Thursday, April 30, 2015

Changing is a must

(Kosong)
......................................................................................................................................................................
......................................................................................................................................................................
..............................................................................


Terus terang gue kehilangan kata-kata buat ngungkapin ini.
Sedih? Kehilangan? Shock?

Seakan semua konsentrasi tertinggal di ruangan itu.
Beritanya terlalu mengejutkan, walaupun semestinya gue diharuskan siap sejak lama.
Selama ini cerita serupa hanya gue denger sebagai cerita lalu, kalaupun faktanya pernah mendekat pada waktu yang disebut-sebut sebagai masanya; sang penandai* santai menepis. Sehingga otak gue pun mulai mencerna semua kemungkinan itu hanya sebagai grapevine. Tidak akan pernah terjadi. Paling tidak, bukan dalam waktu dekat. Paling tidak, kejadiannya baru akan benar-benar ada ketika gue telah berada di fase baru hidup gue, sehingga gue tidak harus berhadapan langsung. Paling tidak, harusnya kenyataannya mendekati skenario yang telah gue rancang di otak ini. Paling tidak.

Beberapa postingan di blog ini harus dibenahi, tadinya itulah yang menjadi fokus gue. Ada beberapa hutang yang harus gue bayar pada jiwa sendiri sebelum benar-benar berdamai untuk selamanya dengan hati. Ada keputusan besar yang sepatutnya menjadi konsentrasi utama hari ini.
Gue telah menciptakan moment itu.
Tapi, kejadian siang ini merupakan gangguan yang cukup besar. Fokus itu seketika beralih.
Akan ada kehilangan lagi.

Kenapa gue harus menyegerakan menulis? Gue harus segera sibuk. Secepatnya mengalihkan fokus, karena gue gak mau muka gue terang terbaca.
Gue khawatir emosi ini terlalu kentara terlihat, karena telah terbukti selama dua tahun ini suasana hati gue selalu dengan lugas ditebak.

Seperti kehilangan sahabat baik.
Menghadapi kenyataannya terasa seperti menangani berita kematian.
Gue gak tau harus merespon apa. Bisa jadi ketika gue mencoba berbicara yang keluar malah drama. Akan terlihat sangat berlebihan seandainya gue gak bisa menahan diri dan ketauan nangis di sini.
Tapi gue memang merasa punya ikatan emosi sendiri. Gue menyukai bergaul bersama karakter itu. Lawan bicara yang seimbang. Sejauh ini gak banyak jumlahnya buat gue.
Sosok ini salah satunya. Mampu menangani isi pikiran gue dengan sangat baik. Lihai menanggapi pembicaraan gue apa pun bentuknya.

Rasanya tak nyaman, namun kembali lagi sebuah perubahan wajib adanya demi sesuatu yang lebih baik. Statis tidak akan menghasilkan kebaikan, karena semuanya akan berjalan di tempat.

Hal ini tentunya juga besar untuknya.

Gue bercerita dalam kapasitas kondisi emosi pribadi.
Orang pertama yang gue temui dan seketika terasa cocok secara profesional, bahkan seru secara sosial.

Setelah ini, tanpa mengurangi rasa hormat gue akan mengingatnya sebagai teman pertama gue di 'naungan' ini.

Well boss, i'll be missing you..a lot!

No comments:

Post a Comment