Hampir empat tahun sudah saya bergabung
dengan tim proyek Palyja. Menjadi bagian dari tim ini berarti mendapati salah
satu mimpi Alhamdulillaah telah terwujud. Sejak kecil saya bermimpi memiliki
pekerjaan yang aktif, penuh dinamika, dan tantangan. Mendekati usia dewasa
mimpi itu semakin spesifik, berandai-andai tergabung dalam satu tim impian dengan
misi menuntaskan suatu proyek yang setiap personilnya memiliki kompetensi berbeda,
namun cekatan bekerja sama menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
1 Juli 2013 hari pertama saya mengenal tim
ini, tim konstruksi. Berisikan orang-orang yang hampir seluruhnya pria, senior,
telah berpuluh-puluh tahun merasakan panas dingin dunia perproyekan. Hanya ada
dua orang wanita di tim yang berjumlah total 30 orang itu, salah satunya saya.
Aura ketangguhan yang benar-benar terasa.
Menjadi bagian dari tim proyek berarti merasakan
semua pengalaman yang tadinya hanya berupa mimpi. Bekerja di lapangan,
petantang-petenteng dengan sepatu safety,
rompi bersinar, helm proyek, kemana-mana membawa gambar teknik, menghirup udara
berdebu, asap knalpot di jalanan, berjemur di bawah matahari, hitam; bagi anak
baru lulusan teknik ini tak hanya pekerjaan, tapi kebanggaan. Pongah sekali.
Bekerja di lapangan tak semata tentang hal itu. Berada di luar kantor artinya bersinggungan
langsung dengan masyarakat, melihat dengan mata kepala sendiri kondisi aktual,
ikut mendengarkan keluhan-keluhan dari para pelanggan yang notabene menduduki
posisi puncak dari alur pelayanan ini. PT. PAM Lyonnaise Jaya (Palya) adalah
perusahaan penyedia pelayanan air bersih, maka fokus utamanya adalah kepuasan
pelanggan sebagaimana perusahaan-perusahaan lainnya yang bergerak di bidang
jasa.
Menjalani hari-hari di tim ini kemudian
membuat saya menyadari bahwa pekerjaan proyek di kota metropolitan seperti
Jakarta tentunya berbeda dengan proyek di kota-kota atau daerah lainnya.
Jakarta adalah kota yang heterogen, menantang dari sisi teknis dan non teknis,
diisi penuh sesak oleh manusia-manusia dengan berjuta karakter, berbagai latar
belakang, keragaman lingkungan, kesemrawutan utilitas dan lalu lintas yang
menuntut kematangan ekstra dari setiap pihak yang terlibat agar pekerjaan bisa
berjalan lancar. Harus pintar menangani setiap keluhan, teguran lisan langsung,
tulisan di berbagai media, bahkan kebal terhadap caci maki; tak boleh
menjadikannya sebagai penghambat, karena memang semua hal itu adalah bagian
dari pelayanan. Pelanggan tidak akan mau dan memang tak perlu tahu tentang kendala-kendala
yang kita hadapi, yang mereka mau adalah air selalu tersedia setiap kali mereka
menyalakan keran.
“Ini kerjaan
kelarnya kapan ya, Neng?”, seorang ibu
sambil menyuapi anaknya di gendongan datang bertanya.
“Kita rencanakan
kurang lebih tiga bulan bu”
“Lama juge ye.
Tapi entar itu jalanan dibenerin lagi gak, Neng? Kemaren juga ada tuh yang udah
digali, tau-tau ditinggal. Mana musim ujan pan ye, jadi becek kemana-mana, Neng”, masih sambil menepok-nepok anaknya.
Keluhan-keluhan seperti itu biasa kami dengar,
ketika di lapangan, pada saat sosialisasi yang dilakukan sebelum proyek
dimulai, bahkan saat sedang istirahat makan di warung. Sering pula saya
mendengar cerita-cerita horror dari para senior, tentang mereka yang ditawan
warga karena air mati pada saat proyek berlangsung, diancam senjata tajam,
dipalak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan lembaga-lembaga
tertentu, dan cerita lainnya yang kadang tentu membuat gentar. Kendati seram,
namun itulah faktanya: banyak keluhan terjadi yang berarti ada pelayanan yang
belum maksimal.
Sosialisasi
Pelanggan sebelum Proyek Rehabilitasi Jaringan dan Pipa Dinas Jl. Kampung Gusti
– Komplek TPI Kelurahan Penjagalan Utara
Sumber: Dokumentasi
Network Construction Department
Lalu, dari pertanyaan-pertanyaan serupa itu
saya bisa tahu bahwa pelanggan tak ingin menunggu. Taiichi Ohno, seorang Chief Engineer yang dikenal sebagai
bapak dari Sistem produksi Toyota juga menyebutkan bahwa menunggu adalah bagian
dari pemborosan, tidak efisien. Pelanggan jengah dengan tanah-tanah bekas
galian yang ada di sekitar rumah mereka, mereka tidak sabar dengan air yang
keluar terlalu kecil, mereka ingin segera semuanya diperbaiki. Kualitas,
kuantitas, dan kontunuitas; begitu dulu dosen saya menyebutnya. Tiga kata yang
menjadi tujuan utama dari pelayanan penyediaan air bersih, air bersih yang
keluar lancar, banyak, dan terus menerus. Pengerjaan proyek yang baik adalah
langkah awal untuk mewujudkan tujuan itu.
Proyek pemasangan pipa air bersih di Palya
dilakukan dengan sistem kerjasama antara PT. Palyja dan pihak ke-3, yakni
kontraktor yang terikat dengan frame
contract. Kontraktor tersebut nanti akan bekerja memasang material-material
perpipaan yang telah disediakan Palyja. Alurnya adalah adanya permintaan
pelaksanaan proyek dari unit kerja tertentu kepada tim proyek yang didasari
oleh kajian dan studi yang telah dilakukan sebelumnya terkait kebutuhan air dan
kondisi actual pelayanan air suatu daerah pelayanan. Permintaan ini kemudian
diproses untuk dibuat desain proyek beserta perhitungannya. Setelah desain
disetujui maka ditunjuklah kontraktor pelaksana, dilanjutkan dengan pengurusan
izin kepada pihak-pihak terkait, yakni Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
(BPTSP), Bina Marga atau Kementrian Pekerjaan Umum tergantung kepada rencana
lokasi pelaksanaan proyek tersebut. Paralel dengan hal itu pengadaan material
telah diproses di unit kerja bagian pengurusan logistik Palyja yang disesuaikan
dengan desain yang telah dibuat. Setelah perizinan dan material diperoleh,
dilanjutkan dengan persiapan proyek oleh kontraktor yang disupervisi oleh tim
proyek Palyja, begitu seterusnya hingga proyek selesai dan air bisa dinikmati
pelanggan.

Pelaksanaan
Proyek Pemasangan Pipa Jl. Jati Baru –Tanah Abang
Sumber: Dokumentasi
Network Construction Department
Akan tetapi, seringkali di tengah pengerjaan
terdapat kendala-kendala yang menyebabkan proyek tertunda, salah satunya adalah
ketidaktersediaan material. Hal ini terjadi karena material yang telah
disediakan berdasarkan desain tidak sesuai dengan yang harusnya terpasang di
lapangan, sehingga tak jarang suatu proyek terpaksa harus berhenti dalam kurun
waktu yang cukup lama, menunggu material yang sesuai bisa diperoleh. Pengadaan
material ini bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Lantas akan timbul
pertanyaan, “Apakah desain Palyja tidak akurat? Apakah pada desainernya kurang
terampil? Apakah pihak penyedia material lamban?” Sayang sekali kawan, kita
tidak bisa sebegitu mudahnya mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Perlu
diketahui pengerjaan proyek pemasangan kontruksi pipa tidak bisa disamakan
dengan konstruksi lainnya, karena pemasangan pipa air bersih bukanlah pekerjaan
di atas permukaan tanah yang jelas terlihat dan bisa diprediksi kebutuhannya.
Pipa-pipa air bersih di Jakarta adalah pipa-pipa yang sudah ada sejak
berpuluh-puluh tahun lalu, jaringannya sudah malang melintang bahkan sejak
zaman penjajahan, maka perubahan terhadapnya sudah banyak terjadi, seiring
dengan perkembangan kota yang begitu pesat. Lalu, yang bisa menjadi fokus
adalah memangkas waktu tunggu pengadaan material yang cukup lama tersebut.
Penanggung jawab
suatu proyek adalah Project Manager atau
yang biasa disebut PM. Tugasnya adalah mengendalikan jalannya proyek agar bisa
selesai tepat waktu dengan target kualitas dan kuantitas yang telah ditetapkan.
Idealnya, PM bisa bergerak bebas mengatasi setiap permasalahan dengan cara
apapun selama kualitas dan kuantitas tidak dikorbankan. Sebelumnya saya telah
menyebutkan kendala yang sering dihadapi oleh tim proyek, yaitu hanya bisa
menunggu untuk pengadaan material ketika material yang ada tidak sesuai dengan
yang harus dipasang di lapangan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita
bersama, PM pun hanya bisa menunggu. Menurut Deava Teknik dalam tulisannya yang
berjudul Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Project Manager pada http://bukuklik.blogspot.co.id yang diunggah tahun 2014 lalu menyebutkan, bahwa Tugas, Wewenang dan
Tanggung Jawab Project Manager,
yaitu:
- Membuat
rencana kerja dan anggaran konstruksi
- Mengendalikan
seluruh kegiatan konstruksi
- Melakukan
koordinasi dengan semua pihak terkait
- Membangun
komunikasi internal dan eksternal
- Menetapkan
kebutuhan sumber daya
- Menentukan
alternatif mencapai target
- Menyetujui
rencana dan metode kerja
- Menunjuk
pemasok dan subkontraktor
- Tercapainya
sasaran biaya, mutu,waktu, k3 dan lingkungan
- Efisiensi
dan efektifitas penggunaan sumber daya
- Terkoordinasinya
semua pihak terkait
- Kepuasan pelanggan
Akan lebih baik seandainya PM Palyja bisa
memiliki wewenang seperti yang tersebut di atas, sehingga jika material yang
menjadi kendala sulit diperoleh PM bisa memerintahkan untuk mencari alternatif
penyedia selama kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan
standard yang ada.
Alasan Palyja menetapkan setiap material
perpipaan yang dipakai harus bersumber dari pengadaan pihak Palyja adalah demi
menjamin kualitas material tersebut sesuai dengan standard kualitas yang sudah
ditetapkan Palyja. Keputusan ini tentunya kembali lagi demi kepuasan pelanggan.
Material yang baik akan menghantarkan air yang baik, tidak terganggu
kualitasnya dengan daya hantar yang baik pula. Akan tetapi, jika dalam
pelaksanaannya mimpi memberikan kualitas air yang baik ini mengorbankan mimpi
membuat pelanggan tidak menunggu tentunya menjadi cacat dalam sebuah
kesempurnaan harapan. Lantas, akan ada pertanyaan, “Apakah dengan pengadaan
material yang menjadi kendala ini dilakukan secara mandiri akan mempengaruhi
biaya? Bukankah bertentangan dengan prinsip efisiensi?” Kawan, jangan paksa
saya menjabarkan ini dengan matematika. Tak perlulah rasanya kita menuliskan
angka-angka rupiah dalam tulisan ini, nanti tulisan ini akan terasa seperti
kuliah matematika yang menerangkan ilmu aljabar, penuh rumus berderet-deret.
Logikanya adalah, jika permasalahan material ini teratasi, maka durasi proyek
bisa dipangkas, air pun segera mengalir, rupiah segera bisa terserap, kita
terhindar dari caci maki, keuntungan perusahaan berlipat-lipat, semua senang.
Akan tetapi, kita bukan bicara soal
keuntungan di sini. Efisien tak harus selalu soal uang. Kita bernyanyi dengan
lirik pelayanan, ketika kepuasan pelanggan yang menjadi tujuan itu terwujud
keuntungan secara rupiah adalah bonus. Ketika wajah senyum sapa ada, ketika
ibu-ibu tak perlu lagi meneriaki anak-anak mereka untuk segera mandi karena
khawatir air akan segera raib, ketika hajat alami pun waktu pembuangannya tak
harus mengikuti jadwal ketersediaan air, ketika orang-orang bisa berwudhu
dengan tenang, ketika tak lagi para ayah harus direpotkan dengan membawa sepeda
motor mereka untuk dicuci di kali, ketika saya dan tim proyek lainnya bisa
makan di warung tanpa diserobot rentetan pertanyaan, ketika kualitas,
kuantitas, dan kontinuitas air tak lagi hanya menjadi ceramah para dosen;
ketika saya, Anda, dan kita semua bersinergi bersama demi air itulah efisiensi.
Jangan buat mereka lelah menunggu. Let’s
make it happen together!