Thursday, July 20, 2017

Istri itu harus nurut sama suami, sama halnya kayak anak yang harus nurut sama orang tua. Pun aturannya sama, yang berhak dimanuti itu ya selama ajarannya baik dan tidak menyimpang dari ketentuan Islam.

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya menimbulkan sikap patuh itu?

Orang tua memproses pendidikan terhadap anaknya sedari anak tersebut belumlah berwujud, masih berupa harapan dalam doa-doa yang dipanjatkan. Sang anak kemudian lahir dengan keterbatasan kemampuan fisik, rasa dan pikiran. Pelan-pelan orang tua dengan perannya masing-masing sebagai ayah ataupun ibu memberikan sentuhan kasih sayang, doa tanpa henti yang dari situlah kemampuan fisik, mental, dan daya pikir sang anak terbentuk lalu berkembang. Bertahun-tahun dengan tanpa menyebutkan ataupun menghitung pengorbanan, orang tua ikhlas menempa, memperkenalkan hitam-putih, abu-abu, warna-warni dunia; seikhlas mereka menerima pada akhirnya sang anak akan memiliki warnanya sendiri.

Dalam cerita ini sang anak mungkin seorang perempuan yang pada masanya harus beralih patuh pada seorang baru. Dalam cerita lainnya sang anak bisa jadi adalah seorang laki-laki yang pada masanya akan memperoleh tanggung jawab yang sama seperti orang tua, menjadi panutan bahkan sebelum ia memiliki anak; maka ia harus menyerap dengan sigap dan tepat setiap ajaran yang diterimanya.

Menjadi guru tak pernah sama artinya dengan menggurui, maka agar dipatuhi seorang haruslah hadir dengan contoh. Orang tua yang kasar dan keras hanya akan mendapati anaknya menjadi penakut, bahkan bisa jadi setelahnya menjadi sangat pembangkang. Orang tua harus hadir dengan mendengar agar si anak paham bahwa suatu saat ia pun harus begitu, orang tua harus hadir dengan pelukan karena akan menyadarkan sang anak tentang kasih sayang, orang tua haruslah mempunyai beraneka ragam jawaban karena anak adalah makhluk yang tak pernah berhenti bertanya, orang tua harus hadir dalam maaf karena di tiap kesalahan sang anak ia butuh tempat untuk jujur mengaku, orang tua haruslah belajar karena ia lah sang pengajar.

Lalu si anak entah itu perempuan ataupun laki-laki kemudian saling dipertemukan dengan seorang baru untuk mengikuti langkah yang sama dengan orang tua. Anak perempuan ketika beralih peran menjadi istri, maka ia adalah 'barang jadi' dengan label baru. Anak laki-laki yang kemudian siap mengambil tanggung jawab menjadi suami juga sama sekali baru dengan tugas-tugasnya. "Baru" adalah kata kuncinya di sini, maka setiap hal baru haruslah dipelajari. Harus membekali diri.
Seorang istri harus mengerti bahwa kepatuhannya pada orang tua yang telah tumbuh seiring usianya harus memiliki kematangan yang sama dengan patuhnya kepada suami yang jelas-jelas baru saja dikenalnya. Seorang suami tentu harus memahami bahwa kasih sayang yang sepanjang umurnya telah dipupuk kepada orang tua harus dituai dengan sama manisnya oleh istri yang nanti akan dididiknya.

He can not be bossy, because he isn't. He must lead, because he is a leader.
He has to realise that a girl he call wife is a human being with her own thoughts, her own feelings, her own will

She can not be spoil, nor selfish just because she is too much independent to stand on her own. She has to understand that a guy she loves to be husband is a man who will be burdened by anything she does like her father used to be


No comments:

Post a Comment