"Jangan mengejarku dan jangan mencarikuAku yang kan menemukanmu kau mekar di hatikuDi hari yang tepat.."
Nyanyiin penggalan
lirik itu buat gue.
Bahkan setelah
bertaun-taun berlalu jiwa ini belum belajar untuk tumbuh, menjadi bijaksana
dalam pemikiran.
Mestinya dengan
semua pengalaman itu ada kematangan pada akhirnya.
Bukan
pikiran-pikiran yang sering beradu argumen setiap waktu demi memenangkan emosi
untuk dipertahankan.
Harusnya suara-suara
itu lelah berdebat.
"Tenanglah tenang..Aku kan datang dan memungutmu ke hatiku yang terdalam,Bahkan ku tak kan bertahan tanpamu"
Please,
ensure me!
Bahkan dalam masa
pembelajaran ini, berkali-kali mencoba berbicara kepada Tuhan, bertikai dengan
diri sendiri tak sanggup mencegah kembali terjebak dalam ketidakpercayaan,
bahwa akan ada hati yang benar-benar menginginkan..
Membutukan dengan
sangat, seperti nanti hati ini pun akan lakukan.
Tak pernah ada
kekonyolan dalam pengakuan
Seharusnya gue lebih
dari sekedar akrab dengan kalimat ini, hingga tak harus merasa kaku pada
kejujuran
Unfortunately,
sometimes to be honest to your one and only soul is he hardest one to do
Mengaku, tak jarang
membuat gue merasa mempermalukan diri sendiri. Membuat gue merasa seolah-olah tak mampu
berdamai dengan takdir yang sejatinya manis.
Atau mungkin bahkan
terlalu mengkhawatirkan pendapat orang-orang yang gagal memahami maksud
sebenarnya, seterang benderang apapun ia dipaparkan.
Namun seringkali dalam
setiap kekalutan itu, senyum muncul tanpa bisa dicegah beriringan dengan
ketidakpedulian akan pendapat-pendapat saru.
Tak cukupkah
membuktikan kekuatan?
Tak cukupkah
meyakinkan keraguan akan kemampuan Sang Pencipta?
Tak cukupkah
memperkuat iman dan bersabar?
Gue selalu menyadari bahwa bahkan dalam urusan
terkonyol di hidup ini selalu ada andil Tuhan di dalamnya. Mestinya dengan kesadaran itu gue gak harus malu
membahas ini denganNya, karena sejatinya tak ada tempat yang lebih baik.
Tak ada jawaban yan
lebih pasti.
Tak akan ada
kekecewaan atas keputusan terbaik.
Pada akhirnya dibalik semua penelaahan itu, gue akan kembali berbicara dengan banyak kata 'mungkin'.
Mungkin gue belum banyak belajar.
Mungkin gue terlalu cepat merasa puas.
Mungkin terlalu tidak sabar.
Mungkin terburu-buru bukan tindakan yang pantas.
Mungkin setelah ini ada jawaban.
Semoga..
Reality is not continually In line with expectation. Thus , prepare your self To face the poor reality
ReplyDelete"Be There"
InsyaAllah :)
Delete