Ingin rasanya memuntahkan segalanya dengan terang, walau tak lagi berharap belas kasihan seperti waktu belia.
Ini pernah terjadi sebelumnya.
Pernah dalam terang mengharap kasihan dari dunia, berdarah-darah bercerita pada semua tentang luka. Konyol. Lantaran masih muda.
Pada akhirnya tetap tak membawa hasil, karena dunia tak akan mengasihi lemah.
Ini harusnya menjadi pelajaran.
Pernah diam menjauh berlindung bahkan dari teman terbaik yang sekiranya tak peka. Hasilnya terasa lebih baik, walau satu luka masih menjadi pekerjaan rumah untuk tak terinfeksi dengan drama.
Ini kembali ada.
Tenang. Tarik napas panjang. Pergi jika memang perlu, tanpa lebay mengharu biru.
Trus ini apa?
Terserahlah disebut apa. Ini terasa seperti efek morfin. Atau bolehlah endorfin.
Menenangkan.
Selain aduan pada Sang Penguasa yang mestinya memang tak perlu diutarakan.
Demi menghindari kesalahpahaman, baca kembali judulnya baik-baik.
Cermati, pahami. Jangan gunjingi!
No comments:
Post a Comment