Friday, March 20, 2015

because i am that emotional

Gue memilih untuk tidak mencari tau tentang apapun yang sekiranya bisa mengganggu kestabilan emosi. Memilih menutup mata atas hal-hal yang berpotensi membuat sedih, baik secara abstrak maupun yang lugas terlihat.
Gue mengatasi emosi negatif dengan cara mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang membuat tawa. Sebisa mungkin diam, mengatur napas, menjernihkan pikiran.
Gue akan meminta doa dari orang-orang di sekitar gue alih-alih berkeluh kesah tentang masalah. Gue telah mendapat peran sebagai 'pendengar' dalam setiap curhat bukan 'penutur', maka gue stick dengan peran itu. Lebih baik begitu.

Gue menjauhkan diri dari hal-hal yang bukan menjadi urusan gue. Menutup mata dan telinga jika sekiranya hal itu disodorkan tanpa bisa dihindari. Belajar dewasa dengan cara gue sendiri.

Beberapa hal tak jarang terjadi di luar kendali, meski secara logis dengan penuh kesadaran mestinya tak lantas menjadi gangguan. Gue akan meminta bantuan, karena mandiri tak harus selalu berarti sendiri.

Gue selalu melibatkan Tuhan dalam setiap keikhlasan yang terus menerus gue pelajari.

Semua pilihan-pilihan di atas ada karena gue yakin setiap individu mengenal dirinya sendiri melebihi orang lain. Setiap manusia bertindak atas alasan mereka masing-masing, baik atau buruk tetap ada hal yang menjadi latar belakangnya.

Atas setiap alasan tersebut, tidak mesti semua orang mengetahui. Tak usahlah terlalu berharap semua orang akan mengerti. Emosi itu pribadi,

Seperti pilihan-pilihan gue tadi, bisa jadi beberapa orang menganggapnya sebuah tindakan pengecut, sementara orang lainnya menilainya sebagai tindakan yang baik; sisanya bisa saja tidak peduli.

since i am that emotional, gue ada di blog ini. Emosi negatifnya harus segera dilepaskan.

as a friend told me,
"Lo itu gak pantes sedih-sedihan, gak pas di muka"
Teman-teman luar biasa itu selalu ada di sana, dengan doa-doa mereka

 

No comments:

Post a Comment