal-hal luxury lainnya. Ini tentang karakter yang tidak hanya memikirkan akhirat, namun juga harus modern. Huge. It's such a burden.
Si overthinking bertanya mulai sibuk bertanya kembali pada diri sendiri, apa iya begitu? Jika benar, apa gue pantes punya target setinggi itu?
Tapi paling tidak satu hal benar, yang menjadi poin adalah karakter bukan hal lainnya.

"Kalo lo itu kayaknya mesti nyari di pesantren deh, May"

And just for record, yang ngomong begini itu seorang teman yang berbeda keyakinan dengan gue. Ini setali dengan ucapan spontan dari teman lainnya beberapa tahun yang lalu, ketika beberapa orang ini berisik berdebat ringan, "Si Maya tuh maunya yang kayak gimana sih?"...."Kalo Maya mah nyarinya yang sholeh". Aduh! Ini bisa dapet kesimpulan dari mana lagi coba? Gue itu anaknya bandel, senengnya maen kelayapan, pecicilan, jauh dari baik. Gimana ceritanya bisa berharap yang sholeh bisa mau? Hahaha. Lagian kayaknya tahun-tahun itu gue belum pernah bercerita tentang harapan gue akan karakter idaman.

"Gue gak punya temen yang tinggi, kurus gitu May"

Kemudian akhirnya berbicara tentang fisik, yang paling aneh dari semuanya karena gue gak punya kriteria khusus untuk ini.

Dari mana semua pemikiran ini berasal? Gue yang perannya di bagian ini hanya sebagai pendengar cuma bisa senyum-senyum bingung, seperti anak kecil yang baru diajari bahwa lirik yang benar dari lagu Garuda Pancasila itu adalah "....patriot proklamasi..." bukan "prok prok proklamasi" seperti yang telinga baru berkembangnya salah dengar selama ini. Malu, karena menyadari ia dikoreksi dengan sebuah kebenaran.

Jadi, benarkah pemikiran mereka itu adalah sebuah koreksi yang ditunjukkan? Atau mereka berbicara berdasarkan yang mereka lihat dari orang-orang yang pernah deket sama gue? Sepertinya tidak ada satupun di antara para lelaki itu yang typical. Mungkin gue memang tidak terlalu mengenal diri sendiri.

No comments:

Post a Comment