Monday, June 28, 2021

When "Hi"' Meets "Goodbye"

Agak ragu ya memulai mengetik.
Dalam hati gue berpikir, masih pantes gak sih di usia 32 tahun gue masih bercerita tentang patah hati?
Tapi mungkin bisa lah ya, paling gak untuk melihat cara pandang gue saat ini.

Pagi, gue mendapat sebuah pesan singkat yang membuat gue berkaca pada diri gue tentang apa yang telah terjadi selama 11, 7, dan 6 tahun terakhir.
Gue jarang sekali menjelaskan diri kepada orang lain. Gue terbiasa membiarkan orang menilai gue sebagaimana yang mereka mau, entah itu benar atau salah. Karena toh benar salah juga masalah persepsi.
Tapi, akan sangat berbeda jika gue berhadapan dengan orang yang sungguh-sungguh ingin mengenal gue.
I tell them everything.

Gue senang menjelaskan tentang cara pikir gue tentang sesuatu, gue senang berbagi perasaan dengan orang-orang terbatas ini, gue senang mendeskripsikan mereka dan membicarakannya langsung dengan mereka, gue senang mengetahui mereka mengenal gue dengan terang baik dan buruknya, gue senang mereka tetap mau mendengarkan penjelasan gue tentang hal-hal yang perlu mereka dengar penjelasannya karena memang sudah cukup jelas buat mereka, gue senang karena gue tahu bahwa melakukan itu bersama adalah momen kami berbagi opini dan semakin memperkuat semua hal yang sudah kami pahami satu sama lain.

Selanjutnya yang gue tahu adalah bahwa segala sesuatu punya waktunya, termasuk orang-orang ini.
Mereka datang dan pergi, bener-bener silih berganti.
Dekat, kemudian hilang, beberapa waktu kembali tapi gak pernah erat lagi.
Maka dari setiap mereka gue punya memori dalam masing-masing lini waktunya.
Mudah-mudahan dari itu gue belajar.

Seperti tadi di paragraf kedua, gue dituliskan untuk kembali berurusan dengan hal yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Maka 10 menit ke depan gue akan menyaksikan cara gue berhadapan dengan lawan yang sama.
Kayaknya sih gue gak akan memakai teknik yang sama. Sudah tidak lagi relevan.
Jika sebelumnya gue bisa punya 300 halaman teks yang akan disampaikan namun tetap masih merasa tertahan dan belum menyampaikan semuanya, kali ini gue memilih beberapa kalimat untuk merasa lega.
Usia merubah segalanya.
Mungkin gak sepenuhnya. Mungkin gue gak lagi seperti dulu sepenuh hati meresapi setiap detail emosi yang ada, seperti tak lagi ambil pusing soal rasa. Mungkin energinya yang gak lagi ada.

Then, writing this heals me.
I sent "Hi" before and i got "goodbye" as the reply.
I cried, took a deep breath
I'm okay now


Saturday, February 27, 2021

Candu

Semakin bertambahnya usia, semakin gue menyadari bahwa kebutuhan untuk mengutarakan dan didengarkan itu besar. Sayangnya kebutuhan itu berbanding terbalik dengan ketersediaan teman dalam waktu yang tepat. Hampir setiap malam di penghujung hari, pilihannya hanyalah berbicara pada diri sendiri.
Kali ini gue memilih cara lama. Menulis.

Sedari kecil gue punya kebiasaan mengimajinasikan adegan-adegan di dalam pikiran, entah itu kejadian di masa lalu ataupun kemungkinan-kemungkinan masa depan. Banyak di antaranya merupakan alternatif dari pilihan yang sudah dan tidak diambil. Bukan penyesalan, tapi sebuah cara untuk menuntaskan penasaran di pikiran. 

Ada suatu tema yang lama berpusar di otak. Melompat-lompat dari satu kemungkinan satu ke kemungkinan lainnya. Liar.
Buah dari satu pertanyaan yang belum terjawab terang. Mungkin memang lebih baik menjadi tidak terjawab. Sepertinya gue gak siap.
Namun, mengulang-ngulang cerita tersebut di dalam hati terasa seperti candu. Menenangkan.

Tentang merasa berarti kala itu belum tergantikan lagi. Gue sudah selesai dengan penasarannya, tapi kebutuhannya masih ada. 

Friday, January 18, 2019

Nah. It ain't jealousy. Only because reminds me of how hurt I was

Satu lagi kabar yang seharusnya gembira datang. Dengan sudah sangat terprediksi dan dugaan yang jernih sebelumnya, namun kedatangannya tetap saja menimbulkan rasa tak nyaman. Kembali memunculkan prasangka buruk yang telah lama lulus uji karena berhasil terkubur, meski dengan upaya segenap tenaga. Seperti mendengar dengan jelas banyak orang yang akan membicarakannya dengan bumbu lengkap sempurna; pembicaraan yang tidak akan hanya tentang si bahagia namun lebih tajam melirik dia, si sendiri. Seperti biasa.

Ingin rasanya memuntahkan segalanya dengan terang, walau tak lagi berharap belas kasihan seperti waktu belia.

Ini pernah terjadi sebelumnya.

Pernah dalam terang mengharap kasihan dari dunia, berdarah-darah bercerita pada semua tentang luka. Konyol. Lantaran masih muda.
Pada akhirnya tetap tak membawa hasil, karena dunia tak akan mengasihi lemah.

Ini harusnya menjadi pelajaran.

Pernah diam menjauh berlindung bahkan dari teman terbaik yang sekiranya tak peka. Hasilnya terasa lebih baik, walau satu luka masih menjadi pekerjaan rumah untuk tak terinfeksi dengan drama.

Ini kembali ada.
Tenang. Tarik napas panjang. Pergi jika memang perlu, tanpa lebay mengharu biru.


Trus ini apa?


Terserahlah disebut apa. Ini terasa seperti efek morfin. Atau bolehlah endorfin.
Menenangkan.
Selain aduan pada Sang Penguasa yang mestinya memang tak perlu diutarakan.

Demi menghindari kesalahpahaman, baca kembali judulnya baik-baik.
Cermati, pahami. Jangan gunjingi!

Thursday, July 20, 2017

Istri itu harus nurut sama suami, sama halnya kayak anak yang harus nurut sama orang tua. Pun aturannya sama, yang berhak dimanuti itu ya selama ajarannya baik dan tidak menyimpang dari ketentuan Islam.

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya menimbulkan sikap patuh itu?

Orang tua memproses pendidikan terhadap anaknya sedari anak tersebut belumlah berwujud, masih berupa harapan dalam doa-doa yang dipanjatkan. Sang anak kemudian lahir dengan keterbatasan kemampuan fisik, rasa dan pikiran. Pelan-pelan orang tua dengan perannya masing-masing sebagai ayah ataupun ibu memberikan sentuhan kasih sayang, doa tanpa henti yang dari situlah kemampuan fisik, mental, dan daya pikir sang anak terbentuk lalu berkembang. Bertahun-tahun dengan tanpa menyebutkan ataupun menghitung pengorbanan, orang tua ikhlas menempa, memperkenalkan hitam-putih, abu-abu, warna-warni dunia; seikhlas mereka menerima pada akhirnya sang anak akan memiliki warnanya sendiri.

Dalam cerita ini sang anak mungkin seorang perempuan yang pada masanya harus beralih patuh pada seorang baru. Dalam cerita lainnya sang anak bisa jadi adalah seorang laki-laki yang pada masanya akan memperoleh tanggung jawab yang sama seperti orang tua, menjadi panutan bahkan sebelum ia memiliki anak; maka ia harus menyerap dengan sigap dan tepat setiap ajaran yang diterimanya.

Menjadi guru tak pernah sama artinya dengan menggurui, maka agar dipatuhi seorang haruslah hadir dengan contoh. Orang tua yang kasar dan keras hanya akan mendapati anaknya menjadi penakut, bahkan bisa jadi setelahnya menjadi sangat pembangkang. Orang tua harus hadir dengan mendengar agar si anak paham bahwa suatu saat ia pun harus begitu, orang tua harus hadir dengan pelukan karena akan menyadarkan sang anak tentang kasih sayang, orang tua haruslah mempunyai beraneka ragam jawaban karena anak adalah makhluk yang tak pernah berhenti bertanya, orang tua harus hadir dalam maaf karena di tiap kesalahan sang anak ia butuh tempat untuk jujur mengaku, orang tua haruslah belajar karena ia lah sang pengajar.

Lalu si anak entah itu perempuan ataupun laki-laki kemudian saling dipertemukan dengan seorang baru untuk mengikuti langkah yang sama dengan orang tua. Anak perempuan ketika beralih peran menjadi istri, maka ia adalah 'barang jadi' dengan label baru. Anak laki-laki yang kemudian siap mengambil tanggung jawab menjadi suami juga sama sekali baru dengan tugas-tugasnya. "Baru" adalah kata kuncinya di sini, maka setiap hal baru haruslah dipelajari. Harus membekali diri.
Seorang istri harus mengerti bahwa kepatuhannya pada orang tua yang telah tumbuh seiring usianya harus memiliki kematangan yang sama dengan patuhnya kepada suami yang jelas-jelas baru saja dikenalnya. Seorang suami tentu harus memahami bahwa kasih sayang yang sepanjang umurnya telah dipupuk kepada orang tua harus dituai dengan sama manisnya oleh istri yang nanti akan dididiknya.

He can not be bossy, because he isn't. He must lead, because he is a leader.
He has to realise that a girl he call wife is a human being with her own thoughts, her own feelings, her own will

She can not be spoil, nor selfish just because she is too much independent to stand on her own. She has to understand that a guy she loves to be husband is a man who will be burdened by anything she does like her father used to be


Thursday, April 13, 2017

Another Meaning of "Happily Ever After"

Salah satu subjek yang sering ada di blog ini kembali memberi inspirasi. Pernah menyita waktu, pikiran dan emosi yang nyaris membuat gue lupa arti kebaikan dan ketulusan. Kali ini ia kembali hadir sebagai si baik hati seperti karakter sejatinya.

Baik, gue selalu menilainya begitu. Tak peduli seberat apapun langkah kita menemukan kembali jalan itu. Even when he keeps asking me why. Buat gue sih baik buruknya hal yang pernah terjadi di antara kita berdua hanyalah bagian dari kebodohan usia dan emosi muda, pahit manisnya tetaplah bagian dari pembentukan karakter kita saat ini. Walaupun tak bisa dipungkiri kita pernah menyerah pada stupid judgment, sibuk mencari-cari alasan penyalahan dan pembenaran. Pada akhirnya pribadi yang terbentuk merupakan akibat dari saling mempengaruhi satu sama lain. Pun jalannya gak selalu mulus, beberapa saat saling melupakan pelajaran, menjadi dungu kembali, butuh waktu untuk bersama-sama kembali sampai di jalur damai.

Kita saling menasehati, yang sebelumnya tak pernah bisa terjadi bahkan ketika mengakui saling mengasihi. Berbagai masukan itu terasa nyata alih-alih pengguruan. Gue bahkan berani mengadukan hal-hal sensitif yang selama ini gue simpan karena gue tau dia hanya akan menganggapnya sebagai kelemahan. I'm not afraid of his judgement anymore.
Mungkin karena kita telah benar-benar menemukan kedamaian masing-masing, bahagia dengan cara sendiri, walaupun kadang cemburu tetap ada atas bahagianya yang terasa lebih. Well, bisikan setan agar kita tak pernah berbaikan.

Bahagia bisa berada di titik ini, setelah tahun-tahun penuh proses. Setelah kehilangan demi kehilangan menghantarkan kita untuk kembali menemukan. Bahwa bersama bukanlah takdir kita dan tak perlu marah atas hal itu. Kita pun saat ini bersama dengan saling membahagiakan.

We (might) in love, we argued, then we fought
still in the name of love
We've been hate to see each other and now we're friends again

Alhamdulillah..
We finally found another meaning of our "happily ever after"

Tuesday, March 07, 2017

Mereka Lelah Menunggu

Hampir empat tahun sudah saya bergabung dengan tim proyek Palyja. Menjadi bagian dari tim ini berarti mendapati salah satu mimpi Alhamdulillaah telah terwujud. Sejak kecil saya bermimpi memiliki pekerjaan yang aktif, penuh dinamika, dan tantangan. Mendekati usia dewasa mimpi itu semakin spesifik, berandai-andai tergabung dalam satu tim impian dengan misi menuntaskan suatu proyek yang setiap personilnya memiliki kompetensi berbeda, namun cekatan bekerja sama menghadapi tantangan-tantangan yang ada.

1 Juli 2013 hari pertama saya mengenal tim ini, tim konstruksi. Berisikan orang-orang yang hampir seluruhnya pria, senior, telah berpuluh-puluh tahun merasakan panas dingin dunia perproyekan. Hanya ada dua orang wanita di tim yang berjumlah total 30 orang itu, salah satunya saya. Aura ketangguhan yang benar-benar terasa.

Menjadi bagian dari tim proyek berarti merasakan semua pengalaman yang tadinya hanya berupa mimpi. Bekerja di lapangan, petantang-petenteng dengan sepatu safety, rompi bersinar, helm proyek, kemana-mana membawa gambar teknik, menghirup udara berdebu, asap knalpot di jalanan, berjemur di bawah matahari, hitam; bagi anak baru lulusan teknik ini tak hanya pekerjaan, tapi kebanggaan. Pongah sekali. Bekerja di lapangan tak semata tentang hal itu. Berada di luar kantor artinya bersinggungan langsung dengan masyarakat, melihat dengan mata kepala sendiri kondisi aktual, ikut mendengarkan keluhan-keluhan dari para pelanggan yang notabene menduduki posisi puncak dari alur pelayanan ini. PT. PAM Lyonnaise Jaya (Palya) adalah perusahaan penyedia pelayanan air bersih, maka fokus utamanya adalah kepuasan pelanggan sebagaimana perusahaan-perusahaan lainnya yang bergerak di bidang jasa.

Menjalani hari-hari di tim ini kemudian membuat saya menyadari bahwa pekerjaan proyek di kota metropolitan seperti Jakarta tentunya berbeda dengan proyek di kota-kota atau daerah lainnya. Jakarta adalah kota yang heterogen, menantang dari sisi teknis dan non teknis, diisi penuh sesak oleh manusia-manusia dengan berjuta karakter, berbagai latar belakang, keragaman lingkungan, kesemrawutan utilitas dan lalu lintas yang menuntut kematangan ekstra dari setiap pihak yang terlibat agar pekerjaan bisa berjalan lancar. Harus pintar menangani setiap keluhan, teguran lisan langsung, tulisan di berbagai media, bahkan kebal terhadap caci maki; tak boleh menjadikannya sebagai penghambat, karena memang semua hal itu adalah bagian dari pelayanan. Pelanggan tidak akan mau dan memang tak perlu tahu tentang kendala-kendala yang kita hadapi, yang mereka mau adalah air selalu tersedia setiap kali mereka menyalakan keran.

“Ini kerjaan kelarnya kapan ya, Neng?”, seorang ibu sambil menyuapi anaknya di gendongan datang bertanya.
“Kita rencanakan kurang lebih tiga bulan bu”
“Lama juge ye. Tapi entar itu jalanan dibenerin lagi gak, Neng? Kemaren juga ada tuh yang udah digali, tau-tau ditinggal. Mana musim ujan pan ye, jadi becek kemana-mana, Neng”, masih sambil menepok-nepok anaknya.
Keluhan-keluhan seperti itu biasa kami dengar, ketika di lapangan, pada saat sosialisasi yang dilakukan sebelum proyek dimulai, bahkan saat sedang istirahat makan di warung. Sering pula saya mendengar cerita-cerita horror dari para senior, tentang mereka yang ditawan warga karena air mati pada saat proyek berlangsung, diancam senjata tajam, dipalak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan lembaga-lembaga tertentu, dan cerita lainnya yang kadang tentu membuat gentar. Kendati seram, namun itulah faktanya: banyak keluhan terjadi yang berarti ada pelayanan yang belum maksimal.

Sosialisasi Pelanggan sebelum Proyek Rehabilitasi Jaringan dan Pipa Dinas Jl. Kampung Gusti – Komplek TPI Kelurahan Penjagalan Utara
Sumber: Dokumentasi Network Construction Department

Lalu, dari pertanyaan-pertanyaan serupa itu saya bisa tahu bahwa pelanggan tak ingin menunggu. Taiichi Ohno, seorang Chief Engineer yang dikenal sebagai bapak dari Sistem produksi Toyota juga menyebutkan bahwa menunggu adalah bagian dari pemborosan, tidak efisien. Pelanggan jengah dengan tanah-tanah bekas galian yang ada di sekitar rumah mereka, mereka tidak sabar dengan air yang keluar terlalu kecil, mereka ingin segera semuanya diperbaiki. Kualitas, kuantitas, dan kontunuitas; begitu dulu dosen saya menyebutnya. Tiga kata yang menjadi tujuan utama dari pelayanan penyediaan air bersih, air bersih yang keluar lancar, banyak, dan terus menerus. Pengerjaan proyek yang baik adalah langkah awal untuk mewujudkan tujuan itu.

Proyek pemasangan pipa air bersih di Palya dilakukan dengan sistem kerjasama antara PT. Palyja dan pihak ke-3, yakni kontraktor yang terikat dengan frame contract. Kontraktor tersebut nanti akan bekerja memasang material-material perpipaan yang telah disediakan Palyja. Alurnya adalah adanya permintaan pelaksanaan proyek dari unit kerja tertentu kepada tim proyek yang didasari oleh kajian dan studi yang telah dilakukan sebelumnya terkait kebutuhan air dan kondisi actual pelayanan air suatu daerah pelayanan. Permintaan ini kemudian diproses untuk dibuat desain proyek beserta perhitungannya. Setelah desain disetujui maka ditunjuklah kontraktor pelaksana, dilanjutkan dengan pengurusan izin kepada pihak-pihak terkait, yakni Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP), Bina Marga atau Kementrian Pekerjaan Umum tergantung kepada rencana lokasi pelaksanaan proyek tersebut. Paralel dengan hal itu pengadaan material telah diproses di unit kerja bagian pengurusan logistik Palyja yang disesuaikan dengan desain yang telah dibuat. Setelah perizinan dan material diperoleh, dilanjutkan dengan persiapan proyek oleh kontraktor yang disupervisi oleh tim proyek Palyja, begitu seterusnya hingga proyek selesai dan air bisa dinikmati pelanggan.

Pelaksanaan Proyek Pemasangan Pipa Jl. Jati Baru –Tanah Abang
Sumber: Dokumentasi Network Construction Department

Akan tetapi, seringkali di tengah pengerjaan terdapat kendala-kendala yang menyebabkan proyek tertunda, salah satunya adalah ketidaktersediaan material. Hal ini terjadi karena material yang telah disediakan berdasarkan desain tidak sesuai dengan yang harusnya terpasang di lapangan, sehingga tak jarang suatu proyek terpaksa harus berhenti dalam kurun waktu yang cukup lama, menunggu material yang sesuai bisa diperoleh. Pengadaan material ini bahkan bisa memakan waktu berbulan-bulan. Lantas akan timbul pertanyaan, “Apakah desain Palyja tidak akurat? Apakah pada desainernya kurang terampil? Apakah pihak penyedia material lamban?” Sayang sekali kawan, kita tidak bisa sebegitu mudahnya mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Perlu diketahui pengerjaan proyek pemasangan kontruksi pipa tidak bisa disamakan dengan konstruksi lainnya, karena pemasangan pipa air bersih bukanlah pekerjaan di atas permukaan tanah yang jelas terlihat dan bisa diprediksi kebutuhannya. Pipa-pipa air bersih di Jakarta adalah pipa-pipa yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, jaringannya sudah malang melintang bahkan sejak zaman penjajahan, maka perubahan terhadapnya sudah banyak terjadi, seiring dengan perkembangan kota yang begitu pesat. Lalu, yang bisa menjadi fokus adalah memangkas waktu tunggu pengadaan material yang cukup lama tersebut.

Penanggung jawab suatu proyek adalah Project Manager atau yang biasa disebut PM. Tugasnya adalah mengendalikan jalannya proyek agar bisa selesai tepat waktu dengan target kualitas dan kuantitas yang telah ditetapkan. Idealnya, PM bisa bergerak bebas mengatasi setiap permasalahan dengan cara apapun selama kualitas dan kuantitas tidak dikorbankan. Sebelumnya saya telah menyebutkan kendala yang sering dihadapi oleh tim proyek, yaitu hanya bisa menunggu untuk pengadaan material ketika material yang ada tidak sesuai dengan yang harus dipasang di lapangan. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama, PM pun hanya bisa menunggu. Menurut Deava Teknik dalam tulisannya yang berjudul Uraian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Project Manager pada http://bukuklik.blogspot.co.id yang diunggah tahun 2014 lalu menyebutkan, bahwa Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Project Manager, yaitu:
  • Membuat rencana kerja dan anggaran konstruksi
  • Mengendalikan seluruh kegiatan konstruksi
  • Melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait
  • Membangun komunikasi internal dan eksternal
  • Menetapkan kebutuhan sumber daya
  • Menentukan alternatif mencapai target
  • Menyetujui rencana dan metode kerja
  • Menunjuk pemasok dan subkontraktor
  • Tercapainya sasaran biaya, mutu,waktu, k3 dan lingkungan
  • Efisiensi dan efektifitas penggunaan sumber daya
  • Terkoordinasinya semua pihak terkait
  • Kepuasan pelanggan
Akan lebih baik seandainya PM Palyja bisa memiliki wewenang seperti yang tersebut di atas, sehingga jika material yang menjadi kendala sulit diperoleh PM bisa memerintahkan untuk mencari alternatif penyedia selama kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan standard yang ada.

Alasan Palyja menetapkan setiap material perpipaan yang dipakai harus bersumber dari pengadaan pihak Palyja adalah demi menjamin kualitas material tersebut sesuai dengan standard kualitas yang sudah ditetapkan Palyja. Keputusan ini tentunya kembali lagi demi kepuasan pelanggan. Material yang baik akan menghantarkan air yang baik, tidak terganggu kualitasnya dengan daya hantar yang baik pula. Akan tetapi, jika dalam pelaksanaannya mimpi memberikan kualitas air yang baik ini mengorbankan mimpi membuat pelanggan tidak menunggu tentunya menjadi cacat dalam sebuah kesempurnaan harapan. Lantas, akan ada pertanyaan, “Apakah dengan pengadaan material yang menjadi kendala ini dilakukan secara mandiri akan mempengaruhi biaya? Bukankah bertentangan dengan prinsip efisiensi?” Kawan, jangan paksa saya menjabarkan ini dengan matematika. Tak perlulah rasanya kita menuliskan angka-angka rupiah dalam tulisan ini, nanti tulisan ini akan terasa seperti kuliah matematika yang menerangkan ilmu aljabar, penuh rumus berderet-deret. Logikanya adalah, jika permasalahan material ini teratasi, maka durasi proyek bisa dipangkas, air pun segera mengalir, rupiah segera bisa terserap, kita terhindar dari caci maki, keuntungan perusahaan berlipat-lipat, semua senang.

Akan tetapi, kita bukan bicara soal keuntungan di sini. Efisien tak harus selalu soal uang. Kita bernyanyi dengan lirik pelayanan, ketika kepuasan pelanggan yang menjadi tujuan itu terwujud keuntungan secara rupiah adalah bonus. Ketika wajah senyum sapa ada, ketika ibu-ibu tak perlu lagi meneriaki anak-anak mereka untuk segera mandi karena khawatir air akan segera raib, ketika hajat alami pun waktu pembuangannya tak harus mengikuti jadwal ketersediaan air, ketika orang-orang bisa berwudhu dengan tenang, ketika tak lagi para ayah harus direpotkan dengan membawa sepeda motor mereka untuk dicuci di kali, ketika saya dan tim proyek lainnya bisa makan di warung tanpa diserobot rentetan pertanyaan, ketika kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air tak lagi hanya menjadi ceramah para dosen; ketika saya, Anda, dan kita semua bersinergi bersama demi air itulah efisiensi. Jangan buat mereka lelah menunggu. Let’s make it happen together!

Tuesday, February 21, 2017

Dream Guy

Oh, i have a lot of things to write!

Dipenuhi semangat 'to get over', beberapa hari ini gue banyak berdiskusi dengan para teman baik tentang diri gue. Menakjubkan mengetahui mereka ternyata memiliki pandangan dengan rupa-rupa warna, about my dream guy.

Tanpa bisa melepas senyum geli dari wajah, gue di pojok ruangan mengetik dengan bayangan kalimat-kalimat konyol mereka di pikiran. Menarik, ternyata penilaian itu telah dikotak-kotakkan yang padahal gue sendiri tidak pernah membahas ini secara serius sebelumnya. I am extrovert, tapi jika tentang perasaan gue selama ini lebih memilih diam walaupun si overthinking pastinya tidak pernah bisa melarang otaknya membuat dialog-dialog dengan skenario berbumbu kekhawatiran.

"Ah, susah! Yang lo mau itu high level"

Penilaian pertama dan WOW! Hahaha. Gue kehabisan ekspresi menanggapi ini. Haruskah tersanjung? Kesal? Atau justru khawatir? Selama masih sibuk berpikir tentang tanggapan yang tepat, perasaan spontan yang terasa adalah geli. Then i start to realize about something. Pantas saja selama ini si teman-teman baik ini tidak pernah ada yang bertanya jauh. Segan. Di mata mereka gue sedikit ekslusif.
Lalu, apa yang dimaksud dengan high level itu? Bukan, ini bukan tentang kekayaan, latar belakang keluarga, jabatan, pekerjaan, gaji tinggi, mobil ataupun hal-hal luxury lainnya. Ini tentang karakter yang tidak hanya memikirkan akhirat, namun juga harus modern. Huge. It's such a burden.
Si overthinking bertanya mulai sibuk bertanya kembali pada diri sendiri, apa iya begitu? Jika benar, apa gue pantes punya target setinggi itu?
Tapi paling tidak satu hal benar, yang menjadi poin adalah karakter bukan hal lainnya.

"Kalo lo itu kayaknya mesti nyari di pesantren deh, May"

And just for record, yang ngomong begini itu seorang teman yang berbeda keyakinan dengan gue. Ini setali dengan ucapan spontan dari teman lainnya beberapa tahun yang lalu, ketika beberapa orang ini berisik berdebat ringan, "Si Maya tuh maunya yang kayak gimana sih?"...."Kalo Maya mah nyarinya yang sholeh". Aduh! Ini bisa dapet kesimpulan dari mana lagi coba? Gue itu anaknya bandel, senengnya maen kelayapan, pecicilan, jauh dari baik. Gimana ceritanya bisa berharap yang sholeh bisa mau? Hahaha. Lagian kayaknya tahun-tahun itu gue belum pernah bercerita tentang harapan gue akan karakter idaman.

"Gue gak punya temen yang tinggi, kurus gitu May"

Kemudian akhirnya berbicara tentang fisik, yang paling aneh dari semuanya karena gue gak punya kriteria khusus untuk ini.

Dari mana semua pemikiran ini berasal? Gue yang perannya di bagian ini hanya sebagai pendengar cuma bisa senyum-senyum bingung, seperti anak kecil yang baru diajari bahwa lirik yang benar dari lagu Garuda Pancasila itu adalah "....patriot proklamasi..." bukan "prok prok proklamasi" seperti yang telinga baru berkembangnya salah dengar selama ini. Malu, karena menyadari ia dikoreksi dengan sebuah kebenaran.

Jadi, benarkah pemikiran mereka itu adalah sebuah koreksi yang ditunjukkan? Atau mereka berbicara berdasarkan yang mereka lihat dari orang-orang yang pernah deket sama gue? Sepertinya tidak ada satupun di antara para lelaki itu yang typical. Mungkin gue memang tidak terlalu mengenal diri sendiri.

Saturday, February 18, 2017



Menemukan tulisan ini waktu lagi iseng selancaran di google. It is so deep.

Jarak frekuensi waktunya agak deket ya dari tulisan terakhir yang juga membahas cinta. Kadang beberapa orang menganggap mengangkat cinta sebagai tema terlalu picisan, lebay dan menggelikan; gue termasuk salah satunya. Lantas, kenapa tiba-tiba berubah? Mari kawan, kita mendengarkan sedikit cerita.

Cinta itu fitrah setiap manusia. Ketika masih kecil kita mengenal cinta itu hanya pada dua orang, ayah dan ibu, lalu berkembang karena dua orang yang kita cintai tersebut mengajarkan untuk juga mencintai saudara, kerabat, teman, orang-orang sekitar, kaum dhuafa, dan sebagainya. Kita tumbuh berkembang, lalu menyadari ada cinta baru yang tumbuh begitu saja dengan rasa yang sedikit berbeda. Cinta kepada lawan jenis, pun ia berkembang. Awalnya kita mengenal cinta monyet yang setiap kehilangannya hanya akan membuat kita mencari 'monyet-monyet' lainnya. Usia terus bertambah, 'monyet' pun mungkin lelah. Cinta itu menjadi dewasa, lebih dalam, lebih memakan waktu-pikiran-tenaga; maka setiap kehilangannya pun terasa lebih dalam, lebih sulit untuk dihilangkan dan buruknya jika tidak disertai pengendalian sisanya bisa berubah menjadi dendam, kehilangannya pun juga ikut menghilangkan nyawa.

Manusia dewasa sejatinya telah melewati lebih banyak kesakitan dibanding makhluk yang baru hanya kenal cinta ayah-ibu-saudara yang jarang sekali mengecewakan (kecuali untuk kasus-kasus tertentu). Oleh karena itu, sejatinya manusia dewasa punya lebih banyak jurus pengendalian. Tidak seperti si kecil yang hanya tau caranya mengeluarkan air mata, berteriak-teriak, terisak merengek ketika keinginannya tidak dipenuhi. Si kecil hanya tau pengkhianatan cinta dan patah hati jika orang-orang yang mengakui mencintainya menolak membelikan mainan.

Manusia dewasa harusnya telah memahami iman, yang tidak lagi hanya sekedar hafalan yang biasa diteriakkan di depan microphone saat bertugas tampil pada acara didikan shubuh. Manusia dewasa sejatinya telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya penuntun dan lebih dari sekedar percaya bahwa setiap segala sesuatu membawa hikmah.
Manusia dewasa, jauh sangat berhati-hati dalam jatuh cinta.

Maka, jangan heran ketika melihat manusia dewasa justru menangis lama ketika seseorang datang kepadanya membawa cinta. 'Mengobrol' lebih lama dengan Tuhannya bertanya tentang cinta yang datang. Sebaliknya, tersenyum ketika cinta yang pernah diberikan kemudian ditarik kembali secara paksa; meski di antaranya senyum itu diselingi tegukan atas air mata yang tertahan di kerongkongan.

Gue adalah manusia dewasa secara usia. Seluruh cerita tadi bisa jadi sebagian besarnya adalah bagian dari naskah takdir gue. Pernah merasakan kebimbangan yang hanya bisa diungkapkan dengan 'mengobrol' lebih lama dengan Sang Pencipta ketika seorang baik datang menawarkan cinta bersamaan dengan cinta lainnya yang sudah terlanjur ada yang kesepian tidak menemukan teman. Sederhananya, bertepuk sebelah tangan.
Pernah bersikeras menggenggam cinta yang diberikan walau terus menerus menusuk. Seperti anak kecil penurut yang dititipi segenggam serangga untuk dipegangi, serangga itu kemudian menggigit namun si anak kecil tetap menggenggamnya erat. Satu-satunya alasan hanyalah takut kehilangan. Takut kehilangan yang bisa jadi karena rasa sayangnya, namun tidak menutup kemungkinan hanya karena ia tak ingin membuat orang yang menitipkan kecewa.

Seperti kutipan tulisan hasil iseng tadi, manusia dewasa punya kewajiban tahu, paham dan bersikap semestinya.

Thursday, February 09, 2017

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta

Menarik menemukan fakta bahwa menemukan teman baik terkadang begitu mudah. Ia atau mereka bisa saja tiba-tiba hadir saat dibutuhkan tanpa kita sadar bahwa kita belum sempat berharap akan datangnya. Lebih menarik lagi bahwa ternyata teman baik itu datang tanpa diminta dan menawarkan solusi atas setiap permasalahan yang selama ini berkembang dengan luar biasa cepat dalam pikiran kita yang sempit. Menarik ketika mereka mengetahui hal-hal yang ada di depan mata kita sendiri, namun tertutup dari pandangan sepasang mata yang kita lihat setiap hari di cermin.

Teman baik. Adalah sesuatu yang gue temukan hari ini. Ia bergegas datang setelah gue mengakui sebuah rahasia yang selama ini tersimpan rapat. Faktanya, ternyata dia telah melihat sesuatu yang gue anggap rahasia terdalam itu secara terang benderang sejak lama.
Menarik, ternyata gue tidak terlalu mengenali diri sendiri.

Si teman baik ini datang begitu saja, ringan langkah tak banyak bertanya. Menghormati batasan-batasan yang gue tegaskan. Riang saja membahas rasa yang selama ini menurut gue berat. Dia tidak mencoba menjadi guru, tapi mendidik; tidak pula repot berlagak empati meski sesungguhnya mengerti. Gue seneng bisa kembali lagi menertawakan kepedihan. Gue seneng kembali lagi merasakan semangat untuk belajar, untuk menerima bahwa tak semua harapan baik itu berujung cantik, tapi tentu ia akan berujung baik. Gue selalu keras kepala menolak kalah dari setiap ujian. Walaupun bahkan beberapa saat sebelumnya mengaku lemah dan menyerah.

Usia ini menuntun gue belajar jujur, lebih kepada diri sendiri. Maka pengakuan atas sesuatu seringkali mengalir begitu saja dengan kesatria menantang resiko yang siap datang dari setiap pengakuan itu. Yes, i'm in love and i admit it.

I'm in love to a good person. Lalu ini yang membuatnya berat. Setiap kali gelitikan dari kupu-kupu di perut itu membawa ceria, di saat yang nyaris bersamaan rasa takut pun dipaksa keluar. Tapi justru sang penakut inilah yang kemudian membawa gue menuju Tuhan. Selalu mengajakNya berbicara, tentang hati yang benar-benar Ia kuasai.

Allah Sang Maha Pembolak-balik hati

Tidak bermaksud sok religius membawa-bawa Tuhan di tulisan ini. Tapi bukankah Tuhan memang harus selalu ada di setiap tindakan kita? Maka membawa Tuhan bukanlah bentuk kesombongan, sok suci. Memikirkan Tuhan pada setiap rasa yang kita miliki sejatinya adalah sifat natural manusia.

Hari ini gue telah jujur pada diri sendiri, padaNya, pada dia, pada teman baik yang telah ikhlas bergegas hadir.


Berulangkali memencet tombol backspace di handphone, lantas memilih judul untuk tulisan ini seperti kutipan tulisan yang gue jadikan wallpaper di handphone ini.





Wednesday, January 11, 2017

I fall in love for a character, a soul

Mungkin wajah membuatnya menarik, namun sikap lah yang membuat sebuah hati betah. Mata bisa saja bosan terus menerus menatap rupa yang sama, yang mungkin tak selalu indah, yang mungkin tak adil membagi senyum, yang mungkin tak sepenuhnya jujur dalam ekspresi; namun santun yang natural hadir dari hati akan membuat hati lainnya nyaman bersandar


Bagaimana saya jatuh cinta?
Seperti itulah.
Ketika satu karakter yang selalu dewasa membawa senyum dalam sapaannya, yang memberi tahu tanpa menggurui, yang bertanya tanpa harus menyertakan jengah, yang peduli bukan sekedar basa basi, ada.